Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Tumbuh Kembang
  4. /
  5. Teman Khayalan si Kecil, Bahayakah?

   Rubrik : Tumbuh Kembang

Teman Khayalan si Kecil, Bahayakah?

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 5277 Kali

Teman Khayalan si Kecil, Bahayakah?
Teman Khayalan si Kecil, Bahayakah

Mirna mulai khawatir saat putrinya, Bilqis (4), sering bermain dan berbicara sendiri seakan sedang berdialog dengan seseorang. "Awalnya saya pikir itu hanya imajinasinya saat bermain. Namun saya mulai khawatir saat dia menangis, mengadukan ada temannya yang nakal dan suka menarik-narik rambutnya. 

Ia sering menyebut tentang Luna, si gadis cilik berambut pirang yang suka sekali naik turun tangga. Ada juga Bibo, anak laki-laki yang suka bersembunyi dalam guci di ruang tamu, dan banyak lagi teman lainnya. Saya khawatir Bilqis memiliki kelainan psikologis. atau mungkin diganggu makhluk gaib," ungkap ibu rumah tangga asal Bandung ini.

           

Bagian dari Perkembangan

Orangtua tak perlu khawatir berlebihan jika anak memiliki teman khayalan. Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psikolog, pendiri sekaligus Direktur Utama Irma and Co. Child and Family Psychological Services (Rumah Konsultasi Anak, Remaja dan Keluarga), menjelaskan, teman khayalan yang dimiliki anak di usia kanak-kanak dianggap sebagai suatu perkembangan yang wajar.

Seperti halnya Bilqis, anak-anak yang memiliki teman khayalan dapat mendeskripsikan seperti apa sosok imajiner tersebut, baik secara fisik maupun perilakunya. Beberapa anak bahkan menjelaskan secara detail bahwa ia mendengar atau menyentuh teman khayalannya tersebut. Penelitian yang dilakukan Marjorie Taylor dari Fakultas Psikologi University of Oregon dan Stephanie M. Carlson dari Fakultas Psikologi University of Washington menyimpulkan, dua dari tiga anak usia 7 tahun pernah memiliki setidaknya satu teman khayalan.

"Teman khayalan paling sering muncul di rentang usia 3 – 5 tahun. Beberapa anak bahkan masih memiliki teman khayalan sampai usia 7 tahun. Namun memang tidak semua anak mengalami  fase ini," ungkap Irma.Masalahnya, orangtua seringkali memandang bahwa anak benar-benar mempercayai kehadiran teman khayalannya. Anak-anak juga cenderung mempertahankan pendapat kehadiran temannya tersebut. Namun, umumnya mereka sebenarnya menyadari sedang berpura-pura dan dapat membedakan antara kehidupan nyata dan fantasi.

 

Efek Positif dan Negatif

Berdasarkan jurnal psikologi yang diterbitkan British Academy, disebutkan bahwa anak perempuan usia pra sekolah lebih berpeluang memiliki teman imajinasi dibandingkan anak laki-laki seumuran. Selain itu, anak tunggal maupun anak pertama cenderung lebih berpotensi memiliki teman khayalan dibanding anak lain. "Hal ini karena kecenderungan dasar anak perempuan yang perasa dan senang akan aktivitas bercerita, dibandingkan anak laki-laki yang cenderung senang aktvitas gerak motorik," jelas Irma.

Irma mengungkapkan, memiliki teman khayalan berpengaruh pada kesehatan dan perkembangan mental anak. Efeknya bisa negatif, namun sebenarnya banyak juga positifnya.

 

Beragam Penyebab

Karena kasusnya sangat individualistis atau berbeda antara satu anak dengan anak lainnya, penyebab anak memiliki teman khayalan pun beragam. "Pada anak yang normal, memiliki teman khayalan itu sebagai bentuk pengembangan kreativitasnya. Sementara anak dengan kasus trauma tertentu, bisa jadi sedang mencoba mengatasi rasa tidak nyamannya melalui kegiatan bercerita dengan teman khayalan yang ia ciptakan," tutur Irma.

Selain itu, Irma menyebutkan, ada beberapa alasan lain yang menjadi dasar anak dalam menciptakan teman imajinasinya, di antaranya:

 

  1.       Anak kesepian atau  tidak punya teman.

Anak merasa kesepian dan butuh teman bermain atau tempat curhat. Bisa jadi hal itu disebabkan kedua orangtuanya sedang tidak dapat meluangkan waktu untuk bermain dengannya.

  1.       Anak sedang mengembangkan kemampuannya secara alami.

Seperti yang telah diungkapkan di atas, teman khayalan termasuk dalam perkembangan yang cukup wajar ketika anak sedang belajar tentang dunianya.

  1.       Mengalami pengalaman negatif.

Anak-anak yang ditolak oleh lingkungan atau mendapat perlakuan tidak menyenangkan, cenderung lebih menyenangi solitary play dan menjadikan mainan-mainannya sebagai teman-teman yang hidup. Sehingga biasanya anak akan menciptakan tokoh-tokoh tertentu yang ia sukai sebagai teman mainnya.

  1.       Egosentris.

Tahapan berpikir anak balita berada pada fase egosentris, di mana ia memandang segala sesuatu sesuai dengan keinginan dan caranya sendiri sehingga seringkali mengabaikan lingkungan. Ia akan merasa asyik dengan teman yang diciptakannya.

 

 

Bagaimana Menyikapinya?

Irma menyarankan, orangtua dapat mendukung imajinasi anak dengan mencoba menfasilitasi kegiatan bermain dengan teman sebayanya, misalnya dengan boneka atau gambar-gambar. Namun orangtua harus tetap konsisten dalam membuat aturan bermain, jangan sampai keasyikan dalam bermain dengan teman khayalannya membuat ia melupakan kewajibannya dan rutinitas hariannya yang lain. "Anak juga harus didorong untuk tetap mau beraktivitas di luar rumah dan bermain dengan teman-teman nyata di playground.”

Selain itu, penting bagi orangtua untuk terus meningkatkan kualitas hubungan dengan anak. "Coba ikuti saja aktivitas bermain dengan teman ciptaannya tersebut, orangtua dapat bertanya mengenai usia dan karakteristiknya. Mendalami apa yang dimainkan anak akan membuatnya merasa diperhatikan," papar Irma.

Meski terbilang wajar, Irma mengingatkan, orangtua harus mulai khawatir jika anak-anak menghindari interaksi dengan anak-anak lain dan lebih memilih bermain dengan teman khayalannya, bersikap kasar, dan selalu mengambinghitamkan teman khayalannya itu di hadapan orangtua. "Kemungkinan, anak sedang mengalami tekanan psikologis, sehingga mengarahkan rasa tidak nyamannya kepada teman khayalnya," jelas Irma.

Akankah terbawa sampai dewasa? Irma menyebutkan, seiring dengan bertambahnya usia, biasanya tokoh ciptaan anak akan menghilang atau dilupakan dan digantikan dengan teman-teman sebayanya yang nyata.Namun beberapa masih menjaga keberadaan teman khayalan sampai dewasa, atau bahkan baru memunculkan teman khayalannya ketika dewasa.

"Seseorang menghadirkan teman khayalan ketika berusia remaja hingga dewasa sebagai pengalihan dari rasa tidak nyaman atau kesepian yang dialami. Umumnya ketika dalam keadaan tertekan, teman ciptaannya itu akan dihadirkan. Beberapa individu dewasa menciptakan tokoh khayalannya yang berbeda jenis kelamin, namun ada pula yang sejenis. Harus diwaspadai bila keberadaan teman khayalan di usia dewasa menghambat hubungan sosial dan produktivitasnya," jelas Irma.

Nur Fitriyani

 

Sumber: Majalah Ummi, Psikologi Keluarga 11-XXVIII November 2016

Foto ilustrasi : Google

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});