Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
Logo Ummi
  1. Beranda
  2. /
  3. Quran
  4. /
  5. Membaca; Syarat Utama Menjadi Ulama

   Rubrik : Quran

Membaca; Syarat Utama Menjadi Ulama

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 8606 Kali

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama."

 (QS Faathir (35): 28).

 

Islam adalah ilmu pengetahuan. Cukuplah sebagai bukti atas hal ini, bahwa wahyu yang pertama turun kepada Muhammad saw bukan perintah syahadat, bukan pula perintah shalat. Melainkan perintah untuk membaca; Iqra' (Bacalah!). Dan membaca adalah salah satu kunci asasi untuk menyelami bahtera ilmu pengetahuan yang tersebar petunjuknya dalam Al Quran dan dianjurkan Rasulullah saw dalam banyak sekali hadits.

 

Ilmu yang sejati menghantarkan takut kepada Allah

Ayat di atas menerangkan keutamaan ilmu dan ulama. Sekaligus meluruskan definisi dan persepsi yang salah tentang ilmu dan ulama.

Sesungguhnya ilmu yang sejati adalah ilmu yang dapat mengenal Sang Pemberi Ilmu, Allah swt secara mendalam sehingga mampu menghadirkan takut kepada-Nya. Pada gilirannya ilmu tersebut mampu menciptakan ketentraman, kedamaian dan kesejahteraan umat manusia. Berarti mencakup semua disiplin ilmu dan tidak terbatas pada suatu ilmu tertentu. Baik, ilmu syar'i maupun ilmu kauni, atau yang masyarakat luas sering mendikotomikan dengan istilah ilmu agama dan ilmu umum. Sebab, semua ilmu hakekatnya bersumber dari Allah.

Abdullah bin Mas'ud berkata, "Ilmu yang sejati bukanlah diukur karena banyaknya meriwayatkan hadits, melainkan banyak menghadirkan takut" (Tafsir Ibnu Katsir IV/281).

Dan khosy-yah (takut), menurut Said bin Jubair –rahimahullah- adalah "Perisai antara dirimu dan maksiat kepada Allah 'Azza wa Jalla" (Tafsir Ibnu Katsir IV/281).

Sementara Imam Malik –rahimahullah- mengatakan, "Sesungguhnya ilmu yang hakiki bukanlah dlihat dari banyaknya riwayat. Namun, ilmu yang sejati adalah nur (cahaya) yang dijadikan/ditancapkan oleh Allah dalam hati" (Tafsir Ibnu Katsir IV/281).

Saat menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Katsir –rahimahullah- berkomentar, bahwasanya yang takut kepada Allah dengan sebenar-benar takut hanyalah para ulama, yang mengenal Allah (ma'rifatullah) secara mendalam. Sebab, ketika ma'rifat (mengenal) Yang Maha Agung, Yang Maha Kuasa, Yang Disifati dengan sifat-sifat yang sempurna dan nama-nama yang bagus (asmaa'l husna) sangat mendalam dan sempurna, tentu saja pasti rasa khasy-yah (takut) kepada-Nya pun semakin besar dan banyak (Lihat Tafsir Ibnu Katsir IV/281).

 

Definisi ulama

Ibnu 'Abbas ra menafsirkan ulama dengan "orang yang 'alim (mengenal) Allah dari hamba-hamba-Nya, tidak menyekutukan-Nya, menghalalkan apa yang dihalalkan-Nya, mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, menjaga dan yakin bahwa Allah akan menjumpainya dan menghisab/mengaudit amal perbuatannya." (Tafsir Ibnu Katsir IV/281).

Sementara menurut Imam Hasan Al Bashri –rahimahullah – bahwa alim ulama adalah "orang orang yang takut kepada Ar Rahmaan (Tuhan Yang Maha Pemurah) sedang Dia tidak kelihatan (olehnya). Ia senang terhadap apa yang disenangi oleh Allah dan zuhud terhadap apa yang dibenci oleh Allah". Kemudian beliau membaca ayat di atas (Lihat Tafsir Ibnu Katsir IV/281).

Dalam kajian tafsir Ibnu 'Aasyur –rahimahullah- yang dimaksud dengan ulama adalah orang-orang yang 'alim (mengerti dan mengenal) Allah dan syari'at-Nya. Semakin besar ilmunya tentang hal ini, semakin kuat takutnya kepada Allah (Tafsir Ibnu 'Aasyur XXII/158).

Dengan penjelasan di atas, maka seseorang pantas diberi predikat ulama, bukan karena tampilan dan simbol-simbol yang melekat pada dirinya, atau karena gelarnya, melainkan karena komitmen dan konsistensinya terhadap ajaran Allah yang mampu menghadirkan rasa takut kepada-Nya dalam situasi dan kondisi apa pun. Sebab, dewasa ini tidak sedikit orang yang menipu masyarakat dengan simbol dan tampilan, namun sebenarnya ia sendiri sesat dan menyesatkan. Karenanya, jika ada orang yang dijuluki ulama oleh masyarakat, namun akhlak, perilaku, ucapan dan perbuatannya bertentangan dengan ajaran Allah, maka ia "ulama" yang bukan ulama. Ulama dalam pandangan manusia, dan bukan ulama dalam perspektif Al Qur'an.

Penggunaan lafazh "Innamaa" dalam ayat di atas bermakna qashr, yakni menafikan selain ulama untuk takut kepada Allah swt. Berarti orang-orang jahil (bodoh) tidak akan pernah takut kepada-Nya. Merekalah orang-orang musyrik yang disifati sebagai ahli jahiliyah, yakni tidak berilmu. Maka, orang-orang mukmin sebenarnya dipersiapkan untuk menjadi ulama yang selalu takut kepada Allah.

 

Membentuk keluarga ulama

Ayat di atas sesungguhnya juga memberikan pemahaman kepada kita, bahwa derajat dan predikat ulama itu bisa kita raih. Dengan demikian kita dapat membentuk diri kita, keluarga kita dan masyarakat kita menjadi ulama. Hal inilah yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw terhadap keluarga dan masyarakatnya saat itu. Sejarah mencatat, bahwa beliau saw telah sukses mencetak keluarga dan para sahabatnya menjadi ulama sehingga mampu melakukan perubahan dalam peradaban manusia.

Di antara langkah-langkah yang Rasulullah tempuh dalam mencetak keluarga dan para sahabatnya menjadi ulama adalah:

Pertama: beliau membangkitkan perhatian untuk melakukan studi/menuntut ilmu dan penelitian. Beliau mengumpulkan orang-orang yang pandai menulis untuk mencatat wahyu (ayat-ayat Al Qur'an) yang diturunkan kepadanya. Tercatatlah nama-nama pencatat wahyu, seperti Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Tsabit dan lain-lain. Beliau menyeru kaum muslimin untuk belajar membaca dan menulis. Bahkan beliau juga memerintahkan sahabat-sahabatnya belajar bahasa asing. Maka, Zaid bin Tsabit belajar bahasa Suryani dan menguasainya dalam waktu yang relatif singkat, hanya 17 hari.

Kedua; Mentarhib (menyambut gembira dan hangat) orang yang mau menuntut ilmu. Sebab, hal ini memiliki pengaruh yang sangat positif bagi orang yang mau belajar.

Dari Shafwan bin 'Assal Al Muradi ra ia bercerita: Aku menemui Nabi saw yang berada di dalam masjid sedang bertelekan pada selimut berwarna merah miliknya, lalu akau berkata kepadanya: Ya Rasulullah, sesungguhnya aku datang untuk menuntut ilmu. Maka beliau menyambutku dengan bersabda, "Marhaban (Selamat datang) penuntut ilmu! Sesungguhnya orang yang menuntut ilmu dikelilingi malaikat dengan sayap-sayapnya. Kemudian sebagian malaikat itu menaiki sebagian yang lain hingga tiba di langit dunia karena kecintaan mereka pada apa yang ia cari." (HR Ahmad dan Hakim, katanya: hadits ini shahihul isnad).

Ketiga: Beliau memberikan reward (penghargaan) kepada sahabat yang berprestasi, meskipun hanya dengan sanjungan dan pujian. Seperti sanjungan beliau terhadap Abu Musa Al Asy'ari ra yang memiliki suara emas dan bagus dalam membaca Al Qur'an (Lihat Riyadhus Shalihin, hadits no. 1003).

Keempat: Beliau mengajarkan ilmu kepada keluarga dan para sahabatnya secara bertahap (tadarruj). Hal ini terlihat saat beliau mengutus Mu'adz bin Jabal ra ke Yaman, beliau mengajarkan tahapan-tahapan dalam dakwah.

Kelima: Beliau menggunakan berbagai sarana untuk menyampaikan ilmu. Seperti dengan menggambar garis kanan dan kiri setelah menggaris lurus. Lalu menerangkan, bahwa garis lurus itu jalan Allah yang mustaqim (lurus) dan garis di kanan dan kirinya adalah jalan-jalan syetan kemudian beliau membaca ayat 153 dari QS Al An'aam (6). Karenanya, kita juga bisa dengan menyiapkan sarana dan prasarana yang dapat memotivasi keluarga untuk hobi baca dan cinta ilmu.

Di atas semua itu beliau saw selalu menanamkan pada diri keluarga dan sahabatnya dalam melaksanakan semua aktivitas, termasuk mencari ilmu, pentingnya meluruskan niat dan motivasi. Sebab, niat yang ikhlas menciptakan kesungguhan dan keseriusan dan kemudian melahirkan keberkahan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top