Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Ramadhan
  4. /
  5. Hal-hal yang Boleh Dilakukan Ketika Berpuasa

   Rubrik : Ramadhan

Hal-hal yang Boleh Dilakukan Ketika Berpuasa

  Ditulis Oleh Elsis Sumarni Dibaca 20262 Kali

Hal-hal yang Boleh Dilakukan Ketika Berpuasa

Sahabat Ummi, berikut beberapa perkara yang boleh dilakukan oleh orang yang berpuasa, diantaranya:

1. Bersiwak

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika aku tidak takut menyulitkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka bersiwak setiap hendak shalat.” (HR. Bukhari no. 847 dan Muslim no. 252)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mengkhususkan hal itu hanya pada orang yang tidak berpuasa saja. Namun secara umum berlaku untuk orang yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa dan bahkan, bersiwak ini sangat dianjurkan.

2. Masuk waktu fajar dalam keadaan junub (belum mandi)

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bangun pagi ketika fajar, sedangkan beliau dalam keadaan junub setelah bercampur dengan istrinya, lalu beliau mandi setelah terbit fajar dan kemudian berpuasa.

Hal ini berdasarkan hadits: “Dari Aisyah dan Ummu Salamah radliyallaahu ‘anhuma bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mendapati fajar telah terbit dan ketika itu beliau dalam keadaan junub setelah bercampur dengan istrinya. Kemudian beliau mandi dan berpuasa” (HR. Bukhari no. 1825 dan Muslim no. 1109)

3. Berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung (ketika wudhu)

Hal ini karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam biasa berkumur dan memasukkan air ke hidung saat beliau berpuasa. Hanya saja beliau melarang orang yang berpuasa untuk berlebih-lebihan dalam melakukan kedua hal tersebut.

Laqith bin Shabirah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dan bersungguh-sungguhlah kalian dalam ber-istinsyaaq (memasukkan air ke dalam hidung saat berwudlu’) kecuali bila kalian berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 788, Abu Dawud no. 142, Ibnu Abi Syaibah 1/21, Ibnu Majah no. 407, dan Nasa’i dalam Al-Mujtabaa no. 87; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaa’ul-Ghalil no. 935)

 

Baca juga: Mencium dan Memeluk Pasangan Saat Berpuasa, Bagaimana Hukum Fiqihnya?

 

4. Bercumbu dan berciuman bagi suami istri yang sedang berpuasa

Hal ini ditegaskan oleh hadits berikut : “Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mencium dan bercumbu pada saat beliau sedang berpuasa. Namun beliau adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya diantara kalian.” (HR. Bukhari no. 1826 dan Muslim 1106)

Hal itu dimakruhkan bagi orang yang masih muda dan tidak bagi yang sudah tua. Telah diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radliyallaahu ‘anhuma ia berkata: kami pernah bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba seorang pemuda mendekati beliau seraya berkata, ”Wahai Rasulullah, bolehkah aku mencium istriku sedangkan aku dalam kondisi berpuasa?”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ”Tidak boleh”. Kemudian datang seorang yang telah tua seraya berkata, ”Apakah aku boleh mencium (istriku) sedangkan aku dalam kondisi berpuasa?”. Beliau menjawab, ”Boleh”. Abdullah berkata, ”Lalu kami saling berpandangan, kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang sudah tua tersebut mampu untuk menahan nafsunya.” (HR. Ahmad no. 6739, 7054 dan Thabrani dalam Al-Kabiir 11040; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 1606)

5. Tranfusi darah dan suntikan yang tidak dimaksudkan sebagai makanan

6. Berbekam

Pada awalnya berbekam (canduk) termasuk perkara yang membatalkan puasa sebagaimana hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam: “Telah berbuka (batal puasa) orang yang berbekam dan yang dibekam.” (HR. Tirmidzi no. 774; Abu Dawud no. 2367, 2370,2371; Ibnu Majah no. 1679; dan lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/68)

Lalu kemudian hukum ini dimansukh (dihapuskan). Hal ini terlihat dari perbuatan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau berbekam pada saat berpuasa, sebagaimana hadits berikut: Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu anhuma bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berbekam saat beliau dalam keadaan ihram (haji) dan pernah berbekam dalam keadaan berpuasa." (HR. Bukhari no. 1836; lihat Kitab Nasikh Al-Hadits wa Mansukhuhu karya Ibnu Syahin 334-338)

7. Mencicipi makanan

Mencicipi makanan dibolehkan bagi orang yang berpuasa dengan catatan tidak sampai masuk ke tenggorokan (tertelan). Hal tersebut didasarkan atsar dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma: “Tidak ada masalah untuk mencicipi cuka atau yang lainnya selama tidak dimasukkan ke dalam kerongkongannya, sedangkan dia dalam keadaan berpuasa.” (HR. Bukhari dalamFathul-Baari 4/154 secara mu’allaq dan disambung oleh Ibnu Abi Syaibah 2/463; dan Baihaqi 4/261 dengan sanad hasan)

8. Celak, obat tetes mata, dan semisalnya yang dimasukkan ke dalam mata

Memakai celak dan obat tetes mata tidak termasuk perkara yang membatalkan puasa, baik pengaruh rasanya sampai tenggorokan maupun tidak. Pendapat ini dikuatkan (ditarjih) oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah di dalam risalahnya Haqiiqatush-Shiyaam, dan juga oleh muridnya Ibnul-Qayyim dalam Zaadul-Ma’aad.

Imam Bukhari berkata dalam Shahih-nya: ”Anas, Al-Hasan, dan Ibrahim tidak mempermasalahkan celak mata bagi orang yang berpuasa.” (Lihat Fathul Baari 4/153)

9. Membasahi kepala dengan air dingin dan mandi

Al-Bukhari dalam Shahih-nya bab Ightisal Ash-Shaaim,”Ibnu Umar membasahi baju (dengan air) lalu memakainya, sedang dia berpuasa. Asy-Sya’bi masuk ke kamar mandi, sedang dia berpuasa. Al-Hasan berkata, ”Tidak ada masalah dengan berkumur-kumur dan mendinginkan (badan) bagi orang yang berpuasa”.

Dalam suatu hadits disebutkan: “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah menyiramkan air di atas kepalanya, sedang dia berpuasa karena kehausan dan kepanasan.” (HR. Abu Dawud no. 2365 dan Ahmad no. 16653, 23239. Dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/61)

Wallahu Waliyyut Taufiq.

Referensi:

1. Ensiklopedi Fiqh Praktis Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, Karya Syaikh Husain bin 'Audah Al-'Awaisyah.

2. Ringkasan Hukum-Hukum Puasa, Karya Al Akh Al Fadhil Abu Al-Jauzaa’.

Foto ilustrasi: google

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});