Sahabat Ummi, kehadiran Taman Pendidikan Alquran (TPA) mungkin hal yang biasa di Indonesia. Akan tetapi, kehadiran sebuah TPA di Jepang bagai oase di gurun Sahara.
Mengikuti TPA di tengah budaya Jepang yang permisif dan jauh dari nilai agama agaknya jadi sebuah kebutuhan bagi keluarga Indonesia yang tengah menetap di negeri matahari terbit itu. Keterbatasan sarana dan tempat tidak menjadikan muslim Fukuoka patah arang. Kehadiran TPA Al Hijrah ini buktinya.
Hidup tanpa nilai agama
Fukuoka adalah sebuah provinsi yang terletak di Pulau Kyushu, Pulau besar sebelah Selatan Jepang. Suasana ketimuran amat terasa di sana. Kebanyakan orang Jepang bersikap ramah dan sangat sopan. Mulai dari sopir bus, kasir supermarket, sensei (guru) sampai di lembaga pelayanan masyarakat. Mereka berusaha memberikan pelayanan yang maksimal dengan sabar. Gambaran sekilas ini membuat kehidupan orang asing terutama orang Indonesia merasa nyaman.
Sayangnya, orang Jepang sendiri jauh dari nilai-nilai agama. Di satu sisi, mereka mengaku tidak mempunyai agama karena menganggap agama hanya menyulitkan hidup dengan berbagai aturan-aturannya. Di sisi lain, mereka tampak menganut lebih dari satu agama. Ajaran Budha mewarnai kehidupan mereka. Orang meninggal dibawa ke otera, tempat ibadah orang Budha. Keluarga dekat menunggu pembakaran jasadnya.
Baca juga: Bercermin pada Sahabat Rasul, Si Kaya dan Si Miskin Harus Sama-sama Saleh
Agama Shinto warisan nenek moyang, tetap mereka anut. Anak baru lahir dibawa ke jinja, tempat peribadatan agama Shinto. Agama ini percaya bahwa Taiyo (Matahari) adalah Kamisama (dewa tertinggi) mereka. Dalam doa mereka,Kamisama selalu disebut-sebut, dan doa inilah yang diajarkan di sekolah-sekolah di saat memulai dan mengakhiri proses belajar mengajar.
Namun, natal juga mereka rayakan besar-besaran. Padahal mereka bukan pemeluk Kristen Protestan atau Kristen Katholik. Tidak hanya di supermarket yang selalu mendendangkan lagu-lagu Natal, di hoikuen (semacam play group) pun sejak November sudah diajarkan lagu-lagu natal. Hiasan dinding berganti dengan nuansa Natal. Tanggal 25 Desember, natal dirayakan di beberapa hoikuen di Fukuoka, para sensei berpakaian ala sinterklas, diisi dengan bernyanyi-nyanyi, cerita-cerita seputar Natal, dan tentu saja diakhiri dengan menu makan siang yang lebih istimewa dari biasanya.
Santa Claus jadi idola. Patung Santa Claus besar dipasang di Hakata, sebuah pusat keramaian di Fukuoka. Lampu hias warna-warni membentuk Santa Claus, salib serta bintang-bintang menjadi pemandangan di Canal City sebuah pusat perbelanjaan yang sangat menarik perhatian anak-anak. Acara TV pun didominasi dengan acara-acara Natal.
Tahun baru yang memang hari besar asli orang Jepang, dirayakan lebih meriah lagi. Sekolah dan kantor diliburkan sepekan penuh. Berbagai acara dibuat untuk meramaikannya. Anak-anak bergembira, mendapatkan otoshidama (salam tempel) dari orang tua dan saudara-saudara, seperti hari Lebaran di tanah air. Tak jarang bila bertetangga dengan nihon jin (orang Jepang) yang baik hati, mereka pun memberikan otoshidama kepada anak-anak kita.
TPA Al Hijrah di Fukuoka
Kebanyakan anak-anak muslim Indonesia bersekolah di sekolah negeri, otomatis pendidikan agama hanya didapatkan dari orang tua saja. Menghadapi situasi dan kondisi di Jepang yang tidak kondusif ini, ibu-ibu yang tergabung dalam pengajian muslimah Fukuoka merasa perlu membentuk wadah untuk menyelamatkan akidah anak-anak dengan menanamkan nilai-nilai Islam pada mereka.
Kesadaran tersebut akhirnya membuahkan pendirian TPA tanggal 11 Februari 2001. Dinamakanlah TPA Al-Hijrah karena sesuai dengan keadaan muslim Indonesia yang kini tengah “berhijrah” ke Jepang. Tujuan TPA ini adalah mendidik anak-anak dengan nilai Islam serta menanamkan dasar akhlak Islam serta mengajarkan kemampuan baca Alquran sejak dini.
Permasalahan awal pendirian TPA ini adalah tenaga pengajar. Terutama yang mampu membaca Alquran dengan baik, memiliki wawasan keislaman, berakhlakul karimah dan mampu mengajar anak-anak. Akhirnya, ibu-ibu pengajian sendiri yang mengajar TPA. Kurikulum TPA dibuat oleh tim pengajar mengacu pada kurikulum TPA yang ada di Indonesia. Setiap pergantian semester, diadakan rapat antarguru pengajar untuk menyusun silabus selama satu semester. Materi ajar meliputi akidah, akhlaq, siroh dan bacaan serta tata cara salat. Setiap satu materi diajarkan satu bulan sekali.
Pada awal terbentuknya, TPA Al Hijrah dibagi dalam dua kelompok sesuai dengan umur. Kelas besar adalah kelompok usia 6 tahun ke atas. Kelas kecil untuk usia 4-6 tahun. Kini dengan semakin banyaknya anak berusia 4 tahun ke bawah, maka dibentuklah kelas bermain. Kelompok bermain ini belum bisa ditangani secara khusus karena kendala sumber daya manusia dan bahan pengajaran.
Tidak jauh berbeda dengan Indonesia, proses belajar mengajar di dalam kelas meliputi, pembacaan doa bersama meliputi ikrar, Al-Fatihah dan doa menuntut ilmu. Lalu, dilanjutkan materi sesuai dengan pembagian kelas baru kemudian belajar membaca Alquran dengan metode iqro’. Sambil menunggu giliran untuk membaca, tiap anak belajar menulis huruf hijaiyyah. Selesai membaca iqro’ akan diajarkan beberapa surat pendek dan doa sehari-hari, untuk kelas bermain lebih fleksibel karena lebih sering fleksibel mengikuti kemauan anak sambil terus diarahkan.
Jika di Indonesia TPA dilaksanakan tiap sore di Jepang hanya mungkin dilakukan tiap Sabtu dan disesuaikan dengan musim di Jepang. Pada musim panas mulai pukul 10.30-11.30, memasuki musim gugur dilaksanakan mulai pukul 11.00-12.00. Sayangnya, untuk musim dingin kegiatan TPA jarang diselenggarakan. Sebab, transportasi utama di negeri Sakura ini adalah sepeda sehingga sulit bagi orang tua membawa anak mereka dengan sepeda di kala hujan, lebih-lebih ketika bersalju.
Kegiatan TPA
Rihlah atau wisata untuk mengatasi kejenuhan biasanya dilakukan saat musim panas. Tahun 2004 lalu, rihlah TPA diadakan sedikit berbeda dengan menambah lomba untuk anak-anak seperti lomba tarik tambang, memecah suika(semangka) dan bermain kuartet cerita nabi-nabi.
Kegiatan lain TPA adalah memutar VCD Islami dari Indonesia. Selingan ini sebenarnya menarik, hanya saja anak-anak kurang memahami Bahasa Indonesia baku yang digunakan dalam vcd Islami tersebut. Anak-anak muslim Fukuoka lebih menguasai bahasa Jepang atau bahasa Indonesia sehari-hari. Lagi pula, animasi yang ditawarkan VCD Islami masih jauh dari kartun Jepang sehingga anak-anak nampaknya kurang tertarik.
Pada bulan Ramadan. Para pengurus TPA sudah mempersiapkan acara TPA semenarik mungkin. Sudah dua Ramadan, TPA Al Hijrah mengadakan lomba cerdas cermat. Akan tetapi, kemampuan agama anak-anak Indonesia di Jepang tidak bisa disamakan dengan anak-anak Indonesia yang tiap sore datang ke TPA. Panitia kebingungan menentukan soal yang mudah dan cocok untuk anak-anak. Akhirnya, dibuat soal seputar rukun iman, rukun Islam, Kisah Nabi, bacaan sholat, doa harian dan sejarah Rasulullah, SAW.
Beberapa soal mudah seperti rukun iman kedua ternyata masih sulit bagi anak-anak itu. Jadi, walaupun sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang anak-anak masih menganggap pertanyaan itu sulit. Namun, kebingungan itu mencair ketika panitia berinisiatif melemparkan semua pertanyaan kepada seluruh anak dan semuanya mendapatkan hadiah.
Merindukan Masjid
Perayaan meriah juga dilakukan saat Idul Fitri. Natal yang dirayakan meriah di Jepang dikhawatirkan akan memberi dampak buruk buat anak-anak. Sehingga orang tua sepakat mengadakan acara yang tak kalah meriah saat Idul Fitri. Dalam sebuah acara halal bihalal keluarga besar Persatuan Pelajar Indonesia di Fukuoka, disediakan sebuah meja kecil, dihias balon-balon warna-warni berisi nasi, opor, ayam goreng, salad dan donat yang langsung laris dimakan anak-anak. Mereka pun melingkar, membentuk kelompok tersendiri menikmati hidangan yang khusus untuk mereka.
Dalam acara ini juga dibuat suatu permainan, lomba memasukkan bola dalam keranjang. Ramailah anak-anak memasukkan bola dalam keranjang. Garis batas sudah tidak diperhatikan lagi. Semua merangsek ke depan mendekati keranjang. Sorak sorai anak-anak yang menang pun terdengar. Walau acara hanya sebentar, tampak keceriaan di mata mereka. Dua kotak besar berisi puresento, menambah mata mereka berbinar-binar. Ada mobil-mobilan, boneka, bola-bola karet berwarna-warni dan lainnya membuat anak- anak semakin tertawa gembira.
Namun, TPA Al Hijrah tetap memiliki kendala terutama tempat. Selama ini TPA Al Hijrah menggunakan ruang serba guna asrama mahasiswa asing di Kyushu University. Jika di ruangan itu ada acara, dengan terpaksa acara TPA pun dibatalkan. Muslim Fukuoka berharap proyek masjid Fukuoka akan segera terlaksana. Bagaimanapun umat Islam pasti merindukan hadirnya masjid sebagai tempat bersatu, beribadah dan melakukan berbagai aktivitas keislaman, termasuk mendidik generasi Islam lewat TPA.
(Aan Wulandari/Vieny)
Foto ilustrasi: google
Artikel terkait:
Antara Muslim Liberia dan Kemerdekaannya di Tanah Kebebasan
Mudahnya Menjadi Muslim di Ukraina

Komentar