Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
Logo Ummi
  1. Beranda
  2. /
  3. Sejarah Islam
  4. /
  5. Antara Muslim Liberia dan Kemerdekaannya di Tanah Kebebasan

   Rubrik : Sejarah Islam

Antara Muslim Liberia dan Kemerdekaannya di Tanah Kebebasan

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 1179 Kali

Sahabat Ummi...

Republik Liberia yang berarti “Tanah Kebebasan” tak semuluk namanya. Konflik berkepanjangan membuat negara ini lumpuh dan jatuh miskin. Menyisakan tanya, bagaimana nasib 25% populasi muslim di sana? 

Liberia sebuah negara di belahan benua Afrika Barat tak hentinya dilanda konflik politik dan senjata. Akibatnya, dari 33 juta penduduknya, ratusan ribu penduduknya menjadi pengungsi di negara-negara tetangga seperti Guinea, Siera Leone dan Cote d’Ivoire.  

Peran Dakwah Suku Fullani dan Mandingo

Sebagian besar Afrika yang kini dikenal sebagai wilayah miskin, sebenarnya banyak menyimpan sejarah gemilangnya sendiri di muka bumi. Kerajaan Islam banyak berdiri dan besar di wilayah ini. Abad ke-10 para dai dari Maroko datang ke suku-suku pedalaman Afrika di Selatan Sahara. Raja Wur Jay dari Senegal berhasil diyakinkan oleh Abdullah Ibnu Yassin untuk menerima Islam. Begitu juga dengan suku-suku yang bernaung di wilayah kekuasaan Raja Wur Jay seperti Mandingo, Fullani dan Soninki, ikut menerima Islam sebagai agama mereka.

Para pemeluk Islam yang baru itu lalu dengan antusias menyebarkan Islam ke penjuru Afrika. Suku Fullani menetap di dataran tinggi Fuota Djallon dan menyebarkan Islam ke timur Afrika di wilayah yang sekarang kita kenal dengan Nigeria. Suku Fullani juga berhasil menyebarkan Islam di wilayah Utara Afrika.

 

Baca juga: Mudahnya Menjadi Muslim di Ukraina

 

Sedangkan Suku Mandingo menyebarkan Islam ke wilayah tenggara Afrika yang kini dikenal dengan nama Negara Guinea, Guinea-Bissau, Siera Leone, Liberia dan Mali. Penyebaran Islam oleh suku Mandingo dilakukan dengan cara perdagangan. Seperti Suku Fullani mereka pun mendirikan pusat Islam di Fouta Djallon, sebelah utara wilayah yang kini dikenal dengan nama Liberia dan menyebarkan Islam di suku-suku dalam kerajaan Ghana. Saat Kerajaan Ghana runtuh, Suku Mandingo mendirikan sebuah kerajaan Mali yang pusat kotanya terletak di Timbuktu pada abad ke-13. Kerajaan yang sempat menjadi pusat peradaban Afrika ini akhirnya runtuh dan digantikan oleh Kerajaan Sukotto.

Sementara itu Suku Fullani di Fouta Djallon tetap mengupayakan dakwah pada suku-suku Afrika yang masih pagan (percaya pada roh-roh). Oleh karena itu, dakwah mereka ditentang dengan keras, ulama Suku Fullani, Syekh Ibrahim Soori dan Syekh Ibrahim Musa mengobarkan jihad melawan suku-suku tersebut. Saat itu muslim telah berhasil menyebarkan Islam di Selatan Guinea dan Utara Liberia. Berabad kemudian sempat berdiri sebuah wilayah Islam yang masyarakatnya terdiri dari suku Mandingo dan Soninki tahun 1869 yang akhirnya juga runtuh.  

Liberia didirikan oleh budak Amerika

Ada lagi satu tokoh yang penting dalam perkembangan Islam di Liberia. Namanya Imam Samuri Ibnu Laviatori. Ia mendirikan wilayah muslim di Sungai Niger sekitar tahun 1800-an. Bahkan ia meluaskan wilayahnya sampai ke bagian Utara Liberia. Di sana ia banyak mendirikan masjid, mengajarkan Alquran, memberi hadiah bagi anak-anak yang belajar Quran dan sebisa mungkin menyebarkan Islam di luar wilayahnya.

Tahun 1822 adalah tahun-tahun penuh gejolak. Munculnya atmosfir kebebasan yang dibawa oleh mantan budak Amerika mempengaruhi perkembangan Islam. Mereka mendengungkan kebebasan dan emansipasi bagi para budak dan mantan budak. Akhirnya, tahun 1847 berdirilah Negara Liberia (The Land of Liberty) yang berarti juga tanah kebebasan dengan ibu kotanya, Monrovia. Walaupun populasi mantan budak itu hanya sekitar 1% dari populasi Liberia, dukungan Amerika Serikat menerjunkan langsung tentaranya dengan persenjataan lengkap, membuat suku-suku pedalaman dan Suku Muslim Mandingo terpaksa menyerah.

Sayangnya, saat Suku Mandingo muslim diserang, Imam Samuri tidak bisa memberi bantuan sebab ia pun tengah terlibat perang dengan Perancis selama 16 tahun untuk mempertahankan daerah dataran tinggi Fouta Djallon. Cara Imam Samuri menghadapi tentara Perancis pun kaya dengan kecerdikan dan strategi. Pemerintah Perancis pun sampai menjulukinya sebagai Napoleon Bonaparte Afrika. Ia sendiri kalah, ditangkap dan diasingkan ke Gabon hingga akhir hayatnya tahun 1900.

Sementara itu Liberia pun telah menjadi negara republik berdasarkan undang-undang yang diadopsi dari Amerika dengan pemilihan presiden tiap dua tahun sekali. Para mantan budak yang sering disebut Americo -Liberians itu mendirikan semacam DPR dan Senat dan menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa negara. Agenda tersembunyi dari itu semua adalah niatan para Americo-Liberians menjadikan Liberia sebagai pusat penyebaran agama Kristen. Tak heran jika selama berpuluh tahun hingga tahun 1980 presiden Liberia adalah seorang pendeta. 

Muslim dan politik di Liberia

Muslim terjebak di tengah-tengah. Itulah gambaran kondisi muslim Liberia. Mereka dikelilingi negara-negara di bawah kekuasaan Perancis seperti Guinea dan Cote d’Ivoire dan Siera Leone yang jajahan Inggris. Sementara di daerah pantai dikuasai oleh Americo Liberians. Inilah yang membuat kondisi muslim Suku Fullani, Mandingo, Bambra dan Siri hidup dalam kemiskinan yang berkepanjangan.

Kolonial Perancis tak segan-segan membunuh pelajar-pelajar Islam dan menutup sekolah-sekolah muslim. Sementara itu misionaris Kristen juga gencar melancarkan misinya ke suku-suku pedalaman Afrika. Mau ikut berperan dalam pemerintahan cukup sulit, sebab pemerintahan dikuasai oleh Americo Liberians.

Perubahan terjadi saat Presiden Samuel Tubman membolehkan muslim dan suku-suku tradisional Afrika lainnya untuk ikut pemilihan umum dan menempati posisi di pemerintahan. Kongres Muslim Liberia pun terbentuk tahun 1961. Posisi muslim semakin membaik sejak Presiden William S. Tolbert naik. Namun, ia dikenal sebagai presiden korup yang tak sanggup menciptakan stabilitas keamanan. Terjadilah demo dan penolakan besar-besaran terhadap Americo Liberians tahun 1979. Presiden Tolbert kemudian tewas di tangan pengawalnya sendiri. Sejak saat itu Americo Liberians tidak lagi memiliki kekuasaan dan sejak tahun 1980 Liberia pun dilanda kekacauan sampai saat ini. 

Walaupun di tengah negara tiran, Muslim tetap berusaha bertahan. Para pemimpin politik juga aktif meminta dukungan kaum muslim dan suku-suku tadisional Afrika. Tak pelak lagi peran muslim dalam perpolitikan Liberia pun cukup diperhitungkan. Seperti halnya ketika Presiden Charles Taylor memenangi Pemilu tahun 1997. Muslim mendukung Taylor karena ia berjanji akan memperhatikan kepentingan muslim.

Namun yang terjadi justru Taylor berusaha memecah belah Lembaga Muslim Nasional Liberia sehingga terbagi dua kubu, yang satu mendukung Taylor sedangkan yang lain mendukung Syekh Kafumba Konneh. Taylor juga ternyata bersikap represif terhadap Muslim Liberia. Tahun 1999, Taylor terlibat pembunuhan massal muslim Mandingo di Desa Lofa. Ia juga menelurkan kebijakan antimuslim dan mendukung misi para misionaris Kristen di kantong-kantong muslim.

Kondisi muslim sendiri sangat memperihatinkan, selain hidup sebagai minoritas mereka juga cukup jauh tertinggal di banding saudara sebangsanya yang beragama Kristen. Sebagian Muslim Liberia tidak cukup peduli pada syariat Islam karena kehidupan mereka yang dibelit kemiskinan. Walaupun jumlah umat Kristen hanya sekitar 40% saja dari seluruh penduduk, jumlah gereja hampir mencapai 50 buah jumlahnya di Monrovia sedangkan muslim hanya punya 5 buah masjid saja. Pendidikan pun cukup sulit, karena jumlah sekolah umum sangat sedikit. Itu pun bantuan dari Liga Dunia Muslim. Lagi pula untuk masuk ke sekolah umum milik pemerintah mereka harus pindah agama terlebih dulu. Mirisnya lagi, muslim juga tak punya rumah sakit milik mereka sendiri. Upaya perbaikan kesehatan pun akhirnya kebanyakan mengandalkan bantuan pemerintah atau PBB.

Muslim yang terus menerus berada dalam konflik politik dan senjata tak berujung ikut pula menjadi korban dan menjadi pengungsi. Namun dalam kehidupan yang memperihatinkan, jumlah jamaah haji Muslim Liberia tetap meningkat dari tahun ke tahun. Begitu pula negara tetangga seperti Guinea dan Siera Leone di mana muslim menjadi mayoritas terus memberi dukungan pada Muslim Liberia. Tambahan lagi ulama Liberia, Muhammad Kromah juga berhasil mendirikanThe Arabic Organization for Studies semacam lembaga yang mendakwahkan Islam di antara non muslim dan The Islamic Organization for Education yang mendidik para imam, mengajar Alquran dan bahasa Arab pada muslim dan mualaf.Disinilah setitik harapan muncul, semoga Islam terus memancarkan sinar terangnya di tanah kebebasan ini.

Vieny/dari berbagai sumber

Foto ilustrasi: google

Artikel terkait:

Ummu ‘Imaarah, Wanita Gagah yang Ikut Berlaga dalam Kancah Peperangan

Ghaziyah binti Jabir bin Hakim, Wanita yang Mendapat Air Minum dari Langit

Sisi Lain Mesir yang Mencengangkan

 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top