Sahabat Ummi…
Sejarah Islam mencatat dalam tinta emas nama-nama mulia yang merupakan sahabat Rasulullah Muhammad SAW. Keimanan mereka tak diragukan. Keistikamahan mereka tak pernah terputus. Tak heran, mereka sama-sama dijamini surga meski latar belakang mereka beragam rupa. Ada yang tua, muda, hitam, putih, budak, bangsawan, miskin ataupun kaya. Mengapa tidak mencontoh mereka?
Kalau bisa memilih, tentu kita semua ingin seperti Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, atau Utsman bin Affan, miliarder terkenal dalam sejarah, atau minimal seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Saad bin Abi Waqqas, Khalid bin Walid, Amr bin Ash, serta banyak lagi sahabat yang masuk kalangan berada.
Mereka semua beriman dan dijamini surga. Sementara di dunia, mereka punya kekayaan besar meliputi emas, perak, kuda, unta, kambing, dan barang-barang dagangan. Nilai kekayaan mereka tak diketahui pasti, tetapi bisa dikira-kira berdasarkan catatan beberapa peristiwa.
Abdurrahman bin Auf misalnya. Setibanya di Madinah pascahijrah tak punya apa-apa karena seluruh hartanya ditinggalkan di Mekkah. Namun, kepiawaiannya berdagang mengubah segalanya. Perniagaannya terus menghasilkan keuntungan hingga hartanya berlipat ganda. Bahkan, di saat wafat dalam usia 75 tahun, ia masih bisa mewasiatkan 50 ribu dinar sebagai infak fii sabililah dan 400 dinar per orang bagi seluruh veteran perang badar yang masih hidup di samping peninggalan untuk semua ahli warisnya. Padahal, nilai satu dinar sejak masa lalu hingga sekarang sama saja besarnya, yaitu 4,25 gram emas, yang setara dengan 680 ribu rupiah di tahun 2005 ini. Ini berarti, sekali berinfak, Abdurrahman bisa mengeluarkan harta sebesar 24 miliar rupiah.
Baca juga: Inilah Sahabat Rasul yang Bercerai Karena Terlalu Mencintai Istrinya
Apakah jumlah kekayaan ini yang lantas membuat mereka masuk surga?
Bukan, melainkan sikap hidup dan pengelolaan kekayaan yang benarlah yang menjadi jembatan bagi mereka menuju surga. Sebab, betapa tak kurang ngetopnya kisah Qarun atau Tsa’labah yang kaya raya namun justru hanya membuat Allah benci kepada mereka karena mereka kufur nikmat.
Para sahabat ini memahami benar mana harta yang “benar-benar milik” mereka dan mana yang bukan, sebagaimana diungkap dalam hadis: “Anak Adam berkata, ‘hartaku…hartaku…’ maka Rasulullah pun bersabda: Hartamu itu hai anak Adam, adalah apa-apa yang kamu belanjakan lalu habis dimakan, kamu belikan sandang lalu kumal, atau kamu sedekahkan lalu kamu tinggalkan (lupakan)” (HR Muslim)
Ditambah pula mereka hayati surat Al-Baqarah: 261 yang berbunyi: Perumpamaan bagi orang-orang yang berinfaq di jalan Allah adalah laksana sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, lalu setiap bulir berisi seratus biji. Sesungguhnya Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa yang dikehendakinya dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui. Tak heran, berlomba-lombalah para sahabat yang kaya ini untuk berinfak dengan ribuan dinar atau ratusan unta.
Utsman di suatu waktu merelakan 1000 unta dan barang kebutuhan pokok untuk diberikan kepada masyarakat di musim paceklik. Di waktu lain, ia menanggung sepertiga biaya peperangan Rasulullah, di saat dua pertiga yang lain ditanggung bersama oleh seluruh kaum muslimin.
Thalhah, yang dijuluki si dermawan oleh Rasulullah, menginfakkan kebun-kebunnya yang subur dan luas untuk fiisabilillah. Ia juga menjadi penanggung seluruh biaya hidup anak yatim dan janda di Bani Taim. Bahkan, Thalhah dikabarkan tak bisa tidur bila belum membagi-bagikan hartanya hari itu pada fakir miskin.
Abdurrahman bin Auf dikabari punya hubungan harta dengan hampir seluruh penduduk Madinah. Sepertiga penduduk dipinjami uang olehnya. Sepertiga yang lain dibebaskan dari hutang olehnya. Sepertiga sisanya mendapat tanggungan hidup darinya.
Cukup itu saja? Tidak. Para sahabat kaya ini tak sekadar bersedekah harta, tetapi juga waktu, tenaga, pikiran, dan jiwa. Dalam setiap kesempatan jihad, mereka bahkan selalu tampak berada di baris pertama. Thalhahlah si tameng Rasulullah di Bukit Uhud hingga 70 luka menghias abadi tubuhnya dan ia kehilangan jari-jari tangan. Sementara, Abdurrahman memiliki belasan ukiran sabetan pedang, hujaman panah dan tombak di tubuhnya, serta memiliki kaki pincang karena terluka dalam perang.
Ingin mencontoh mereka? Silakan. Carilah seluas-luasnya karunia Allah. Namun, jangan sampai terlewatkan hari tanpa bersedekah dengan apa yang kita miliki. Harta, waktu, tenaga, bahkan kalau perlu, jiwa.
Namun, bagaimana bila kekayaan harta belum menjadi milik kita?
Mengapa tak berpaling pada Ali bin Abi Thalib. Seorang penghulu para syuhada di surga, menantu Rasul, dan seorang yang begitu pandai dan cerdasnya hingga mendapatkan julukan mulia babul ilm—si gerbang ilmu— oleh Rasulullah?
Ali adalah pemuda miskin yang tak punya apa-apa saat melamar Fathimah, putri kesayangan Rasul. Bahkan, ia terpaksa menjual baju besi satu-satunya miliknya yang berharga agar bisa memberi mahar dan menyelenggarakan pernikahan.
Keluarga Ali ra. ini hidup dalam penuh ketawadukan. Dalam keseharian, Ali memenuhi kebutuhan keluarganya semampu ia bisa. Menjadi buruh penimba air sumur milik seorang yahudi ia lakoni. Mencari kayu bakar ia jalani. Sesekali ia berdagang. Pernah pula mengangkut barang di pasar. Apa saja pekerjaan yang halal dan baik dikerjakan Ali tanpa pilih-pilih peran atau gengsi. Ia juga tak mau memanfaatkan jalur KKN atau menengadahkan tangan meminta-minta. Padahal, ia ipar sang miliarder, Utsman bin Affan yang menikahi kakak kandung Fathimah.
Bahkan, istrinya, putri tercinta Rasulullah SAW pun bekerja tak kalah kerasnya. Menggiling gandum atau memintal benang suruhan tetangga dengan upah tepung atau kurma.
Namun, kepada Ali pulalah setiap orang akan bertanya dan mencari jawaban atas beragam persoalan. Sebab, dialah sang fakih yang integritas dan kredibilitas pribadi dan ilmunya diakui masyarakat. Bila orang lain tak mampu menjawab satu pertanyaan, tanyalah pada Ali, begitu kira-kira gambaran saat itu.
Masih banyak nama-nama sahabat, di samping Rasulullah sendiri, yang hidup dalam kategori miskin. Sebut saja nama Amr bin Yasr, Bilal bin Rabbah, Zaid bin Haritsah, Ummu Maktum, atau Abu Dzar Al Ghifari.
Kalau mereka kemudian dikenal sebagai sosok yang terus menerus miskin, tentu bukan karena mereka tengah melanggengkan dan “menikmati” kemiskinan. Mereka pun berusaha keras mengubah nasib. Bahkan, perkataan Ali soal kemiskinan begitu tegasnya. “Kalaulah kemiskinan itu berwujud manusia, tentu sudah kubunuh ia!” ungkapnya, menunjukkan komitmen untuk menyejahterakan rakyat saat menjadi khalifah.
Namun, kala rezeki mereka tak sebanyak sahabat yang lain, mereka tak mengeluh, putus asa, atau iri hati. Mereka hanya mensyukuri apa yang mereka miliki dan bersabar dengan kemiskinan yang mereka jalani. Ini berkesesuaian benar dengan pesan Rasul lewat sabdanya: “Apa yang sedikit tapi mencukupi, lebih baik daripada banyak tapi melalaikan.” (HR Abu Dawud)
Dengan sikap mental seperti ini, tak heran, setiap kali panggilan jihad berkumandang, Ali dan para sahabat yang miskin ini pun selalu berada di barisan terdepan, berdiri gagah bersejajaran bersama para sahabat lain yang kaya raya. Tak pernah ada istilah karena sedang susah dan sedang miskin, mereka jadi terhalang berjihad atau lantas kurang semangat.
Bahkan, keluarga Ali terkenal pula dengan kedermawanannya. Mereka tak pernah menolak permohonan orang lain yang lebih membutuhkan. Maka, berbagai catatan sejarah menunjukkan, kalung dan pakaian Fathimah, bahkan roti anak-anak yang siap dimakan untuk berbuka puasa, diberikan untuk menolong fakir miskin yang meminta-minta.
Di zaman Rasulullah dan para sahabat, orang miskin dan orang kaya tetap ada. Namun, tak pernah terjadi gejolak yang berasal dari kecemburuan sosial karena gaya hidup mereka sangat positif. Sosok yang miskin selalu bersabar, optimis, percaya diri, dan rajin bersedekah. Sosok yang kaya selalu bersyukur, rendah hati, penuh empati, dan semakin rajin bersedekah.
Siapkah kita meniru mereka? (Zilryfera Jamil/ Berbagai sumber)
Foto ilustrasi: google
Artikel terkait:
Kisah Teladan Nusaibah Binti Kaab ra, Perempuan yang Sebanding dengan Seribu Laki-Laki
Kisah Teladan Ummu Aiman, Perempuan Gagah Berani yang Masuk Surga

Komentar