Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Hadits
  4. /
  5. Denda Karena Telat Bayar Cicilan Kredit Apakah Termasuk Riba

   Rubrik : Hadits

Denda Karena Telat Bayar Cicilan Kredit Apakah Termasuk Riba

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 497 Kali

Denda Karena Telat Bayar Cicilan Kredit Apakah Termasuk Riba
Denda Karena Telat Bayar Cicilan Kredit Apakah Termasuk Riba

Sahabat Ummi, membayar sesuatu dengan menunda, mencicil, atau pinjaman maka artinya pembayaran tersebut dilakukan dengan sistem kredit. Kredit merupakan sistem pembayaran yang telah menjadi bagian dari kehidupan. Tetapi dalam pelaksanaanya kredit memiliki kerugian bagi orang yang melakukan sistem ini (nasabah kredit) yaitu ketika adanya denda yang dlimpahkan ketika telat membayar cicilan kredit. Lalu apakah denda karena telat membayar cicilan kredit dalam islam termasuk riba?

Majma Al Fiqh Al Islami mengeluarkan keputusan bahwa jika pembeli kredit (nasabah yang melakukan kredit) telat dalam melunasi cicilan sesuai dengan janji yang diterapkan, maka tidak boleh dikenakan tambahan (denda) dengan syarat sebelumnya atau tanpa syarat. Karena denda dalam hal tersebut termasuk riba yang diharamkan. (berdasarkan Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 101384)

Pada keputusan yang dikeluarkan tersebut dapat menerangkan dengan jelas bahwa denda yang dibayarkan oleh nasabah kredit (pembeli kredit) ataupun dikeluarkan oleh kreditur (pemberi kredit) maka dilarang untuk membayar atau mengeluarkan denda tersebut karena bersifat riba yang diharamkan dalam islam.

Selain itu, dalam kitab tafsir Al Quran Al 'Azhim, Imam Ibnu Katsir, mengatakan bahwa "Bersabarlah kepada orang yang sulit melunasi utang." Hal ini ditujukkan kepada orang yang memberi utang (kredit). Perkataan tersebut diucapkan oleh Imam Ibnu Katsir, dengan maksud agar para pemberi utang, pinjaman, atau cicilan (kredit) agar tidak mengikuti jejak kebiasaan orang-orang jahiliyah yang menerapkan sistem denda jatuh tempo.

Rasullulah Shalallahu Alaihi Wassalam juga bersabda dalam sebuah hadist yang artinya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim, no. 1598).

Hadist tersebut menegaskan kembali bahwasannya riba yang dibayarkan oleh nasabah dan dikeluarkan oleh kreditur serta seluruh orang yang terlibat dalam transaksi riba, dalam hal ini denda yang dijatuhkan karena telat membayar utang, cicilan (kredit) atau denda lainnya maka akan dijatuhi dosa yang sama.

Lalu, timbul pertanyaan apakah boleh tetap mengikuti transaksi atau sistem ini jika bertekad untuk melunasi utang, pinjaman, atau cicilan (kredit) dengan tepat waktu? Pertanyaan ini dijawab oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid yang menyatakan bahwa tetap tidak boleh mengikuti transaksi semacam itu atau sistem seperti hal tersebut.

Hal ini karena, meskipun pembeli kredit (nasabah kredit) bertekad untuk melunasinya tepat waktu tetapi terdapat dua alasan yang membuat transaksi tersebut tetapi tidak boleh diikuti yakni, pertama hal ini sama saja dengan menyetujui syarat riba, dan hal itu diharamkan. Lalu yang kedua bisa jadi ia (nasabah/pembeli kredit) tetap terjatuh dalam riba karena telat saat punya udzur yaitu karena lupa, sakit, atau pergi safar.

Oleh karena itu, terdapat pesan bagi nasabah atau pembeli kredit ataupun cicilan dan utang serta kreditur atau pemberi utang dan pinjaman yakni dalam surah Al Baqarah ayat 280, yang artinya,“Dan jika (orang yang berutang itu) berada dalam kesukaran maka berilah tangguh sampai dia lapang. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

Serta dalam sebuah hadist yakni dari Abul Yasar Rasullulah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya, “Barangsiapa ingin mendapatkan naungan Allah ‘Azza wa Jalla, hendaklah dia memberi tenggang waktu bagi orang yang mendapat kesulitan untuk melunasi utang atau bahkan dia membebaskan utangnya tadi.” (HR. Ahmad, 3:427. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Wallahua’lam bishowab. Semoga bermanfaat. (Fikriah NurJannah)

Sumber: rumaysho(dot)com, dream(dot)co(dot)id
Ilustrasi: Google

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});