Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Finance
  4. /
  5. 5 Kesalahan Mengelola Keuangan

   Rubrik : Finance

5 Kesalahan Mengelola Keuangan

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 4861 Kali

5 Kesalahan Mengelola Keuangan
5 Kesalahan Mengelola Keuangan

Sahabat Ummi, ada 5 kesalahan yang biasa kita lakukan dalam mengelola keuangan pribadi maupun keluarga. Apa sajakah itu?

 

  1.       Menganggap perencanaan keuangan adalah hal sia-sia.

 

Anda tentu pernah mendengar dalih, “Apa yang perlu diatur dari keuangan saya? Pendapatan saya saja kecil, ya habis saja!” atau, “Nggak usahlah repot investasi ini-itu. Penghasilan pas-pasan, kok! Rezeki sudah Allah atur!”

Ya, Allah memang sudah menakar rezeki setiap manusia. Namun sadarkah kita bahwa dalam Islam perencanaan keuangan ada pada Al-Qur’an dan hadits? Perencanaan keuangan bagi seorang Muslim menyangkut soal aset dan ini berkaitan dengan zakat—di mana zakat adalah salah satu rukum Islam.

Selain zakat, ada pula infak, sedekah, wakaf dan juga harta rampasan perang. Perencanaan keuangan dalam Islam bicara juga mengenai utang-piutang yang hukumnya harus dicatat dan ditagih. Lebih jauh, utang-piutang ini kaitannya hingga surga dan neraka. Belum lagi mengenai hukum faraidh (hukum waris) yang juga dibahas oleh perencanaan keuangan dalam Islam.

Itu semua bagian dari perencanaan keuangan. Maka pada dasarnya, agama kita telah mengatur mengenai perencanaan keuangan bagi seorang Muslim.

 

  1.       Menggunakan paham kiralogi alias mengira-ngira.

 

Saya sering menemukan paham ini ketika meminta klien mencatat pemasukan dan pengeluarannya sehari-hari. Bahkan mencatat aset dan utang pun dengan kiralogi ini.

“Bu, sebulan pengeluarannya berapa?”

“Nggak tahu, Mbak. Kira-kira Rp5 juta per bulan”.

“Dik, omzetnya sebulan berapa?”

“Nggak tahu, Mbak. Rp10 jutaan kayaknya.”

Semua serba “kira-kira” dan “kayaknya”, tidak menyebut angka dengan pasti. Padahal, numbers don’t lie. Angka tidak bohong, lho. Selama kita memiliki angka yang tepat mengenai kondisi keuangan pribadi ataupun bisnis, kita akan bisa menyelesaikan permasalahan keuangan kita.

Mulailah mencatat dengan tepat berapa gaji atau omzet usaha Anda, serta pengeluaran tiap bulan. Anda perlu tahu berapa pengeluaran setiap bulan agar Anda tahu di mana letak “bocor halus” dalam keuangan Anda. Mulai juga mencatat total aset Anda sehingga Anda bisa menghitung zakat maal. Catat utang Anda sehingga Anda bisa mengetahui berapa banyak utang Anda dan kepada siapa saja.

Kegiatan mencatat ini memang bisa jadi tidak menyenangkan. Namun tak mungkin memecahkan masalah keuangan jika kita sendiri tidak pernah mengetahui dengan pasti permasalahan yang sedang dihadapi.

 

  1.       Menabung, tapi diambil lagi pada akhir bulan.

 

Saya kerap mendengar keluhan, “Mbak, saya sudah menabung, tapi kok tabungan saya habis, ya?” Sebenarnya, pertanyaan tersebut tidak tepat ditanyakan pada saya yang bahkan tidak tahu-menahu pin ATM-nya, he-he-he.

Masih ingat lagu Titiek Puspa yang liriknya begini:

Bang, bing, bung, yok! Kita nabung!

Tang, ting, tung, yok! Jangan dihitung, tahu-tahu kita nanti dapat untung!

Generasi yang saat ini berusia 30–40 tahunan tentu familiar dengan lagu tersebut. Maka jadilah kita, si generasi 30–40 tahun ini, generasi yang pintar menabung tapi sulit mengendalikan keinginan belanja dan tidak tahu cara menghabiskan uang dengan benar. Ya, yang penting sudah menabung dan kewajiban seolah-olah selesai.

Contohnya, pada awal bulan menabung Rp1 juta. Namun saat pertengahan bulan tergiur ingin membeli tas baru padahal anggaran berbelanja sudah habis dan tas yang ada pun masih bagus. Maka diambillah Rp500 ribu dari tabungan. Bayangkan kalau tak cuma tergiur dengan tas. Inilah yang sering tidak kita sadari. Jadi, lebih baik menabung sedikit demi sedikit, tapi tidak diambil lagi di tanggal-tanggal berikutnya.

 

  1.       Mencampur keuangan bulanan dan tahunan.

 

Semestinya perlakuan kita berbeda antara uang bulanan dengan uang THR atau bonus yang kita dapatkan. Sebab, ada pemasukan dan pengeluaran yang sifatnya sebulan sekali dan setahun sekali. Tentu Anda hanya setahun sekali membayar uang kegiatan/pangkal sekolah anak. Sementara SPP sekolah anak adalah kewajiban sebulan sekali.

Jangan gunakan uang bonus Anda untuk bayar SPP sekolah disebabkan gaji bulanan sudah habis untuk membeli gadgetbaru yang belum perlu. Itu menyedihkan sekali. Alokasikan uang bonus/THR dengan tepat untuk kebutuhan-kebutuhan yang memang hanya muncul setahun sekali.

 

  1.       Mencampur keuangan pribadi dan bisnis.

 

Ini adalah salah satu kesalahan paling fatal yang dilakukan oleh orang yang menjalani bisnis. Apalagi jika ditambah dengan tidak adanya pencatatan arus kas. Uang bisnis yang sedikit-sedikit diambil untuk kebutuhan pribadi akan membuat bisnis bukan hanya tak berkembang, tapi juga terancam hancur karena tak ada perputaran modal. Jika bisnis sudah memiliki tenaga kerja, Anda malah telah berlaku zalim pula jika sampai hak-hak pekerja tak terpenuhi.

Sementara, uang pribadi yang terpakai untuk bisnis (misalnya sedang berusaha mengembangkan bisnis), akan mengganggu stabilitas keuangan keluarga. Akan ada kewajiban-kewajiban keuangan pribadi yang terabaikan. Ujung-ujungnya, bisa mendorong Anda menggunakan uang bisnis untuk menutupinya lagi. Bisnis tak berkembang, keuangan pribadi mengalami kemunduran.

 

Nah, semoga dengan mengetahui kesalahan-kesalahan tersebut Anda bisa memperbaiki cara mengelola keuangan Anda agar tidak terulang lagi kesalahan yang sama di tahun depan dan seterusnya. Selamat memperbaiki!

Foto ilustrasi : Google

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});