Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Finance
  4. /
  5. 4 Alasan Pentingnya Menghindari Membeli Barang Secara Kredit

   Rubrik : Finance

4 Alasan Pentingnya Menghindari Membeli Barang Secara Kredit

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 12876 Kali

4 Alasan Pentingnya Menghindari Membeli Barang Secara Kredit
4 Alasan Pentingnya Menghindari Membeli Barang Secara Kredit
Sahabat Ummi, membeli secara kredit atau mencicil sebenarnya boleh saja, yang tidak boleh adalah jika ada bunga yang harus dibayar akibat pembayaran secara non tunai tersebut, termasuk adanya denda jika pembayaran cicilan dilakukan tidak tepat waktu. 

Seseorang yang sudah kebiasaan membeli barang secara kredit, entah dengan kartu kredit, bantuan leasing, bank, dan segala macamnya, biasanya akan 'kecanduan' untuk terus mengkredit barang. Dari mulai rumah, mobil, motor, furniture, tas, sepatu, laptop, hp, bahkan panci, semuanya akan dikredit sekalipun bisa membeli tunai. 

Tidak masalah kalau kita bisa memastikan seberapa panjang umur kita, bagaimana kalau ternyata kita berumur pendek dan tidak mampu melunasi utang kredit tersebut? Akankah tega membiarkan ahli waris kita yang melunasinya? 

Nah, berikut ini adalah 4 alasan agar Sahabat Ummi yang hobi kredit barang mulai sedikit-sedikit menghindari kebiasaan beli barang secara kredit ini: 
 
1. Memungkinkan tergelincir pada dosa riba

Barang yang harusnya seharga 12 juta, jika dikredit melalui leasing maka berubah menjadi 18 jutaan, selisih 6 juta biasanya adalah bunga pinjaman yang termasuk dalam kategori riba (haram), bukan margin penjualan (halal). Kecuali jika kita membelinya melalui koperasi syariah yang mengerti pakem mana riba dan mana jual-beli.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris), dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama (dalam melakukan hal yang haram).” (HR. Muslim, no. 1598)

Tahukah betapa mengerikannya dosa riba?

“Riba terdiri atas tujuh puluh dosa. Yang paling ringan adalah seperti seseorang menzinai ibu kandungnya sendiri.” (HR. Ibnu Majah, no. 2274. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.)

2. Senantiasa merasa kekurangan dan tidak cukup dengan yang telah dimiliki

Rumah kecil, mobil tua, furniture sudah usang, membuat kita merasa wajar untuk melakukan pinjaman uang/ kredit barang, hal ini jika terus-menerus dibiasakan akan membuat kita menjadi seorang yang jauh dari sifat qonaah atau bersyukur. Percayakah kalau hal yang sedikit dan kecil saja tidak bisa membuat kita bersyukur, maka akan demikian juga ketika kita telah memiliki sesuatu yang banyak dan besar, tetap takkan mampu memuaskan hasrat kita?

Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667).

Baca juga: Hukum Fiqih Membeli Barang Secara Kredit (http://www.ummi-online.com/hukum-fiqih-membeli-barang-secara-kredit.html)
 
3. Tumpukan utang memaksa kita untuk membayarnya dengan berbagai cara

Lihatlah betapa banyak pengusaha yang menggadaikan surat rumahnya agar bisa meminjam uang untuk membangun usahanya, kemudian malah melakukan segala cara sekalipun haram untuk bisa membayar bunga riba tersebut. 

Akan datang suatu zaman ketika manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau yang haram.” (HR. Bukhari, no. 2083, dari Abu Hurairah)
 
4. Kebiasaan menular

Jika kita terbiasa kredit barang, bukan tidak mungkin orang-orang sekitar kita pun akan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Misalnya pasnagan hidup dan anak-anak kita. Bukankah ini adalah contoh buruk yang bisa membahayakan kondisi finansial keluarga?


Sahabat Ummi, berdoalah pada Allah agar dikaruniai hati yang kaya dan qonaah, senantiasa merasa cukup dan terjauh dari hal yang diharamkan Allah serta RasulNya.

“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk (dalam ilmu dan amal), ketakwaan, sifat ‘afaf (menjaga diri dari hal yang haram), dan sifat ghina’ (hati yang selalu merasa cukup atau qana’ah).” (HR. Muslim, no. 2721; dari ‘Abdullah)
 
Foto ilustarsi : Google

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});