Menjelang Abu Bakar Ash-Shiddiq ra wafat, salah seorang istrinya yang bernama Habibah binti Kharijah tengah mengandung. Selain berwasiat tentang warisannya, Abu Bakar juga mewasiatkan putrinya, Ummul Mukminin Aisyah ra, untuk mengasuh dan mendidik bayi yang akan dilahirkan Habibah. Firasatnya mengatakan, bayi itu perempuan. Abu Bakar percaya Aisyah akan mendidik adiknya lain ibu itu dengan sebaik-baiknya.
Abu Bakar wafat pada 13 H. Tak lama, lahirlah putri bungsunya yang diberi nama Ummu Kultsum. Sebagaimana wasiat sang ayah, Aisyah membawa adik perempuannya itu untuk diasuh dan dididiknya.
Di tengah kemuliaan hidup Aisyah, Ummu Kultsum tumbuh dalam kasih sayang seorang kakak sekaligus ibu. Di bawah bimbingan Aisyah, gadis ini menguasai dengan sangat baik ilmu fiqih dan hadits. Dia menghafal dan meriwayatkan banyak hadits dari Aisyah. Hadits yang diriwayatkannya dapat diterima dan bisa dijadikan dalil.
Sampai masanya usia menikah, Ummu Kultsum dilamar Khalifah Umar bin Khattab ra. Sebagai kakak, Aisyah menyerahkan keputusan kepada Ummu Kultsum. Namun, mengenal tabiat Umar yang keras, gadis itu merasa takut dan tidak ingin menjadi istri Umar.
Walau sempat kecewa, Aisyah memahami perasaan adiknya dan meminta salah seorang sahabat Rasulullah, Amr bin Ash ra, untuk menyampaikan hal itu kepada Umar dengan cara sehalus mungkin sehingga Umar dapat menerimanya dengan lapang dada.
Ummu Kultsum kemudian menikah dengan Thalhah bin Ubaidillah ra, salah seorang pahlawan Perang Uhud. Dari pernikahan ini, Ummu Kultsum melahirkan Zakaria, Yusuf, dan Aisyah binti Thalhah.
Thalhah dikenal sebagai orang yang dermawan. Begitu pula Ummu Kultsum, mewarisi kemurahan hati sang ayah dan kakaknya. Maka pasangan ini terus saling mendorong berinfak semampu mereka.
Suatu kali, Thalhah resah. Ia mendapat uang 700.000 dirham. Memahami keresahan suaminya, Ummu Kultsum menganjurkannya untuk membagi uang itu kepada para sahabat dan orang-orang yang membutuhkan. Saking asiknya bersedekah, Thalhah hanya menyisakan 1000 dirham untuk istrinya. Ummu Kultsum menerimanya untuk kemudian membagikannya lagi kepada fakir miskin.
Perkawinannya dengan Thalhah yang damai dan penuh berkah berakhir dengan terbunuhnya Thalhah di Perang Jamal. Ummu Kultsum kemudian menikah lagi dengan Abdurrahman bin Abdillah bin Abi Tabi’ah dan melahirkan lima anak.
Wanita mulia ini menghabiskan hari-harinya di Madinah, mengurus keluarga dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Menurut perkiraan, Ummu Kultsum wafat pada 58 H, tak lama setelah kakaknya tercinta, Aisyah, meninggal dunia.




Komentar