Selain empat masalah pada fungsi organ tubuh yang dialami bayi prematur sebagaimana diulas dalam artikel sebelumnya, yaitu penyakit membran hialin, apnea dan bradikandia, retinopathy of prematurity, serta penyakit paru kronik, masih ada beberapa kelainan yang biasanya ditemui pada bayi prematur. Kelainan-kelainan tersebut di antaranya, gagal tumbuh, gangguan pendengaran, dan anemia prematuritas.
> Gagal Tumbuh
Sejak lahir, pemantauan pertumbuhan bayi prematur (berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala) dilakukan menggunakan kurva Fenton atau kurva standar dari WHO, dengan memerhatikan usia koreksi (bukan usia aktual/kronologis). Misalnya, bayi yang terlahir prematur dengan usia gestasi 32 minggu, berarti “kurang” 8 minggu menuju usia cukup bulan (40 minggu). Maka, tiap kali dilakukan pemantauan pertumbuhan, usia yang diplot adalah usia koreksi (selalu dikurangi 8 minggu atau 2 bulan). Jika usia kronologis bayi 3 bulan, maka usia koreksinya 1 bulan. Jadi, berat badan, panjang badan, dan lingkar kepalanya diplot pada bayi usia 1 bulan.
Apabila berat dan/atau panjang badannya masih masuk ke dalam kurva (minimal persentil 3 atau minus 2 SD), disimpulkan kemungkinan pertumbuhannya normal. Artinya, nutrisi yang diberikan sudah mencukupi. Namun, bila tidak pernah memasuki tren pola pertumbuhan normal, perhatikan, apakah memang bayi prematur belum memasuki pola pertumbuhan sama dengan bayi yang tidak prematur (tetap dengan usia koreksi).
Evaluasi nutrisi harus dilakukan berkala pada bayi-bayi prematur ini agar tidak mengalami kondisi gagal tumbuh yang dapat berdampak pada perkembangan otak dan kemampuan tubuh mengatasi infeksi (sistem imun). Dengan berbagai keuntungannya, air susu ibu (ASI) tetap menjadi pilihan utama, meski sering kali perlu ditambah human milk fortifier (HMF) atau suplemen lainnya.
> Gangguan Pendengaran
Meski lahir prematur, bayi memiliki pendengaran sempurna. Itu sebabnya, ibu disarankan sering mengajak bicara bayi sejak masih dalam kandungan, karena janin sudah dapat mendengar.
Akan tetapi, bayi prematur berisiko terkena infeksi di dalam ruang rawat sehingga kerap diberi antibiotik yang terkadang berefek merusak fungsi pendengaran. Ia juga rentan mengalami hiperbilirubinemia (kadar bilirubin darah melebihi normal dan berisiko menembus sawar darah-otak) yang tampak sebagai gejala kuning sehingga membutuhkan terapi sinar. Kondisi hiperbilirubinemia juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran kelak. Untuk itu, bayi prematur disarankan rutin menjalani pemeriksaan fungsi pendengaran dengan uji otoacoustic emission (OAE) dan brainstem auditory evoked potentials (BAEP/BERA).
> Anemia Prematuritas
Kemampuan sumsum tulang bayi prematur dalam memproduksi sel darah merah (eritrosit) juga belum sebaik bayi cukup bulan, karena itu ia rentan mengalami anemia. Kondisi ini diperberat dengan adanya pengambilan darah berulang, infeksi, dan peningkatan kebutuhan oksigen. Untuk itu, perlu dilakukan pemantauan berkala terhadap kadar hemoglobin bayi dan pemberian suplemen zat besi saat usianya satu bulan.
Pentingnya Ketelatenan Orangtua
Semua bayi prematur yang pernah mengalami minimal salah satu kondisi di atas disebut bayi risiko tinggi. Setelah dirawat, baik pernah melewati NICU atau tidak, bayi-bayi berisiko tinggi harus mendapatkan pemantauan berkala di praktik dokter anak, klinik khusus bayi risiko tinggi, atau di pelayanan primer seperti puskesmas. Orangtua dari bayi prematur yang paham semua risiko tersebut dapat membantu dokter membuat “daftar tilik” atas hal-hal yang harus dipantau pada bayinya ketika kontrol.
Bayi-bayi prematur juga berisiko mengalami gangguan (keterlambatan) perkembangan dan kecerdasan di kemudian hari. Karena itu, pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap fungsi organ dan pertumbuhan (berat dan panjang badan), tapi juga pada tahapan-tahapan perkembangan yang seharusnya dapat dilalui sesuai usia koreksinya. Apabila telah melewati usia 6 bulan, 12 bulan, dan 18 bulan masih ada milestone perkembangan yang terlambat, maka harus dievaluasi penyebabnya.
Prematuritas dan berat lahir rendah juga dihubungkan dengan risiko darah tinggi (hipertensi) dan obesitas (kelebihan berat badan) di usia remaja dan dewasa, yang terkait dengan berbagai penyakit degeneratif. Ini artinya, pemantauan terhadap bayi prematur tak hanya dilakukan dalam beberapa tahun pertama, melainkan hingga belasan bahkan puluhan tahun kemudian.
Mengenali faktor risiko penting bagi seorang ibu agar dapat mencegah persalinan prematur. Apa saja?
- Usia ibu hamil yang terlalu muda, atau sebaliknya terlalu tua. Usia optimal untuk hamil adalah 20 – 30 tahun.
- Kehamilan kembar, baik kembar dua atau lebih. Ibu yang mengandung lebih dari satu bayi berisiko melahirkan bayi-bayi prematur.
- Infeksi saat kehamilan, misalnya infeksi oleh sitomegalovirus (CMV), toksoplasma, infeksi menular seksual (HIV, hepatitis B), cacar air, rubella, dan radang tenggorok akibat streptokokus beta hemolitikus grup B. inilah pentingnya senantiasa mencuci tangan dan memasak makanan hingga matang (mencegah CMV), menghindari kontak dengan hewan piaraan yang kotor (toksoplasma), dan melengkapi imunisasi (cacar air, MMR) sebelum kehamilan.
- Konsumsi alkohol dan merokok saat hamil.
- Penyakit kronik, seperti hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes pada kehamilan. Inilah pentingnya memeriksakan kesehatan secara teratur saat hamil dan menjaga pola hidup sehat serta olahraga.
- Riwayat persalinan prematur pada kehamilan sebelumnya.
- Stres psikologis.
*Rubrik ini diasuh oleh dr. Arifianto, SpA atau akrab dipanggil Dokter Apin. Selain aktif berpraktik di RSUD Pasar Rebo, beliau juga menulis buku "Orangtua Cermat Anak Sehat".




Komentar