Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Fikih Wanita
  4. /
  5. Siklus Haid Tak Teratur, Harus Bagaimana?

   Rubrik : Fikih Wanita

Siklus Haid Tak Teratur, Harus Bagaimana?

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 426 Kali

Siklus Haid Tak Teratur, Harus Bagaimana?
Siklus Haid Tak Teratur, Harus Bagaimana

Assalamu’alaikum

Ustadzah Herlini, siklus haid saya tidak teratur. Saya haid pada 27 Agustus – 4 September, ternyata seminggu setelah suci saya haid kembali pada 10 – 15 September. Terkadang selama tidur, darah tidak keluar, namun setelah saya melakukan aktivitas siang atau sore hari, darah keluar kembali tapi sedikit dan berwarna kecokelatan.Yang ingin saya tanyakan, apakah darah yang keluar itu darah haid atau bukan?

Wassalamu’alaikum

Ine Irawati, Jakarta

 

Wa’alaikumussalam

 

Ananda Ine, lamanya masa haid berbeda bagi setiap perempuan. Biasanya ada beberapa kategori, yaitu perempuan yang baru mulai mengalami haid, perempuan yang sudah biasa haid, dan perempuan yang kondisi haidnya tidak teratur.

  1. Perempuan yang baru mengalami haid masa maksimal haidnya adalah 15 hari. Lebih dari masa itu dianggap darah istihadhah(darah penyakit).
  2. Perempuan yang sudah biasa haid, maka patokannya berdasarkan kebiasaan (al-‘adah) adalah 6 atau 7 hari. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah saw kepada Hamnah binti Jahsy saat ia konsultasi pada beliau saw, “Engkau berada dalam keadaan haid menurut ilmu Allah swt, selama 6 atau 7 hari. Kemudian hendaklah kamu mandi dan shalat selama 24 hari, serta malamnya atau 23 malam, karena itu sudah cukup bagimu. Hendaknya kamu lakukan seperti itu setiap bulannya, sebagaimana kebiasaan perempuan didatangi haid. Mereka hendaklah menentukan masa haid dan masa sucinya,” (HR Abu Dawud, An-Nasa’i, Ahmad, At-Tirmizi dan ia menshahihkan hadits ini, sedangkan Al-Bukhari menganggap hadits ini Hasan).
  3. Perempuan yang haidnya tidak teratur, maka lama haidnya berdasarkan warna darah. Sebab, darah haid berbeda dengan darah istihadhah dari segi warna, kekentalan, dan baunya. Oleh karena itu, seorang perempuan hendaknya mengamati warna darahnya yang keluar, sebagaimana hadits Fathimah ra binti Abu Hubaisy, Rasulullah saw bersabda, “Jika darah itu adalah darah haid, maka warnanya hitam dan pasti dapat diketahui.”

Diperjelas lagi oleh hadits dari Ummu Salamah ra, ia meminta fatwa kepada Rasulullah saw mengenai seorang wanita yang selalu mengeluarkan darah. Nabi saw bersabda, “Hendaklah ia memperhatikan bilangan malam dan siang selama haid, serta kadar hari-harinya pada setiap bulan. Setelah mengetahui waktu haid dan kadarnya, hendaklah ia menghentikan shalat pada waktu-waktu tersebut. Sesudah waktu haid tersebut berakhir, hendaklah ia menutupi kemaluannya dengan kain, lalu kerjakanlah shalat,” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

 

Berdasarkan penjelasan di atas, darah yang keluar setelah selesai masa 9 hari haid Anda tersebut tidak lagi dianggap sebagai darah haid, namun darah tersebut adalah darah istihadhah. Ummu Athiyah ra berkata, “Kami tidak menganggap warna kuning atau keruh (flek) itu sebagai darah haid setelah suci,” (HR Abu Dawud dan Bukhari, tetapi ia tidak menyebut kata ‘setelah suci’). Wallahu ‘alam.

 

Sumber: Majalah Ummi, Fiqih Wanita 11-XXVIII November 2016. Herlini Amran, MA

 Foto ilustrasi : Google

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});