Sahabat Ummi, kemampuan otak balita tengah berkembang optimal dalam menyerap berbagai informasi. Masa ini dikenal sebagai golden age. Pendidikan baginya tak cuma di lingkungan sekolah saja, aktivitas yang menyenangkan di rumah juga bisa menjadi pembelajaran yang efektif untuknya.
Balita umumnya tak butuh tekanan atau jadwal yang ketat untuk belajar. Dengan miliaran sel otaknya yang tengah berkembang pesat, kita cukup memberikan stimulasi saja dan biarkan ia mempelajari banyak hal dengan cara yang menyenangkan. Ini bukan semata menjadi tugas sekolah, melainkan juga tugas para orangtua untuk memastikan anak-anak bisa belajar banyak hal di mana saja, termasuk di rumah.
“Pendidikan yang baik adalah yang konsisten, baik dari orang ke orang, lokasi ke lokasi, dan dari waktu ke waktu. Tugas orangtua adalah untuk menjaga konsistensi ini, memberikan stimulasi yang berkesinambungan, baik si anak sekolah atau tidak,” ungkap psikolog sekaligus praktisi pendidikan anak, Fitriani F Syahrul, M.Si, Psikolog.
Terlebih jika orangtua memutuskan untuk tidak mendaftarkan balita ke TK, playgroup, atau lembaga pendidikan manapun. Untuk mendidik anak di rumah, orangtua perlu membekali diri dengan wawasan yang luas tentang perkembangan anak, menyiapkan energi, dan meluangkan lebih banyak waktu. “Bacalah buku-buku tentang perkembangan balita di setiap tahapnya. Kita juga perlu menyiapkan bacaan dan aneka permainan menarik untuk menstimulasinya. Kalau perlu, buat jadwal harian untuk mendongeng, mengaji, bermain, dan aktivitas lain untuk dilakukan bersama,” papar ibu tiga putra ini.
Di rumah, orangtualah yang menjadi kunci keberhasilan stimulasi. Banyak hal seru yang bisa dilakukan orangtua bersama balita, yang tujuannya tak hanya mengajaknya bermain, tapi juga belajar. Memasak bersama, membuat kue, berkebun, bahkan membersihkan rumah saja bisa menjadi aktivitas menyenangkan baginya. Yang penting, orangtua memahami jenis permainan yang cocok untuk setiap usia. Permainan untuk anak usia 2 tahun tentu berbeda dengan anak usia 4 tahun. Semakin kecil, Anda tentu patut semakin waspada, jangan sampai kegiatan bermain justru membuatnya terluka.
Agar proses belajar anak bisa efektif namun tetap menyenangkan baginya, ada lima prinsip yang harus diperhatikan orangtua dalam menyediakan aktivitas edukatif bagi balita.
- Space to explore. Pada dasarnya, balita butuh banyak bergerak, terutama untuk melatih kemampuan motorik kasarnya. Biarkan ia bermain bola, menari, melompat, main petak umpet, bahkan naik turun tangga—meskiberarti Anda perlu lebih ekstra mengawasinya.
- Room to think.Pada pendidikan anak usia dini, pembentukan kepribadian dan pola pikir menjadi fondasi utama. Ajari mereka untuk belajar mandiri dan beri mereka kebebasan untuk mengekspresikan perasaan.
- Opportunities to experience. Balita belajar banyak hal baru setiap hari. Bahkan ketika ia terjatuh, kaget, dan menangis, saat itu pula ia belajar. Orangtua hanya perlu memberikan kesempatan untuknya mempelajari pengalaman-pengalaman itu.
- Time to play.Balita tak butuh tekanan dan jadwal ketat untuk belajar, ia hanya butuh permainan yang menyenangkan. Bahkan jika ia harus belajar membaca, menulis, dan menghitung, lakukan dalam bentuk permainan sehingga ia tak merasa tertekan.
- Freedom to choose.Tak perlu memaksakannya akan sesuatu, berikan kebebasan untuk memilih kegiatan apa pun yang ia sukai. Karena dengan begitu, proses belajar akan lebih menyenangkan baginya dan ia pun dapat menyerap lebih banyak.
Manfaatkan Barang Bekas!
Banyak permainan edukatif yang bisa Anda lakukan bersama si kecil di rumah. Tak perlu mainan mahal-mahal, benda-benda yang ada di sekitarnya, bahkan barang bekas pun bisa jadi menarik bagi si kecil jika Anda pandai mengajaknya bermain dan berimajinasi.
- Ambil beberapa botol plastik bekas, ajak ia menyusunnya dengan rapi. Lalu, ambillah sebuah bola dan ajari ia menggelindingkannya tepat ke arah botol. Dengan permainan bowling sederhana ini, koordinasi tangan dan matanya akan terlatih dengan baik!
- Siapkan tepung, air, dan pewarna makanan. Ajak ia membuat adonan beraneka warna (playdough), yang nantinya bisa dijadikan berbagai bentuk. Anda akan takjub dengan imajinasinya.
- Manfaatkan kertas, koran bekas, dan cat air untuk mengajarinya membuat aneka bentuk origami. Anda juga bisa melatih motorik halus tangannya dengan memberikan gunting dan lem, lalu biarkan si kecil bereksplorasi menggunting dan menempel.
- Ambil dua pasang kotak sepatu, dan gunakan sebagai “sepatu raksasa” untuk lomba berjalan! Anda memang perlu lebih hati-hati kalau ia terjatuh, tapi permainan sederhana ini dapat melatih keseimbangan dan koordinasi kakinya.
- Dari kotak bekas kemasan susu, Anda bisa mengajaknya berkreasi membuat banyak hal. Bisa membuat puzzle, mobil atau kereta, robot-robotan, bahkan akuarium kertas. Dengan melibatkannya membuat mainan dari kotak susu ini, Anda bisa melatih motorik halus sekaligus mengasah kemampuan kognitif dan imajinasinya.
Ken Andari
Foto ilustrasi: google



Komentar