Sahabat Ummi, “Anak adalah cahaya mata.” Ungkapan itu benar adanya. Saat memperoleh karunia dari Allah, seorang bayi lelaki yang terlahir dari rahim istri saya, hati ini begitu bahagia. Semuanya terasa indah bagi saya.
Sebagaimana, mungkin, yang dialami ayah manapun pada anak pertamanya, di mana pun berada, saya selalu rindu padanya. Rasanya ingin selalu memeluk dan menciumi si kecil. Dalam perjalanan pulang kerja, sudah terbayang-bayang senyumnya yang lepas, lugas dan ikhlas. Saat si kecil menyambut saya di rumah, hilanglah segala lelah selepas bekerja keras.
Saya rasakan sendiri betapa proses perkembangan anak dari hari ke hari merupakan hal yang menakjubkan. Keunikan perilakunya selalu menggelitik orangtua. Tiada hari tanpa si kecil mengundang tawa, menyedot perhatian.
Sangat menarik mengamati bagaimana ia berkembang dari bayi yang telentang pasif, kemudian bisa tengkurap, duduk, berdiri, berjalan, sampai berlari-lari. Dari tidak bisa bicara apa-apa, kecuali menangis untuk kemudian bicara sepatah dua patah kata. Hati ini serasa melambung saat ia mampu mengucapkan kata “Ayah” dan ditujukan pada saya. Rasanya tak terlupakan.
Baca juga: Ibu Wajib Tahu Prinsip Perkembangan Anak
Saya pun sadar bahwa ternyata anak kecil adalah peniru ulung. Suatu pagi, kami mendapati si kecil, yang saat itu berusia 2 tahun, sedang sibuk dengan jemuran lipat alumunium. Dengan tangan kecilnya, satu per satu kaki jemuran itu ia angkat dan ia alasi dengan sandal yang ada di situ. Dengan suara cadel, si kecil menjelaskan, “Biar nggak lecet, Bi.” Rupanya ia mengambil pelajaran dari kebiasaan saya memberi alas, biasanya berupa sandal, pada standar motor agar lantai tidak lecet.
Ah, apalagi yang bisa saya dan istri lakukan saat itu, kecuali tertawa dengan hati takjub lantaran kemampuan si kecil mengingat dan memperhatikan apa yang dilihatnya. Ya, memang saya sadar kejutan-kejutan semacam ini akan terus ada mengiringi perkembangan si kecil menuju manusia seutuhnya.
Sebagai ayah, saya ingin melihat semua perkembangan itu. Alangkah ruginya bila kejutan-kejutan kecil itu justru hanya disaksikan oleh oleh pembantu karena kedua orang tua teramat sibuk untuk sekadar bermain dengan anak-anaknya. Jadi, saat berada di rumah, waktu saya adalah milik anak. Bahkan, sekedar membaca majalah pun membuat saya merasa rugi, karena rasanya saya telah merampas hak anak untuk berkomunikasi dengan saya.
Bila saya tak berada dekat dengannya, biasanya sepulang bekerja, istri saya yang menceritakan perkembangan terbaru si kecil. Dengan demikian, saya 'tak ketinggalan' perkembangan terbarunya, seolah saya selalu ada di sisinya setiap saat.
Tak sekadar mengamati, saya sadar sepenuhnya dia adalah amanah bagi kami, kedua orang tuanya. Tanggung jawab kamilah dalam merawat dan mendidiknya agar ia bisa tumbuh jadi anak yang tidak hanya lucu, tapi juga cerdas dan saleh.
Foto ilustrasi: google
Profil penulis:
Ahmad Taufik
(Layouter Ummi dan ayah satu anak)
Artikel terkait:
Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 1-3 tahun
Waspadai Beberapa Sikap Ayah yang Berpengaruh Buruk pada Perkembangan Kepribadian Anak
Orangtua Jangan Memaksakan Kehendaknya Pada Anak, Berbahaya Bagi Perkembangan Anak




Komentar