Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Kesehatan
  4. /
  5. TBC Tulang,Penyakit Seperti Apa sih?

   Rubrik : Kesehatan

TBC Tulang,Penyakit Seperti Apa sih?

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 4492 Kali

TBC Tulang,Penyakit Seperti Apa sih?
TBC Tulang,Penyakit Seperti Apa sih?

Sahabat Ummi tahu kah bahwa Indonesia masih menempati urutan ke-3 negara dengan kasus TBC terbanyak di dunia? Selain paru-paru, penyakit ini juga kerap menyerang organ lain lho. Tulang adalah salah satu organ yang sering terjangkit. Yuk kenali lebih jauh mengenai TBC tulang! 

“TBC tulang adalah TB extra pulmoner (luar paru-paru) yang paling sering terjadi,” jelas Ketua Prodi Kedokteran dan Pendidikan Dokter FKIK UIN Syarif Hidayatullah, dr Ahmad Zaki, SpOT, MEpid. WHO menyatakan, tahun 2007 Indonesia memiliki sekitar 530.000 penderita TBC. Sebanyak 20 persen di antaranya merupakan kasus TB di luar paru. Dari angka tersebut, sekitar 5.800 menderita TBC tulang belakang.

Meskipun penyakitnya terjadi di luar paru-paru, kuman TB tulang tetap masuk melalui paru-paru. “TB tulang disebabkan oleh kuman microbacteri tubercolosa. Ia masuk ke dalam tubuh melalui percikan air liur yang dikeluarkan oleh orang yang sudah terinfeksi lewat batuk atau bersin kemudian masuk ke saluran pernapasan orang yang tertular,” papar Zaki. Dalam proses terjadinya infeksi, paru-paru berperan sebagai jalan masuk kuman.

Perlu dipahami, yang ditularkan adalah kuman, bukan penyakitnya. Artinya, penderita TB tulang tidak selalu ditularkan oleh penderita TB tulang juga. Jadi, bisa saja seorang penderita TB paru menularkan kuman TB pada orang lain dan yang tertular itu kemudian menderita TB tulang. “Kalau kuman TB sudah masuk ke dalam tubuh, terserah si kuman mau menyerang organ yang mana,” tambah Ketua Umum Perhimpunan Profesi Kesehatan Muslim Indonesia (PROKAMI) ini.

 

Vaksin Bukan Jaminan

Pada banyak kasus TB tulang, seringkali penderita pada awalnya tidak mengalami gejala-gejala khas TBC. “Bisa saja pasien tidak mengalami batuk dalam waktu lama, demam ringan, dan penurunan berat badan, walaupun masuknya pasti lewat paru,” ulas Zaki. Kalau kuman menyerang tulang, biasanya penderita akan merasakan nyeri atau perubahan bentuk tulang di bagian yang diserang kuman. Bagian tulang yang paling sering diserang adalah ruas tulang belakang di atas pinggang. Kadang ditemui juga infeksi di bagian lutut dan persendian lain.

Pada proses penegakan diagnosis, dokter juga akan mewawancarai penderita seputar kondisi kesehatan keluarganya. Sebab, TB tulang adalah penyakit infeksi. Penderitanya pasti ditularkan oleh orang lain yang bisa jadi anggota keluarganya sendiri. Selain itu, dilakukan juga pemeriksaan penunjang medis, antara lain rontgen paru dan tulang belakang, tes mantoux, serta pemeriksaan dahak. 

Karena TB tulang adalah penyakit infeksi yang pasti ditularkan oleh orang lain, maka lingkungan yang didiami oleh orang terinfeksi TB adalah faktor risiko utama. Kita tidak bisa benar-benar memastikan bahwa orang-orang di sekitar kita terinfeksi TB atau tidak, di titik inilah vaksin BCG mengambil perannya. Namun, vaksin ini sebenarnya tidak melindungi penggunanya dari kuman TB secara total. “Vaksin ini sebenarnya bukan membuat seseorang aman dari bakteri TB, tapi mencegah bertambah parah bila terjangkit,” jelas Zaki.

 

Keropos dan Bernanah

Lantas, apa sebenarnya yang terjadi pada tulang seorang penderita TB tulang? “Setelah kuman TB hinggap di paru-paru, dia masuk ke sistem sirkulasi darah yang memberikan suplai darah ke tulang belakang. Di sini, dia merusak struktur tulang belakang sehingga tulang seperti menjadi rontok. Istilahnya cortus vertebra,” tutur alumnus FKUI ini.

“Setelah tulang itu rontok dan kolaps,” tambah Zaki, “kuman kemudian aktif memproduksi nanah. Ketika jumlahnya sudah banyak, nanah ini berpotensi menambah kerusakan dengan menekan saraf tulang belakang atau medula spinalis.” Penekanan pada struktur saraf tulang belakang ini menyebabkan gangguan defisit neurologis. Bila yang kena adalah saraf tulang belakang punggung, tungkai bawahnya akan menjadi lemas, kebas, gerak terbatas, sampai pada akhirnya dia bisa lumpuh. Kalau yang tertekan saraf di bagian leher, keempat tungkainya tidak bisa bergerak. Di fase yang sudah lanjut, bisa menimbulkan kelumpuhan. Bila nanah belum sampai menekan saraf tulang belakang, biasanya keluhan yang timbul hanya nyeri di tulang belakang, nyeri saat jalan jauh atau saat mengangkat beban berat.

 

Bisa Sembuh Total

Walaupun TB tulang termasuk penyakit infeksi yang serius, peluang untuk bisa sembuh total masih terbuka. Tentu saja, hasil penanganan tidak bisa selalu sama pada setiap orang. Tingkat keparahan infeksi dan usia juga memengaruhi hasil penanganan. “Ini penyakit karena bakteri, kalau bakterinya bisa dimusnahkan dan gejala-gejala penyertanya bisa dikendalikan, ya bisa sembuh. Tinggal dijaga supaya tidak ada penyulit yang lain,” papar kandidat doktor epidemiologi di FKM UI ini.

Dalam tindakan medis, nanah yang ada di rongga tulang disedot sampai tuntas. Kurva tulang yang tidak normal kemudian dikoreksi dengan memasang implan yang menghubungkan ruas tulang di atas dan di bawah ruas tulang yang rusak sehingga kembali ke kurva normal. “Tentunya kalau kita bilang sembuh, itu ada hitungannya. Prinsipnya, kalau kita bisa hilangkan kumannya dan kita kembalikan struktur tulangnya kembali ke awal, insya Allah bisa kembali normal. Tapi kalau yang sudah lama lumpuh, sarafnya sudah tertekan lama, itu tidak bisa langsung normal setelah tindakan. Mungkin nanti akan kembali fungsinya sekian persen,” urai Zaki.

Menurut Zaki, yang menyulitkan proses pengobatan sebenarnya adalah kepatuhan berobat. Pengobatan pasien TB extra pulmoner dua kali lebih lama dari TB paru. Penderita harus minum obat anti TB (OAT) setiap hari selama setahun. “Ini tantangan buat para petugas kesehatan untuk memberikan pemahaman. Kalau pasien berhenti minum obat di tengah jalan, dia harus mulai dari awal lagi karena kumannya sudah resisten,” pungkas Zaki.

 

Didi Muardi 

Sumber: Kesehatan Keluarga 02-XXIX Februari 2017

Foto ilustrasi: google 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});