Ummi, Pak Gozali, saya seorang ibu rumah tangga yang juga bekerja sebagai guru honorer. Menjelang Hari Raya Idul Fitri saya suka membuat kue kering dan saya jual kepada rekan-rekan. Usaha tersebut sudah berjalan selama tiga kali hari raya dan saya sudah mempunyai banyak pelanggan. Usaha ini saya kerjakan bersama keluarga sebagai selingan. Walaupun selingan pekerjaan ini cukup menguntungkan. Lumayan untuk menambah kebutuhan hari raya keluarga saya.
Sekarang, saya ingin usaha ini tidak lagi hanya dilakukan sebagai usaha sambilan pada hari raya saja. Saya ingin mengusahakannya setiap hari, apalagi selain kue kering saya juga bisa membuat kue-kue lainnya. Modal saya sangat terbatas tetapi saya sangat berkeinginan punya usaha sampingan, selain menjadi guru. Hal apa saja yang harus saya persiapkan untuk memulai usaha ini ?
Afifah, Depok
JAWAB
Alhamdulillah, rupanya keahlian yang ibu Afifah miliki sudah bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Walau besarnya belum seberapa, tapi ini sudah bisa jadi bukti, bahwa kalau dikembangkan lagi, bukan tidak mungkin usaha Ibu ini bisa ikut menopang kebutuhan rumah tangga. Betul nggak?
Untuk persiapan teknis produksi, saya rasa Ibu malah lebih tahu mengenai hal ini. Apalagi Ibu sudah menjalankan usaha ini secara musiman selama tiga tahun terakhir. Alat apa saja yang dibutuhkan untuk produksi tentunya disesuaikan dengan kue apa saja yang akan dibuat. Sedangkan untuk pembelian bahan-bahannya disesuaikan juga dengan skala produksi.
Baca juga: Penghasilan dari Rumah? Kenapa Tidak?
Nah, bicara masalah skala produksi. Ada satu hal yang harus kita perhatikan dalam memulai usaha kue ini. Yaitu menentukan strategi berjualannya. Apakah akan memproduksi secara kontinyu dan membuka gerai untuk memasarkannya. Ataukah hanya akan menjalankannya di rumah saja dan memproduksi hanya berdasarkan pesanan. Karena dua kemungkinan ini akan sangat mempengaruhi strategi pemasaran dan besarnya modal yang diperlukan. Sekarang, kita bahas satu per satu kemungkinan tadi:
1. Menjalankannya dari rumah
Kalau hanya akan menjalankan usaha ini dari rumah saja, alias menjadikannya sebagai usaha rumahan, maka yang dilakukan hanyalah memperpanjang waktu pelayanan saja. Yang tadinya hanya musiman menjelang hari raya, sekarang menjadi usaha rumahan yang lebih serius.
Jadi, tidak banyak modal yang harus disiapkan. Ibu hanya perlu menyiapkan modal untuk produksinya saja. Karena biasanya konsumen hanya akan membayar setelah kuenya jadi, maka modal yang diperlukan hanyalah biaya untuk pembelian bahan-bahan kue tersebut.
Tapi, usaha rumahan biasanya punya kendala klasik, yaitu pasar yang terbatas. Coba deh, dievaluasi lagi, apakah pelanggan yang sudah ada sekarang ini sudah cukup besar permintaannya terhadap kue. Menjelang lebaran, jelas saja mereka perlu kue untuk suguhan lebaran. Tapi apakah mereka akan memesan kue selain untuk lebaran. Kalau pelanggan Ibu sudah cukup banyak, biasanya pesanan akan selalu ada untuk acara-acara tertentu seperti pernikahan, ulang tahun, tasyakuran, dan lainnya. Tapi kalau pelanggannya belum cukup banyak, mungkin pesanan di luar lebaran pun sedikit. Mau tidak mau Ibu harus menambah lagi jumlah pelanggan dengan mengadakan promosi.
Promosi yang diperlukan tidak perlu dalam bentuk besar, setidaknya leaflet atau brosur yang disebarkan di perumahan sekitar. Untuk membuat brosurnya lebih menarik, coba pasang foto beberapa jenis kue andalan Ibu dalam brosur itu. Dan jangan lupa, tawarkan juga kuenya pada perusahaan atau instansi yang kebetulan kantornya dekat dengan rumah. Biasanya kantor juga butuh kue yang cukup besar untuk menjamu tamu atau acara-acara tertentu. Untuk melakukan pemasaran ke kantor-kantor, jangan ragu untuk memberikan contoh beberapa jenis kue selain brosurnya juga.
2. Membuka gerai
Dengan membuka gerai sendiri, keuntungannya adalah kita bisa memiliki pasar yang lebih luas. Kita tidak hanya mengandalkan langganan yang selama ini sudah ada saja, namun juga masih bisa mengharapkan pertambahan konsumen jika memiliki lokasi gerai di tempat strategis dan cocok dengan produknya.
Selain itu, dengan membuka gerai juga bisa memproduksi secara kontinyu. Produksi yang kontinyu ini cukup penting untuk meningkatkan kualitas produk dan memperbanyak jenis produk yang bisa dijual. Karena kalau mengandalkan pesanan saja, biasanya konsumen hanya akan memesan kue yang sudah diketahui saja. Tapi kalau ada display kue-kue kreasi baru, konsumen akan mencoba kue baru tersebut.
Tentu saja pemasarannya akan lebih mudah lagi jika Ibu punya gerai sendiri. Dengan lokasi yang strategis, maka plang nama dan promosi seadanya mungkin sudah memadai. Tapi jangan lupa untuk menginformasikan juga pada pelanggan lama bahwa sekarang Ibu sudah punya gerai sendiri.
Untuk membuka gerai ini tentunya juga tidak kecil modalnya. Modal yang paling besar akan terserap pada biaya sewa toko dan displaynya. Setidaknya sewa untuk satu tahun harus sudah disiapkan di muka. Kalau Ibu masih berprofesi sebagai guru honorer, maka Ibu juga mungkin harus menggaji karyawan yang setiap hari memproduksi dan menunggui gerai tersebut. Tapi jangan khawatir, dimana ada kemauan disitu juga ada jalan.
Coba deh tawarkan kerja sama dengan saudara atau tetangga yang sudah melihat bukti nyata bahwa kue buatan Ibu Afifah memang laris manis di hari raya. Dengan bermodalkan pengalaman dan kepercayaan, bukan tidak mungkin mereka mau bekerja sama untuk menyediakan permodalannya.
3. Jalan tengah
Selain dua kemungkinan di atas, ada jalan tengah yang bisa diambil. Agar bisa memproduksi secara terus menerus, dan bisa mendisplay kue tanpa harus keluar banyak uang untuk membuka gerai. Yaitu dengan menggunakan gerai yang sudah ada milik orang lain.
Caranya? Mudah saja, titipkan saja berbagai macam kue buatan Ibu itu ke beberapa toko, kios atau martdisekitar rumah. Alias konsinyasi. Memang butuh modal juga untuk memproduksi kue yang dititipkan di tempat orang lain dengan resiko tidak laku. Tapi modalnya masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan membuka gerai sendiri.
Nah, dari tiga alternatif tersebut ibu dapat memilih mana yang lebih sesuai dengan kondisi ibu.
Kontributor: Ahmad Gozali, Perencana Keuangan
Foto ilustrasi: google
Artikel terkait:
Tips Agar Tidak Menjadi Rekan Kerja yang Nyebelin
Kelemahan dan Kelebihan Jual Barang Secara Online
Belajar Ketangguhan dari Fatimah

Komentar