“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)” (Q.S. At-Tahrim (66): 10).
Al-Matsal dalam Alquran
Di antara metode dakwah Alquran untuk menghantarkan manusia kepada hidayah Allah dan meningkatkan potensi positif manusia serta mengikis potensi negatif dalam dirinya adalah dengan Matsal (perumpamaan/contoh). Melaluimatsal, makna-makna agung yang ma’qul (logis) dapat dihadirkan dalam bentuk riil dan konkret sehingga mudah dipahami dan melekat dalam pikiran. Begitu pentingnya metode ini sehingga mendapatkan porsi yang cukup besar dalam Alquran. Imam Ibnu’l Qayyim dalam kitab “A’laamu’l Muwaqqi’in” mendapati lebih dari 40 (empat puluh) matsaldalam Alquran. Salah satunya ayat di atas.
Baca juga: Ketika Menemui Konflik Antara Keluarga dan Aktivitas Dakwah
Ujian Dakwah
Jalan mengajak umat manusia kepada agama Allah bukanlah bertaburan dengan bunga-bunga, melainkan dipenuhi dengan berbagai macam duri dan ujian. Ujian dakwah ada dua macam; internal dan eksternal. Jika ujian eksternal datang dari musuh-musuh Islam dan masyarakat sekitar, ujian dakwah internal bisa datang dari diri pribadi dai, bisa juga dari rumah tangganya. Istri dan anak yang hidup serumah pun ternyata bisa menjadi musuh dan batu ganjalan bagi akselerasi dakwah sebagaimana firman Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu...” (Q.S. At-Taghaabun: 14).
Ayat dalam Q.S. At-Tahrim di atas telah membuktikan hal ini. Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihimassalam yang menemani kedua suaminya sepanjang siang dan malam dalam suka dan duka ternyata tidak membenarkan risalah yang diemban kedua suaminya, bahkan bergabung dalam barisan mereka yang memusuhi dakwah.
Sebagian ulama tafsir di dalam kitab mereka menghabiskan banyak energi dengan menyuguhkan riwayat-riwayat tentang nama istri Nabi Nuh dan Luth. Tidak terlalu penting bagi kita analisis sejarah yang mengungkap bahwa nama istri Nabi Nuh itu Waaghilah atau Waa’ilah dan nama istri Nabi Luth itu Waalihah atau Waahilah (Tafsir Ruuhu’l Ma’aani, Al Alusi XV/240-241). Namun, yang jauh lebih penting adalah peran tokoh atau sosok yang ditampilkan oleh Alquran serta pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut. Sebab, pribadi-pribadi yang disuguhkan Alquran hanyalah sekedar contoh bagi sebuah hakikat abadi yang terekam dalam kitab suci.
Penyebutan dengan lafazh “Tahta ‘abdaini min ‘ibaadina shalihaini”(di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami), bukan “Tahtahuma” dengan dhamir karena sebelumnya nama Nuh dan Luth disebut jelas, hal ini menunjukkan pujian dan tasyrif (pemuliaan) dari Allah bagi Nabi Nuh dan Luth sehingga langsung diidhofahkan kepada-Nya; “min ‘ibaadina”. Artinya Allah membangga-banggakan hamba-Nya yang dekat dengan-Nya. Lalu, penyifatan keduanya dengan “shaalihaini” adalah karena sifat inilah yang dipakai Allah dalam menyifati hamba-hamba pilihan-Nya. Seperti tentang diri Nabi Ibrahim as., Allah berfirman: “..dan sesungguhnya dia benar-benar di akhirat termasuk orang-orang saleh” (Q.S. Al-Baqarah: 130). Doa Nabi Yusuf as.: “...dan gabungkanlah aku denganorang-orang saleh” (Q.S. Yusuf: 101).
Tafsir “Khianat”
Maksud khianat dalam ayat di atas “...lalu kedua kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya” adalah khianat dalam dakwah, keimanan dan Addin sehingga tidak beriman kepada kedua suaminya dan mendustakan risalah kenabiannya (lihat riwayat-riwayat tentang ini dalam Tafsir Ibnu Jarir XII/160-161). Bukan khianat Faahisyah, seperti selingkuh dan berbuat serong. Sebab, menurut Ibnu Katsir, istri-istri para nabi itu ma’shum (suci) dari berbuat zina karena kemuliaan dan kehormatan kenabian para suaminya (Tafsir Ibnu Katsir V/114).
Bentuk pengkhiatan istri Nabi Nuh as, di antaranya ia mengolok-olok suaminya di hadapan kaumnya seraya mengatakan, “Sesungguhnya ia (Nuh) gila”. Selain itu ia juga sering membocorkan rahasia Nuh, khususnya jika ada seseorang yang beriman dengan Nuh, ia memberitahukannya kepada para pembesar kaumnya. Informasi semacam ini tentunya sangat berharga sekali bagi musuh dakwah untuk mengetahui peta kekuatan dakwah sesungguhnya.
Sementara pengkhianatan istri Nabi Luth as. adalah dengan memberitahu kaumnya tentang tamu-tamu suaminya agar mereka berbuat yang tidak senonoh (homoseks) terhadap mereka. Hal ini disebabkan dekadensi moral yang melanda kaum Nabi Luth adalah perilaku homoseksual.
Tidak Berguna Kedekatan tanpa Keimanan
Ayat ini memberikan pelajaran berharga bagi kita, bahwasanya hubungan kekerabatan karena nasab (keturunan) atau pernikahan tanpa keimanan sama sekali tidak akan dapat menyelamatkan seseorang dari azab Allah SWT. Di saat Nabi Nuh as. memohon kepada Allah untuk menyelamatkan anaknya dengan dalih ia termasuk keluarganya, justru Allah meluruskannya melalui firman-Nya:
“Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik” (Q.S. Huud: 46).
Meski menjadi istri-istri nabi yang notabene mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah, tetapi selama mereka kafir dan tidak beriman, “maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah”.
Hal ini merupakan sindiran bagi ummahatul mukminin, istri-istri Rasulullah SAW, bahwasanya pernikahan mereka dengan Nabi SAW tidak akan memberi mereka faedah apa pun jika mereka maksiat kepada Allah Taala sebagaimana kisah yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat awal dalam Q.S. At-Tahrim ini, karenanya mereka bertanggung jawab atas diri mereka sendiri di hadapan Allah SWT.
Sekaligus sindiran bagi siapa saja yang bangga dan menganggap ‘mulia’ karena kedekatannya dengan orang-orang mulia. Sebab, kemuliaan yang hakiki di sisi Allah hanyalah manakala seseorang dapat mentransformasikan nilai-nilai takwa dalam berbagai macam aspek kehidupan.
Perhatikan firman Allah SWT:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu”(Q.S. Al-Hujuraat: 13).
Balasan Bagi Orang Kafir
Barang siapa yang menanam kekufuran maka ia akan menuai balasan neraka. Sebab itulah ayat di atas ditutup dengan balasan yang diterima oleh istri Nabi Nuh dan Luth akibat kekufuran dan keburukan mereka; “...dan dikatakan (kepada keduanya); “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.
Meskipun konteksnya terkait dengan istri Nabi Nuh dan Nabi Luth, tetapi sesungguhnya hal ini juga berlaku bagi siapa saja. Untuk itulah prototipe istri yang seperti itu harus dihindari dan diwaspadai karena hanya akan menimbulkan bencana rumah tangga di dunia dan akhirat. Sebaliknya menjadi istri salihah harus menjadi obsesi setiap wanita. Sebab, Nabi SAW bersabda: “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita salihah”.
Foto ilustrasi: google
Penulis: Ahmad Kusyairi Suhail
Artikel terkait:
Beginilah Seruan Dakwah yang Diperintahkan Allah
Tonggak-tonggak Dakwah Kontemporer



Komentar