Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Fashion
  4. /
  5. Luar Biasa, Perjuangan Menghidupkan Kembali Kain Tapis yang Hampir Punah

   Rubrik : Fashion

Luar Biasa, Perjuangan Menghidupkan Kembali Kain Tapis yang Hampir Punah

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 2719 Kali

Luar Biasa, Perjuangan Menghidupkan Kembali Kain Tapis yang Hampir Punah
Luar Biasa, Perjuangan Menghidupkan Kembali Kain Tapis yang Hampir Punah

Sahabat Ummi tahu kain tapis khas Lampung? Dan tahukah bahwa kain ini hampir punah beberapa tahun lalu?

 

Kira-kira 40 tahun lalu, Ida Mustika Zaini (82), sewaktu menjadi anggota DPRD Lampung, terusik dengan pertanyaan sederhana koleganya yang sebagian besar adalah pejabat-pejabat pemerintah. “Saya ingin beli oleh-oleh kerajinan khas Lampung, ada tidak, Bu?”

 

Ditanya seperti itu, pikiran Ida langsung melayang pada kain tapis. Malangnya, ia baru tersadar bahwa kain itu sudah langka. “Saya cari ke mana-mana tidak ketemu. Jangankan untuk dijual, saya ingin pinjam saja ke kampung-kampung perajin sudah tidak ada,” kenang Ida.

 

Ia segera sadar bahwa kerajinan khas Lampung yang cantik itu sedang berada di ambang kepunahan. Tak pelak, semakin sering ia menemui kebuntuan ketika mencari kain tapis, semakin menggumpal tekadnya untuk melestarikan bila menemukannya.

 

Terlahir Kembali

 

Pencarian Ida mendapatkan titik terang ketika berjumpa dengan Dewi Kartini, istri gubernur Lampung kala itu, Zainal Abidin Pagaralam. Niat Ida disambut dengan antusias. “Waktu itu beliau langsung buka lemari pribadinya dan memperlihatkan berbagai macam koleksi kain tapis yang ia simpan,” tutur Ida.

 

Tapi Ida sadar penemuan ini tidak berarti jika tidak ada lagi orang yang membuatnya. Dengan pengaruhnya sebagai anggota dewan, Ida kemudian menghubungi para bupati dan ketua-ketua adat. Puluhan warga juga ia bina untuk kembali menjadi perajin kain tapis. Bahkan, bukan hanya membina sumber daya manusianya, Ida pun harus bekerja keras untuk merekonstruksi kembali alat tenunnya. “Saya mencari alat tenun ke pelosok desa-desa. Ketemunya alat tenun yang sudah rusak. Akhirnya saya perbaiki alatnya dan saya perbanyak,” ujar Ida bersemangat.

 

Dalam rentang tahun 1975 – 1980, tidak kurang dari 60 perajin telah ia bina. Kain tapis pun kembali ramai beredar di pasar-pasar. Tidak hanya di Lampung, Ida juga mempromosikan kain tapis ke luar Sumatera bahkan mancanegara, dari Asia hingga Amerika. “Alhamdulillah, banyak pihak yang membantu saya mengenalkan kain tapis ke mana-mana,” ucap Ida, yang dinobatkan menjadi salah satu dari 100 Tokoh Terkemuka Lampung tahun 1998.

 

Simbol Produktivitas

 

Sekilas, rupa kain tapis senada dengan beberapa kain khas Sumatera lain, seperti kain songket, misalnya. Keduanya berupa kain tenun yang disulam dengan benang emas atau benang perak. Namun, motif kain tapis didominasi garis-garis lurus, terkadang diselingi gambar bunga atau hewan. Mengenai harga, selembar kain tapis dinilai jutaan rupiah, tergantung kualitas dan kerumitannya.

 

Mulanya tapis adalah kain yang digunakan untuk acara-acara adat yang sakral. Karenanya ia memiliki berbagai motif, yang menyimpan makna tertentu dan—menurut adat—dikenakan di acara tertentu saja. Misal, tapis jung sarat untuk dikenakan mempelai wanita saat melangsungkan pernikahan. Tapis raja medal dipakai oleh istri kerabat paling tua pada upacara adat. Sedangkan tapis balak biasanya digunakan oleh adik perempuan serta istri dan anak seseorang yang sedang mengambil gelar pangeran pada upacara pengambilan gelar atau pada upacara mengawinkan anak.

 

Selain peruntukan yang berbeda, wilayah pembuatan juga menjadi faktor yang melahirkan varietas kain tapis. Sebut saja tapis pesisir, tapis tulang bawang, dan tapis sungkai way kanan.

 

Bukan hanya menjadi simbol ketinggian budaya dan seni masyarakat Lampung, kain tapis juga menjadi lambang produktivitas perempuan pada zamannya. Semakin banyak kain tapis yang dibuat oleh seorang perempuan, semakin lekatlah predikat ‘rajin’ padanya. Sebaliknya, semakin sedikit seorang wanita membuat kain tapis maka masyarakat akan menilainya sebagai gadis pemalas.

 

Menyesuaikan Zaman

 

Kini corak tapis bukan saja dipakai di kain, melainkan marak juga digunakan sebagai modifikasi pakaian modern, kopiah atau songkok, dan hiasan dinding. Pembuatannya pun banyak dimodifikasi agar lebih efisien. “Sekarang macam-macam cara orang membuatnya. Sudah tidak sesuai aturan aslinya,” papar ibu 6 anak ini.

 

Tapi di atas “ketidakmurnian” itu, Ida tetap dapat menarik napas lega. “Saya bersyukur, tapis ramai dikenakan orang. Saya sudah melakukan tugas menghidupkan, saya harap generasi berikutnya bisa terus melestarikan,” ujar Ida penuh harap.

Didi Muardi

 

 

Pelestari Kain

 

Upaya menyelamatkan eksistensi kain Nusantara akan lebih kuat jika dilakukan bersama-sama. Berikut lembaga atau komunitas yang peduli terhadap keberlangsungan kain Nusantara sebagai identitas bangsa.

 

Cita Tenun Indonesia

Sesuai tujuannya melestarikan tenun warisan leluhur, perkumpulan yang terbentuk pada 2008 ini memiliki serangkaian kegiatan dan program, mulai dari pelestarian, pengembangan, pembinaan, hingga pemasaran kain tenun. Cita Tenun Indonesia juga mempunyai beberapa daerah binaan di Indonesia sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat perajin tenun Indonesia.

 

Komunitas Cinta Berkain

Komunitas yang diketuai Sitahani H Agustanzil ini mengajak perempuan Indonesia untuk mengenakan kain dalam keseharian mereka. Walau terkesan repot, ajakan berkain ini banyak menuai minat masyarakat. Terbukti, di usianya yang kedua, KCB telah memiliki kurang lebih 1.200 anggota yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, termasuk di San Fransisco, Amerika Serikat.

 

Yayasan Batik Indonesia

Sesuai namanya, yayasan ini memiliki kepedulian pada pelestarian batik, salah satunya dengan mendampingi perajin batik seluruh Indonesia untuk mendaftarkan batik karyanya ke Dirjen Hak Kekayaan Intelektual. YBI juga rutin mengadakan “Gelar Batik Nusantara” sebagai ajang untuk memamerkan, memperkenalkan, dan mempertahankan batik Indonesia yang merupakan warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Rahmi Rizal

 

Sumber: Majalah Ummi, Ragam 05-XXVIII Mei 2016

Foto ilustrasi : Google

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});