Sahabat ummi, Seorang ibu mempunyai kewajiban untuk menyusui anaknya. WHO mewajibkan masa menyusui ekslusif adalah selama 6 bulan, setelah itu bayi mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping dan tetap disusui sampai tiba masanya berhenti. Saat anak memasuki usia 2 tahun, ibu biasanya langsung galau karena sudah tiba waktunya menyapih. Haruskah anak langsung berhenti menyusu saat itu juga?
Dalam berbagai artikel tentang menyusui, disebutkan para ahli tidak dapat menjawab dengan tepat kapan waktu untuk menyapih. Banyak ahli merekomendasikan ASI diberikan hingga anak berusia dua tahun. Ada juga yang berpendapat bahwa menyapih sebaiknya dilakukan saat anak dengan kesadarannya sendiri menolak menyusu ke payudara ibu. “itu artinya bisa saat anak berusia satu tahun, dua tahun, atau tiga tahun.
Apakah tidak ada batasan waktu dalam menyusui? Walaupun para ahli tidak dapat menjawab dengan tepat kapan waktu menyapih, Al-Quran dapat menjawabnya dengan tegas dan jelas bahwa masa menyusui itu adalah dua tahun. Dalam Surat Luqman ayat 14, Allah berfirman yang artinya: “Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS.Luqman:14)
Sahabat ummi, menyapih berarti menghentikan pemberian susu pada anak. Jadi, mengubah pemberian makanan dari tipe yang satu ke tipe makanan yang lain. Hal ini berarti mengubah kebiasaan dan ini bukan sesuatu yang gampang. Itulah mengapa menyapih sebaiknya dilakukan perlahan-lahan, tidak mendadak. Penyapihan lebih dimaksudkan untuk meningkatkan kemandirian anak, bukan berarti setelah dua tahun kualitas ASI menurun.
Baca juga: 7 Tips Menyapih Anak
Ada sebagian ibu yang beruntung dan bisa melakukan proses penyapihan misalnya hanya dalam waktu seminggu. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih, misalnya sampai membutuhkan waktu hitungan bulan atau bahkan tahun. Semua berbeda-beda bergantung kondisi ibu dan anak.
Disarankan ibu memilih cara '’weaning with love’', yaitu dengan perlahan dan jangan membentak anak. Kurangi frekuensinya dari hari ke hari hingga akhirnya berhenti sama sekali. Mula-mula hentikan menyusu pada waktu tengah hari. Karena pada pagi hari biasanya payudara penuh ASI, sedangkan malam hari anak sangat suka menyusu. Gantilah ASI yang dihentikan itu dengan susu dalam cangkir. Jika hal ini sukses, kurangi lagi frekuensinya. Demikian seterusnya sampai menyusunya hanya 1 kali sehari.
Pada siang hari agar si kecil tak ingat pada ASI, sibukkan ia dengan berbagai permainan. Kalau lelah bermain, tidurnya jadi lebih cepat dan gampang. Karena, anak di saat mau tidur sedang dalam puncak-puncaknya ingin menyusu. Nah, si ibu bisa mengalihkan perhatiannya dengan mendongeng atau memperlihatkan gambar-gambar di buku cerita. Pelan-pelan, suara ibu dibuat semakin halus sehingga anak tertidur tanpa sempat ingat ASI lagi.
Jika menyapih dilakukan secara drastis. Entah itu dengan memisahkan tidur si kecil maupun mengoleskan minyak kayu putih, getah brotowali yang pahitnya luar biasa pada puting si ibu sehingga si kecil tak mau lagi menyusu. Hal tersebut bukan cara efektif yang bisa menyelesaikan masalah. Cara ini hanya akan mengagetkan si anak dan membuat hatinya terluka. Lain halnya jika dilakukan secara perlahan-lahan. Selain si kecil akhirnya dapat disapih, hatinya pun tak terluka dan tetap dekat dengan ibunya. Penting diketahui bahwa menyusui anak sama dengan mempererat kedekatan hubungan ibu-anak. Kedekatan ini penting untuk sikap mental si anak kelak.
Foto ilustrasi: google



Komentar