Sahabat Ummi...
Shofiyah binti Abdul Mutholib memang bukan wanita kebanyakan. Jiwanya, keturunannya, tidak seperti wanita umumnya. Ayahnya, Abdul Mutholib bin Hasyim adalah pemimpin kota Mekkah yang sangat dihormati. Sedang Kakeknya, Hasyim, adalah pimpinan bani Hasyim, salah satu keluarga paling terpandang di Mekkah. Ibunya pun dari kalangan keluarga terkemuka, yaitu Halah binti Wahab, saudara Aminah binti Wahab, Ibunda Rasulullah.
Walau bangsawan, Shofiyah tidak membiasakan hidup dalam kemewahan dan kemalasan. Ia justru menempa dirinya dengan jiwa kewiraan. Ia asah dirinya dengan keterampilan memanah, berkuda, serta memperbaiki peralatan perang. Ketika dia memiliki anak, ia didik Zubeir bin Awwam dengan hal yang sama. Zubeir adalah anak dari pernikahan keduanya dengan Al Awwam bin Khuwailid, saudara laki-laki Khodijah binti Khuwailid.
Baca juga: Inilah Kisah Shahabiyah yang Pemberani, Membela Budak Suaminya yang Disiksa Oleh Kafir Quraisy
Ia tidak ingin anaknya tumbuh menjadi anak yang lemah, penakut dan tak mampu berperang. Shofiyah sering membawa anaknya ke tempat-tempat berbahaya dan menakutkan bagi seorang anak kecil. Manakala ia melihat Zubeir ketakutan, dimarahinya anak itu, bahkan ia tak segan memukul Zubeir. Melihat gaya pendidikan Shofiyah yang keras, salah seorang pamannya pernah menegurnya, “Engkau memukul dengan pukulan benci, bukan pukulan seorang ibu.” Shofiyah menjawab, “Siapa bilang aku memukul benci. Aku memukul supaya ia pintar, tangguh menghadapi musuh dan pulang dengan kemenangan.” Usaha Shofiyah tidak sia-sia, Zubeir tumbuh menjadi salah seorang perwira dan pahlawan Islam yang ternama.
Shofiyah bukan hanya melatih diri dan mendidik anaknya. Ia pun benar-benar terjun dalam medan pertempuran bersama Rasulullah dan sahabat-sahabat yang lain. Tak segan ia menghunus pedang dan melawan para pria dari pasukan musuh, dan ia berhasil mengalahkan lawan-lawannya itu.
Hari itu, kaum muslimin sedang berperang di wilayah Uhud. Shofiyah bertugas membawa air dan memperbaiki busur-busur panah. Namun, ia terus mengamati jalannya pertempuran, hingga pada suatu saat, ia mendapati pasukan kaum muslimin terdesak. Sejumlah sahabat lari tunggang langgang meninggalkan Rasulullah. Hanya sedikit orang yang bertahan melawan musuh. Melihat itu, jiwa patriot Shofiyah pun bangkit. Serta merta ia lempar kantung air yang ia bawa, lalu berlari menuju medan perang. Shofiyah merebut sebilah pedang dari seorang muslim yang lari ke belakang, dengan kemahirannya memainkan pedang, ia hadapi setiap musuh yang menghadang.
Melihat itu, Rasulullah khawatir Shofiyah akan menemukan jenazah saudara laki-lakinya, Hamzah bin Abdul Mutholib, yang terkoyak-koyak. Rasulullah khawatir bibinya akan terpukul. Serta merta beliau berseru kepada Zubeir. “Cegah ibumu, Zubeir!”
Zubeir segera berpacu mengejar ibunya. “Ibu…, jangan majuu…,” teriak Zubeir. Mendengar seruan anaknya, Shofiyah tampak marah, “Pergi kau! Tak ada ibu-ibuan di sini!” Jawab Shofiyah. “Tetapi Rasulullah memerintahkan Ibu kembali,” kata Zubeir lagi. “Mengapa? Aku sudah mendengar mayat saudaraku dirusak!” seru Shofiyah. Mengetahui bahwa Shofiyah telah mengetahui kondisi jenazah Hamzah, akhirnya Rasulullah berkata pada Zubeir, “Biarkan ibumu, Zubeir” Zubeir pun membiarkan ibunya terus bertempur.
Seusai perang, Shofiyah menghampiri jenazah Hamzah. Ia memohon pada Allah agar mengampuni saudaranya itu. “Aku rida dengan keputusan Allah atasnya. Insya Allah aku bersabar,” ujar Shofiyah dengan tegar. Ketegaran seorang wanita pejuang sejati. (Wirda Yanti)
Foto ilustrasi: google
Artikel terkait:
Hidup Penuh Makna Para Shahabiyah
Kisah Teladan Ummu Salamah, Menjadi Istri Cerdas Dalam Mendampingi Suami
Shahabiyah, Tak Malu Perbaiki Diri

Komentar