Sahabat Ummi, menjadi perempuan pengukir sejarah. Apa yang terpikirkan dalam benak kita tatkala membaca kalimat tersebut? Sebagian besar kita pasti memahaminya sebagai sebuah upaya menjadi tokoh perempuan yang namanya terukir dalam buku-buku sejarah atau pun dikenal luas di kalangan publik (baca: terkenal). Benarkah? Ya, memang tidak salah makna tersebut, tapi tidakkah itu berarti terlalu menyempitkan makna ‘mengukir sejarah’?
Benar kita telah banyak membaca nama-nama perempuan yang tertera dalam banyak buku sejarah. Sebagai muslimah, kita juga banyak membaca sejarah perempuan muslim yang berpengaruh dalam dunia keislaman. Sebut saja istri-istri Rasulullah SAW dan para sahabiyah yang namanya harum menghiasi beragam literatur.
Baca juga: Kisah Teladan Ummu Aiman, Perempuan Gagah Berani yang Masuk Surga
Pertanyaannya, apakah menjadi perempuan yang namanya terukir dalam buku sejarah itu adalah satu-satunya tolok ukur seorang perempuan pantas disebut ‘perempuan pengukir sejarah’? Lalu, bagaimana nasib ribuan perempuan lain—atau bahkan jutaan perempuan, yang namanya ‘tak sempat’ tertera dalam buku-buku sejarah? Apakah dengan begitu mereka tak layak disebut perempuan pengukir sejarah?
Tulisan ini bukan untuk menampik fakta bahwa para perempuan yang namanya tertera dalam buku-buku sejarah itu adalah perempuan keren dan menginspirasi. Namun penulis hanya ingin memberikan sudut pandang lain, bahwa ada banyak cara untuk menjadi perempuan dengan kategori ‘pengukir sejarah’. Baiklah kita kupas dulu tentang para perempuan yang menjadi ‘tokoh’ pengukir sejarah di atas.
Kalau kita telusuri, sebagian besar para perempuan yang namanya harum tertera dalam buku sejarah, adalah para perempuan yang terlihat kontribusinya dalam ruang publik. Misalnya saja Aisyah ra. Siapa tidak kenal beliau? Bukan hanya karena beliau istri Nabi SAW dan juga putri kesayangan Abu Bakar ra, sehingga beliau dikenal publik. Namun beliau juga menjadi perempuan yang berjasa dalam meriwayatkan dan juga menerangkan perihal hadits Nabi SAW. Bahkan beliau digelari ahli hadits perempuan, disejajarkan dengan Ibnu Mas’ud ra.
Abu Musa berkata, “Tiada satu pun sahabat yang menanyakan hadits kepada kami, lalu kami menanyakannya kepada Aisyah kecuali kami pasti mendapatkan ilmu darinya.” (Sunan at-Tirmidzi 4257, berderajat sahih).
Dari Hisyam, bapaknya berkata, “Aku tidak melihat seorang pun yang lebih mengetahui ilmu faraidh, ilmu fikih dan syair, daripada Aisyah.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, berderajat sahih)
Maka sangat pantas apabila gelar ‘perempuan pengukir sejarah’ disematkan kepada Ummul Mukminin Tercinta, Aisyah ra.
Tengok juga kisah Nusaybah binti Ka’ab al Anshariyah. Beliau senantiasa menjadi perempuan publik terutama dalam perkara peperangan. Banyak perang yang beliau ikuti salah satunya adalah perang Uhud. Ada kisah menarik dari Perang Uhud ini, yaitu ketika banyak kaum muslimin kocar-kacir meninggalkan Rasulullah SAW, Nusaybah termasuk orang yang senantiasa melindungi Rasulullah SAW.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Aku tidak menoleh ke kiri dan ke kanan, kecuali aku pasti mendapatinya berperang melindungiku.” (Al-Maghazi susunan al-Wahidi, 1/269)
Yang lebih heroik lagi, Nusaybah juga menjadi perempuan yang ikut berjihad bersama kaum muslimin untuk menumpas Musailamah al Kadzdzab. Dalam pertempuran tersebut beliau mendapat belasan luka dan salah satu tangannya putus. Subhanallah. Maka pantas pula gelaran ‘pengukir sejarah’ tersemat pada perempuan tangguh ini.
Dan masih banyak sekali kisah perempuan inspiratif yang namanya mahsyur. Baik dari kalangan sahabat Nabi SAW, tabiin hingga perempuan muslim masa kini. Begitu pun perempuan muslim di Indonesia yang telah mengharumkan bangsa seperti Rahmah el Yunusiyah yang mengabdikan diri untuk membuat sekolah kaum perempuan, juga Siti Aisyah We Tenriolle yang juga mengabdikan diri dalam bidang pendidikan dengan membuat sekolah bagi semua kalangan. Dan lagi-lagi, kita lihat semua gelaran mahsyur dan ‘terukir dalam sejarah’ itu banyak disematkan pada para perempuan yang berkontribusi langsung di ranah publik.
Pertanyaannya, apakah perempuan yang tidak cukup waktu untuk berkecimpung di ranah publik berarti tidak bisa menjadi ‘perempuan pengukir sejarah’? Untuk menjawabnya, mari kita tengok kisah para ulama dan umara’ yang berpengaruh dalam dunia Islam. Mari baca satu per satu biografi para ulama dan umara’ tersebut, maka kita akan dapatkan sebuah simpul yang sama, yaitu simpul Al Umm (ibu) sebagai salah satu faktor utama keberhasilan para lelaki shalih tersebut. Ya, para lelaki itu dididik dengan luar biasa oleh ibu mereka.
Banyak ulama dan umara’ yang hebat, pun dikenal mahsyur di berbagai literatur sejarah. Namun, tak banyak orang mengenal siapa perempuan (ibu atau istri) di balik kesuksesan para lelaki itu. Ada nama ibu ulama yang tertuang dalam literatur, seperti ibunda Imam Syafi’I rahimahullah, yaitu Fatimah binti Abdillah. Namun, lebih banyak lagi ibu para lelaki mahsyur yang tidak dikenali atau terpublikasi. Meski demikian, bukan berarti mereka menjadi perempuan yang tak mengukir sejarah. Mungkin sejarah pribadinya tak terukir, namun sejarah anaknya menjadi bunga yang senantiasa harum dikenang oleh umat ini.
Penulis sedikit menyimpulkan bahwa masalah ‘mengukir sejarah’ bisa dikaitkan dengan masalah potensi dan kontribusi. Ada perempuan yang mempunyai potensi publik yang besar—dan dia mempunyai pengaruh yang kuat dengan potensi publiknya itu, maka alangkah baiknya potensi itu diasah dan dikembangkan untuk berkontribusi kepada umat. Misalnya potensi menjadi dokter, guru, pebisnis wanita, penulis, dan lain-lain. Ketika semua potensi diasuh dengan baik dan diarahkan untuk kepentingan umat, maka sebenanya dia sedang mengukir sejarahnya sendiri. Meski kadang tak harus menjadi sangat mahsyur untuk dikenang—tak harus jadi publik figur yang masuk TV atau koran, sebab ketika dia banyak berkontribusi maka dengan sendirinya orang akan mengenang kebaikannya.
Pun ketika ada yang menguatkan potensi domestiknya, seperti potensi merawat dan mendidik anak-anaknya Ketika potensinya itu diasah untuk memberikan kebaikan kepada umat, maka kita juga pantas menyematkan kepada para perempuan domestik ini gelaran ‘perempuan pengukir sejarah’.
Misalnya saja ketika ada ibu yang memilih fokus untuk mendidik anaknya agar menjadi ahli Qur’an dan ulama, secara tidak langsung perempuan ini telah mengukir sejarah dirinya melalui anak-anaknya. Mungkin dia tidak populer, namun kontribusinya memberi pengaruh kepada umat.
Untuk itu mari kita renungkan kembali makna ‘mengukir sejarah’ bagi kaum perempuan. Kita harus yakin, bahwa setiap kita pasti bisa mengukir sejarah diri kita, baik langsung maupun tidak. Semua bergantung bagaimana kita mengasah potensi diri dan berkontribusi kepada umat dengan potensi tersebut. Baik potensi publik maupun potensi domestik, semua istimewa di hadapan Allah.
Dan, kalaupun kelak kau sama sekali tak dikenang manusia, ingatlah Allah tak pernah lupa dengan amalanmu—sekecil zarah pun. Dan sungguh, dikenal dan disanjung Allah jauh lebih utama dan mulia, daripada sekadar pujian dan tepuk tangan dari manusia.
Maka, Perempuan. Tunggu apalagi? Ayo kita berkontribusi!
Wallahu’alam bishshawab.
Foto ilustrasi: google

Komentar