Sahabat Ummi, memasuki sebuah pernikahan bukan hal yang mudah. Kita ditempah begitu banyak pelajaran hidup yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Ada yang langsung siap dengan berbagai kondisi, tak jarang juga yang terkaget-kaget dengan 'pelajaran baru' yang asing baginya.
Usia tidak secara otomatis bisa menjadi patokan suatu kedewasaan. Justru pengalaman dan yang lebih memiliki nyali tuk mengarunginyalah yang membuat kita lebih bisa bertahan. Tak jarang pernikahan yang sudah dewasa dan ekonomi mapan pun tak menjadi jaminan pernikahan itu langgeng dan minim perselisihan.
Tentu setiap pasangan berbeda menyikapi problematika rumah tangganya. Masalah satu dengan lainnya tak bisa di generalisir.
Misalnya sama-sama masalah ekonomi yang tak cukup.
■Si istri ridho membantu suaminya walopun kemudian pendapatan si istri lebih besar dan mereka tak mempermasalahkannya.
■Ada lagi dengan latar yang sama, si istri merasa seperti sapi perahan hingga cuma dia saja yg berusaha. Walo sebenarnya suami juga sudah berusaha.
■Dan pada kasus yang sama justru si suami merasa 'kelaki-lakiannya terganggu' karna si istri harus ikut mencari nafkah.
■Ada juga si istri yg lebih besar penghasilannya itu membantu suaminya,dan keluarga mereka tak masalah justru dari pihak keluarga perempuan merasa keberatan dan mengusik ketenangan keluarga kecil mereka.
♡♡♡Kalo mau ditarik garis peran yang sebenarnya, memang idealnya yang mencari nafkah adalah suami dan itu hukumnya wajib. Jika seorang istri ridho apapun yang didapatnya tanpa mengeluh kurang, ya tentu tak perlu lagi si istri membantu mencari nafkah tambahan.
Tapi jika keluarga itu merasa perlu peran istri untuk membantu perekonomian keluarga dan tak mempermasalahkan penghasilan istri lebih besar, tentu ini tak menjadi konflik karna saling membangun satu sama lain.
Tapi jika suami tak mampu mencukupi kebutuhan keluarga tapi si istri terus saja merasa dia yang lelah mencari tambahan, sebaiknya berfikir ulang, tujuan apa sebenarnya yg ingin dibangun. Jika tak sanggup, pintu perceraian halal dilakukan walo tidak disukai Alloh. Atau yang lebih parah malah suami yg tak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya, malah merasa 'ego'nya terganggu padahal si istri suka rela membantunya.
Ya, semua jalan adalah pilihan. Itu baru dari contoh ekonomi. Tapi konflik ekonomi masih banyak lagi. Termasuk life style dan lain-lain.
Belum lagi jika permasalahan keluarga yang lainnya. 'Rumput tetangga lebih hijau'. Dan masih banyak lagi.
Mempertahankan rumah tangga adalah seni. Seni memainkan peran. Banyak lelakon yang kita perankan. Memiliki komitmen dalam rumahtangga sebagai Rule yg sakral tuk di langgar, salah satu cara mempertahankan rumahtangga. Bagaimana jika di langgar padahal tetap ingin mempertahankan rumahtangga? Masing-masing pihak harus legowo tuk kembali membangun komitmen awal lagi. Maka, tak perlu mengungkit hal yang sudah disepakati tuk tutup buku. Namun ini butuh waktu recovery. Jika tak mampu dan tetap terluka, maka jangan berharap rumahtangga itu mampu bangkit dari permasalahan sesudahnya.
♡● Setiap permasalahan diusahakan dulu tanpa campur tangan orang lain. Itu diperlukan untuk meminimalisir permasalahan.
♡● Komunikasikan dengan pasangan.
♡● Ambil waktu yang memang kita berdua bisa menerima suatu pembicaraan serius. ♡● Jangan di saat masih panas atau lelah.
♡● Jika memang tak lagi bisa diselesaikan berdua, ambillah hakam, atau orang yang mengerti agama dan pengetahuan tentang pernikahan yg sifatnya netral.
Apapun keputusan yang kita ambil, renungkan panjang, baik buruknya, sehingga tak lagi menjadi penyesalan yg tak berkesudahan. Karna sejatinya, rumah tangga merupakan proses belajar yang tiada henti dan tanpa lelah. Sehingga mempertahankannya adalah kelulusan setelah kehidupan.
Penulis
Djuni Yadi seorang ibu rumah tangga yang memiliki 6 orang anak. Kuliah di Universitas Cokroaminoto jurusan Al ahwal Alsaksiyah. Dapat di sapa via wa 081267411019 atau fb djuni yadi.

Komentar