Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Traveling
  4. /
  5. Kesederhanaan Pesta Pernikahan di Komunitas Muslim Bharuch, India

   Rubrik : Traveling

Kesederhanaan Pesta Pernikahan di Komunitas Muslim Bharuch, India

  Ditulis Oleh Sukma Patel Dibaca 2498 Kali

Kesederhanaan Pesta Pernikahan di Komunitas Muslim Bharuch, India
Kesederhanaan Pesta Pernikahan di Komunitas Muslim Bharuch, India

Budaya India tak selalu gemerlap. Kemewahan baju dan aksesoris yang selalu tampak di setiap film Bollywood tak mencerminkan secara keseluruhan masyarakat di India. Sahabat Ummi, coba tengok komunitas muslim yang masih memegang adat dan tradisi ini. Seiring perkembangan jaman, keyakinan mereka tak tergerus arus modernisasi.


Bukan kali yang pertama saya diundang untuk menghadiri pesta pernikahan di area distrik Bharuch.
Bharuch merupakan kota kecil yang masuk dalam wilayah Gujarat, India. Siapa yang tak ingat pelajaran sejarah di sekolah tentang masuknya Islam di Indonesia? Sejak kecil yang tertanam di pikiran saya pedagang Arab, Parsi dan Gujarat memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di tanah air.


Sahabat Ummi, jika Indonesia memiliki tradisinya sendiri dalam hal pesta pernikahan, di Bharuch tradisi yang dipegang teguh pun masih berlaku hingga saat ini. Dari riset sederhana yang saya lakukan, betapa hebatnya tradisi ini masih mengakar kuat pada agama yang dianut, yaitu Islam.

 

Dalam pesta pernikahan atau di India disebut walimah, memang masih tergantung keadaan sosial dan ekonomi masing-masing orang. Namun tradisi walimah sepertinya tidak terlalu memberatkan keluarga pengantin dan orang-orang yang diundang.

 

Walimah sebesar apapun selalu tampak kesederhanaannya. Di komunitas muslim Bharuch menu yang dihidangkan tak sebanyak yang biasa kita temukan di Indonesia. Nasi Briyani atau Nasi Dal yang dimasak dengan daging sapi, menjadi hidangan pilihan dalam setiap acara walimah. Tak hanya itu, biasanya disediakan satu macam sweet yang merupakan hidangan manis pembuka dan butter milk sebagai penutupnya.

 

Cara penyajian dan makan terlihat sangat unik. Jika kita terbiasa dengan menu prasmanan atau standing party, di komunitas muslim Bharuch makanan disajikan pada piring besar yang terbuat dari aluminium. Biasanya satu piring untuk makan bersama tiga sampai empat orang.
Ini yang menimbulkan rasa kedekatan dan kekeluargaan  diantara masyarakat muslim India. Hidangan pun terasa lebih nikmat ketika dimakan bersama.

 

Pemilihan tempat tak selalu harus menyewa gedung. Mereka terbiasa menggunakan tanah lapang untuk menggelar pesta pernikahan. Tenda warna warni dengan kain terpal dan karpet dibentangkan untuk menyambut para tamu undangan yang ribuan jumlahnya.
Satu undangan biasanya untuk seluruh keluarga. Kecuali jika sang pengundang tidak terlalu mampu secara finansial. Biasanya mereka menulis catatan pada undangan, berlaku untuk satu atau dua orang saja.

 

Walimah di komunitas muslim Bharuch memang bermaksud untuk memberi pengumuman pernikahan dan berbagi kebahagian dengan orang sekitar. Jadi tradisi pemberian hadiah uang atau kain yang ada di sini, bukan seolah-olah untuk membayar makanan yang mereka makan dalam walimah. Pemberian itu merupakan tali kasih dan kepedulian terhadap si pengundang saja. Jumlahnya pun tak seberapa karena tergantung keikhlasan masing-masing.

 

Tak tampak pula pelaminan yang biasa kita lihat di setiap pesta pernikahan. Biasanya mempelai wanita berada dalam rumah, bersama keluarga dan kolega dekat yang berjenis kelamin perempuan. Hanya tamu perempuan saja yang bisa mengunjungi dan memberikan selamat.

Begitu juga dengan tempat tamu menikmati hidangan. Deretan meja dan kursi berjajar memenuhi ruang perjamuan. Namun laki-laki dan perempuan berada di tempat terpisah. Tak peduli suami istri datang bersama, mereka pun harus memasuki tempat yang berbeda.

 

Para tamu yang datang juga tampak kesederhanaannya dalam berpakaian. Salwar kameez, gaun panjang dan burqa yang dominan terlihat di setiap acara walimah. Tak banyak warna-warni coretan make up di wajah para wanita, hanya sedikit kaum muda dari area pusat kota yang tampak menggunakannya.

 

Masyarakat muslim Bharuch juga tampak santun. Tak hanya dalam berpakaian, tetapi juga tergambar dalam keakraban diantara mereka.

Tak heran jika mereka saling menyapa saat berpapasan di pintu masuk area walimah.
Bukan apa kabar atau sapaan sejenisnya.

“Khadhu?” Sapaan yang juga merupakan pertanyaan dalam bahasa Gujarati.
“Sudah makan?” Inilah artinya dalam bahasa Indonesia.

 

Sahabat Ummi, pada intinya masyarakat komunitas muslim Bharuch hanya mengikuti sunah yang ada di dalam ajaran agama Islam. Walimah sederhana namun hikmat membawa kebahagiaan bagi mempelai dan keluarganya juga para tamu undangan yang datang mengirimkan doa tulus untuk mereka.

 

Foto Ilustrasi : Sukma Patel

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});