Suatu kali Rasulullah saw sedang dikelilingi para sahabat. Beliau bertanya, "Tahukah kalian, siapakah Abu Dhomdhom?" Para sahabat saling melirik dan berbisik, menyadari bahwa tiada yang bernama Abu Dhomdhom di sana serta mereka pun tidak mengenalinya.
Para sahabat menjawab, "Kami tidak tahu, kami tidak mengenalnya, Allah dan Rasulullah-lah yang mengetahui." Lalu Rasulullah bersabda, "Abu Dhomdhom adalah nenek moyang kalian yang setiap menjelang fajar, ia bermunajat kepada Allah, 'Ya Allah, aku telah memaafkan, orang-orang yang menghancurkan kemuliaan martabat diriku.'"
Baca juga: Amalan Ibadah yang Rugi Jika Ditinggalkan Saat Ramadhan
Dari hadits di atas, kata Asep, Rasulullah mengajarkan kita agar melakukan proses memaafkan setiap hari untuk membuang kotoran batin. Proses itu seperti detoksifikasi atau mengeluarkan seluruh racun dalam tubuh. Hasilnya, tubuh, pikiran, perasaan, dan ruhani akan sehat.
Sahabat Ummi, momen Ramadhan adalah saat sangat tepat bagi kita untuk melakukan hal ini. Makna shiyam, menurut Asep Haerul Gani, praktisi psikolog, antara lain imsak, yang berarti menahan atau jeda. Shiyam Ramadhan dapat dimanfaatkan sebagai latihan untuk memberikan jeda pada pikiran kita ketika ada stimulus tertentu. Saat jeda itu kita arahkan pikiran agar memiliki perspektif yang netral, tepat, memberdayakan, dan membahagiakan.
Sedangkan momen Idul Fitri dapat digunakan sebagai momen memaafkan, bagi yang merasa dirinya terzalimi; dan bertobat bagi yang merasa dirinya telah menzalimi orang. Untuk memaafkan cukup dengan diri sendiri, tak perlu bertemu dengan orang yang menurut Anda telah bertindak zalim. Karena memaafkan adalah untuk kepentingan diri sendiri.
Bagi mereka yang pernah menzalimi seseorang, Islam mengajarkan pertobatan. Tobat yang menurut Asep memiliki makna awal mendekat, dilakukan pertama kali dengan orang yang dizalimi. Tujuannya, membina hubungan yang lebih baik dan saling memuliakan antara diri dengan orang lain yang telah terzalimi.
“Ingatlah, ungkapan 'Saya minta maaf' tidak cukup. Mengapa? Karena orang yang terzalimi boleh jadi sudah mengalami kerugian fisik, psikis, moral dan material,” pesan Asep, yang juga merupakan penulis buku Forgiveness Therapy: Maafkanlah Niscaya Dadamu Lapang.
Aini Firdaus
Foto ilustrasi: google

Komentar