Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
Logo Ummi
  1. Beranda
  2. /
  3. Sejarah Islam
  4. /
  5. Hawa, Inspirator Wanita Shalihah

   Rubrik : Sejarah Islam

Hawa, Inspirator Wanita Shalihah

  Ditulis Oleh Mahmud Budi Setiawan Lc Dibaca 1648 Kali

Sahabat Ummi, saat disebut “wanita shalihah”, yang sering kali dijadikan inspirator oleh kebanyakan wanita muslimah adalah: Asiah binti Muzahim, Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad dan Aisyah binti Abu Bakar. Namun, tulisan ini justru akan mengambil inspirasi wanita shalihah dari sosok yang jarang diungkap keshalihannya berdasarkan sudut pandang al-Qur`an. Beliau adalah Ibunda Hawa, istri Nabi Adam `alaihis salam.

Bila ditilik dalam Al-Qur`an, memang tidak tersebut secara khusus nama Hawa(karena nama “Hawa” sendiri ada dalam hadits Nabi). Tapi, benih-benih inspirasi yang bisa dijadikan teladan bagi wanita shalihah sebenarnya sudah terkandung di dalam kisahnya bersama Adam `alaihis salam. Di antara inspirasi yang bisa kita ambil dari kisah Hawa dalam Al-Qur`an ialah sebagai berikut:

 

Baca juga: Kisah Teladan Ummu Aiman, Perempuan Gagah Berani yang Masuk Surga

 

1. Sejak awal peran Hawa adalah sebagai zauj(pasangan) bagi Adam `alaihis salam(QS. An-Nisa[4]: 1).

Ini berarti, sejak pertama kali peran wanita sudah sangat jelas, yaitusebagai pasangan laki-laki.Disinilah letak keshalihan Hawa yang pertama adalah menjalankan perannya dengan baik sebagai pasangan Adam `alaihissalam. Dari sini bisa diambil beberapa  poin penting:

a. Wanita shalihah itu tidak akan menafikan kodratnya sebagai seorang istri.

b. Sejak awal, pasangannya jelas, yaitu laki-laki, bukan sesama jenis.

c. Mau komitmen dalam bingkai hubungan perkawinan sebagaimana dititahkan Allah subhanahu wata`ala. Dengan demikian, tidak bisa dikatakan wanita shalihah jikamenafikan kodratnya sebagai wanita, tidak mau menikah padahal normal, atau mau menikah tapi dengan sesama jenis.

2. Ia dihadirkan Allah subhanahu wata`ala  sebagai penenang bagi Adam.

Al-Qur`an membahasakannya dengan sangat menarik, bahwa Hawa diciptakan untuk liyaskuna ilaiha(QS. Al-A`raf[7]: 189]), sebagai penenang bagi Adam `alaihissalam. Jadi, wanita shalihah adalah wanita yang mampu membawa nuansa ketenangan dalam rumah tangganya, sebagaimana Adam yang merasa tenang dengan Khadijah.

3. Ternyata hidup berpasangan dan rumah tangga harmonis tidak cukup, tapi sebagai wanita shalihah ia juga mendukung misi suami untuk melahirkan generasi shalih.

Pada ayat yang sama(QS. Al-A`raf[7]: 189]), Hawa juga menjalankan perannya dengan baik sebagai ibu. Pada akhirnya dia mengandung, dan berdoa kepada Allah agar diberikan keturunan yang shalih. Bukan hanya itu, syukur juga menjadi landasan utama bagi bahtera rumah tangganya.

4. Wanita shalihah bukanlah wanita sempurna yang tak pernah luput dari salah, tapi setiap kali salah mereka sangat malu, cepat mengevaluasi diri serta bertaubat kepada Tuhannya.

Ketika Hawa dan Adam digelincirkan Iblis lantaran melanggar perintah berupa memakan “pohon larangan”, dengan segera mereka mengakui kesalahan serta memohon ampun kepadaNya(QS. Al-A`raf[7]: 23).

5. Inspirasi keshalihan yang dapat diambil dari kehidupan rumah tangga Hawa ialah orientasi akhirat.

Sejak awal, peristiwa dalektika keduanya dengan iblis sampai diturunkan ke dunia sebagai khalifah, Hawa dan Adam sudah dibekali pelajaran berharga, sehingga biduk rumah tangganya dibina berdasarkan orientasi akhirat. Mereka sangat mengerti bahwa: manusia yang berorientasi akhirat, taat dan mengikuti petunjuk Tuhannya, maka tidak akan merasa takut, dan sedih(QS. Al-Baqarah[2]: 38), bahkan tidak akan tersesat dan celaka(QS. Thoha[20]: 123).

Dari pembahasan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa –sebagaimana wanita shalihah lainnya- Hawa layak dijadikan inspirator bagi setiap Muslimah. Di samping itu, di antara peran penting yang dilakukan Hawa sebagai wanita shalihah ialah: menjalankan peran sebagai istri dengan sebaik-baiknya, menenangkan suami, berusaha melahirakan generasi shalih, bangkit dari kesalahan ketika salah serta berusaha menjadi lebih baik, dan yang tidak kalah penting adalah menjadi pendukung suami dalam membina mahligai rumah tangga yang berorientasi akhirat, sebab ia tahu bahwa kebahagiaan sejati bukan di dunia, tapi akhirat. Wallahu a`lam bis shawab.

Foto ilustrasi: google

Profil penulis:

Nama                           : Mahmud Budi Setiawan Lc

Tempat Tinggal           :  Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur

Pendidikan terakhir     :

 Al-Azhar Mesir 2010

Alumni PKU(Program Kaderisasi Ulama) VIII Darus Salam Gontor 204-2015

Alamat emali               : [email protected]

FB                                  : Mahmud Budi Setiawan

Twitter                         : Amoe Hirata

Blog                            :  www.amoehirata.blogspot.com

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top