Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Berita Islam Internasional
  4. /
  5. Hamzah Ali Al-Khatib 13, Bukti Kekejaman Rezim Suriah Tidak Mengenal Batasan Usia

   Rubrik : Berita Islam Internasional

Hamzah Ali Al-Khatib 13, Bukti Kekejaman Rezim Suriah Tidak Mengenal Batasan Usia

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 8370 Kali

Hamzah Ali Al-Khatib 13, Bukti Kekejaman Rezim Suriah Tidak Mengenal Batasan Usia
Hamzah Ali Al-Khatib 13, Bukti Kekejaman Rezim Suriah Tidak Mengenal Batasan Usia

Sahabat Ummi, beberapa waktu lalu dunia sempat digemparkan dengan foto Omar Daqneesh, bocah lelaki yang berlumuran darah tapi hanya terdiam saat dievakuasi tim medis. Omar, salah satu bukti konflik tidak mengenal usia di Suriah.

Sahabat Ummi, sudah tahu mengenai Hamzah Ali Al-Khatib? Siapakah dia? Anak lelaki berusia 13 tahun ini menjadi simbol kekejaman rezim Suriah tidak mengenal batasan usia.

Sejak tahun 2006 sampai 2011, Suriah mengalami bencana kekeringan yang dahsyat. Hal ini membuat rakyat kehilangan lahan pertanian dan mengalami krisis air. Akhirnya warga Suriah berbondong-bondong menggali sumur illegal untuk mengatasi bencana ini. Sementara itu, apa yang dilakukan Bashar Assad sang pemimpin? Dia hanya diam dan tidak memberikan solusi yang berarti bagi masalah ini. Hal ini memicu protes di mana-mana, rakyat mulai panas, suasana Suriah bergejolak.

Pada tahun 2011, sejumlah remaja mengajukan protes terhadap pemerintahan dengan mencoret-coret tembok kota Dara’a menggunakan graffiti. Tindakan sejumlah anak ini merupakan gerakan spontan terhadap apa yang mereka dengar dari orang-orang sekitarnya. Mereka juga terinspirasi dari slogan-slogan revolusi yang biasa disebutkan di Mesir dan Tunisia. Malangnya, tindakan mereka diketahui sejumlah apparat militer. Singkat cerita, mereka pun ditangkap, disiksa, bahkan dicabuti kuku-kukunya sampai mau mengakui kesalahannya.

Hal ini sontak memicu reaksi berbagai kalangan masyarakat. Demonstrasi besar-besaran terjadi di Kota Dara’a. Ini disebabkan rakyat sudah muak dengan pemerintahan yang korup, diktator, dan menciptakan kesenjangan masyarakat. Saat demonstrasi terjadi, tentara Suriah melayangkan tembakan tanpa pandang bulu. Hal ini menyebabkan suasana menjadi chaos bahkan menyebabkan beberapa warga sipil meninggal dunia.

 

Baca juga: Firaun Masa Kini Bernama Bashar Assad

 

Demonstrasi di Dara’a membuat pemerintah menjadi waspada sehingga pada 25 April 2011, Dara’a dikepung tentara militer Suriah. Di kota ini diberlakukan keadaan militer, bahkan parahnya suplai air, listrik, dan komunikasi diputus. Hal ini menyebabkan ratusan warga Dara’a meninggal dunia.

Kejadian menyedhkan yang dialami Hamzah bermulaa bermula saat Hamzah beserta keluarganya pergi untuk menghadiri pawai untuk memprotes pemerintah (lanjutan dari demonstrasi 25 April 2011) pada 29 April 2011. Hamzah dengan gembira pergi bersama rombongan dengan melambai-lambaikan bendera Suriah dan bergabung dalam nyanyian untuk kebebasan.

Dalam situasi yang tegang ini Hamzah dan keluarganya berbaris untuk mematahkan pengepungan dengan memberikan makanan dan persediaan untuk penduduk.

Tetapi sebagai kelompok yang melewati jalan utama kota terdekat Saida –yang terdapat banyak markas perwira pasukan- mereka membuat kebakaran dan kerusuhan sehingga menyebabkan pengunjuk rasa panik dan melarikan diri. Dalam kekacauan ini, Hamzah terpisah dari keluarga kemudian ditembak dan terluka sebelum akhirnya dijemput kepolisian negara.

Keluarga Hamzah mencari keberadaannya selama berminggu-minggu tetapi dia gagal ditemukan. Hingga akhirnya keluarga berhasil mengunjunginya di penjara. Saat itu Hamzah masih hidup sehingga keluarga meminta petugas untuk membebaskannya mengingat usianya yang masih belia.

“Pasukan keamanan marah pada kami, mereka bertanya bagaimana caranya kami bisa mengetahui Hamzah ada di mana, mereka marah karena kami berhasil menemukannya. Kemudian mereka menyiksa anak malang itu selama dua hari,” kata Mr. Khatib, paman Hamzah yang tidak ingin disebutkan namanya mengingat bahaya yang mengintai.

Pada 21 Mei 2011, Ali (ayah Hamzah) mencoba mengunjungi Hamzah di penjara. Saat itu dia diberitahukan bahwa anaknya tidak lagi berada dalam tahanan, tapi di rumah sakit terdekat. Naasnya setelah ditelusuri ternyata Hamzah tidak berada di ruang perawatan, tapi sudah berada di ruang mayat.

Hamzah kembali ke rumah dengan kondisi mengenaskan dan tidak bernyawa. Anak laki-laki berpipi gembul dan dermawan ini syahid (Insyaalloh) di tangan rezim militer Suriah.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Hamzah mengalami siksaan yang sadis. Badannya mengembung dan berwarna ungu. Kuku-kukunya lepas, mata bengkak dan hitam, lehernya patah, tubuhnya tertutup memar, di berbagai bagian mengalami bekas luka cambuk menggunakan kabel dan bekas senjata kejut listrik. Tidak hanya itu, di tubuhnya bahkan bersarang 3 peluru (2 di bagian lengan dan 1 peluru di dada) dan (maaf) kemaluan Hamzah pun dipotong.

Sejak saat itu, keluarga Khatib diawasi selama 24 jam penuh dan berita gugurnya Hamzah disembunyikan dengan membuat pernyataan-pernyataan palsu. Bahkan video keadaan tubuh Hamzah yang penuh lebam saat prosesi pemakaman pun dilarang peredarannya.

“Saya mencoba untuk berbicara dengan pihak keluarga tapi mereka memohon agar saya tidak menelepon lagi,” ujar paman Hamzah. Sebuah sumber mengatakan jika kini ayah Hamzah dipanggil oleh pemerintah dan tidak diketahui keberadaannya.

Kantor berita pemerintah bahkan mengatakan Assad sudah mengunjungi pihak keluarga. Ayah Hamzah, Ali, sempat muncul di acara televisi dan memuji presiden dengan mengatakan perilakunya lemah lembut dan baik. Bahkan presiden dikatakan sudah menganggap Hamzah sebagai anaknya sendiri.

Hamzah Ali Al-Khatib berasal dari keluarga terpandang. Ia tinggal bersama orang tuanya di Desa Al-Jeezah di Dara’a. Anak lelaki berusia 13 tahun ini menggemari olahraga renang. Sejak kekeringan hebat melanda Suriah, Hamzah lebih senang mengamati merpati pos yang beterbangan di atas rumahnya. Anak lelaki bertubuh tambun ini dikenal dermawan sejak kecil. Tidak jarang dia meminta uang pada orang tuanya untuk kemudian diberikan pada orang miskin. Bahkan ketika dia ingin memberikan 100 Pound Suriah ($2) dan keluarganya mengatakan jumlah uang itu terlalu besar, Hamzah berkata, “Aku punya tempat tidur dan makanan sementara orang itu tidak ada.” Kemudian dia membujuk orang tuanya agar bersedia memberikan 100 Pound Suriah kepada orang miskin. Masyallah, anak sekecil ini bahkan jauh lebih dermawan dibanding kita yang sudah hidup lebih lama.

Kini Hamzah menjadi kenangan bagi dunia, simbol kekejaman rezim militer yang tidak mengenal usia. Sayangnya berita tentang Hamzah tidak banyak diketahui dunia. Berita Hamzah tenggelam, hilang ditelan bumi.

Masih tegakah kita membiarkan Hamzah lainnya berguguran? Apa kita masih mau diam dan tidak peduli? Sayangnya, tidak banyak yang tahu siapa Hamzah Ali Al-Khatib, pencetus darah syuhada Suriah. Simbol kebengisan rezim militer yang tanpa pandang bulu membantai rakyatnya.

Referensi:

aljazeera(dot)com, dailymail(dot)co(dot)uk, telegraph(dot)co(dot)uk, bbc(dot)com, edition(dot)cnn(dot)com, m(dot)hidayatullah(dot)com, youthmanual(dot)com

Foto ilustrasi: google

 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});