Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Ramadhan
  4. /
  5. Bagaimana Hukum Mencicipi Masakan saat Puasa?

   Rubrik : Ramadhan

Bagaimana Hukum Mencicipi Masakan saat Puasa?

  Ditulis Oleh Anisa K.J Dibaca 13144 Kali

Bagaimana Hukum Mencicipi Masakan saat Puasa?
Bagaimana Hukum Mencicipi Masakan saat Puasa?

Sahabat Ummi, memasak menjadi kebutuhan kita sehari-hari demi mencukupi kebutuhan dan asupan tubuh, tak terkecuali saat bulan Ramadhan yang mana aktivitas tersebut menjadi rutin setiap menjelang sore hari karena harus menyiapkan hidangan berbuka puasa. Tetapi saat bulan puasa maka kita akan lebih berhati-hati saat mencicipi bahan makanan yang sedang dimasak karena ada keraguan dan ketakutan dalam hati jika puasa akan batal. Lalu bagaimana sebenarnya hukum mencicipi makanan saat memasak pada bulan puasa?

Dalam sebuah kesempatan Dr Zakir Naik pernah membahas secara rinci, berikut isi pemaparan secara jelas oleh beliau:

Dalam Hadits Bukhari Jilid 3 bab 25, berisi tentang persoalan puasa :

Ibn Abbas mengatakan bahwa mencicipi makanan yang berasal dari panci atau makanan langsung tidak membatalkan puasa. Ini merupakan Hadits Muallaq dalam Sahih Bukhari, namun juga terhubung dengan Shaiba’ dan Bayhaqi serta lainnya yang memperjelas hal tersebut sahih. Ibn Abbas mengatakan “tidak diharamkan bagi seseorang yang mencicipi cuka atau apa saja selama tidak masuk melewati kerongkongannya”.

 

Baca juga: Resep Masakan Bulan Ramadhan

 

Makanan tidak seharusnya masuk ke dalam kerongkongan serta tidak seharusnya menelannya dan itulah sebab mengapa para ulama mengatakan jika mencicipi makanan memang diperlukan maka lakukanlah atau sebaliknya. Contoh dari Imam Ahmad Ibn Hambal, mengatakan bahwa mencicipi makanan hukumnya makruh kecuali bila diperlukan. Sama dengan Ibn Taimiyah yang mengatakan bahwa mencicipi makanan makruh kecuali dibutuhkan. Jadi, selama diperlukan oleh wanita yang sedang memasak makanan, ia cukup meletakkan makanan di ujung lidah sehingga ia dapat mengenali apakah makanan ini manis atau asin dan ia dapat meludahkannya kembali. Jika makanan itu tidak ditelan maka tidak membatalkan puasanya. Ada lagi, yakni jika seorang ibu ingin memberikan makanan pada bayinya dan jika cara yang dapat ia lakukan adalah dengan mengunyahkan makanan tersebut, maka sang Ibu diijinkan untuk mengunyah makanan itu dan memberikannya pada buah hati, namun tetap harus hati-hati supaya bekas atau sisa makanan tidak masuk ke dalam kerongkongan dan harus meludahkannya kembali.

Terdapat keperluan yang diperbolehkan untuk mencicipi makanan namun tidak semestinya dilakukan, seperti hanya karena lapar kemudian mencicipi makanan, ini jelas makruh, meskipun tidak akan membatalkan puasa. Makruh di sini membuat dilemanya hati, karena tidak membatalkan puasa, akan tetapi di lain sisi karena keperluan maka dapat dilakukan, namun harus diperhatikan bahwa makanan tersebut tidak masuk melewati kerongkogan, tidak ditelan, dan setelah mencicipinya maka harus diludahkan.

Salah satu tips yang dapat dilakukan untuk memperkecil kesempatan mencicipi bahan makanan adalah menakar dan mempersiapkan bumbu halus atau bahan yang akan dimasak. Misalnya selepas makan malam atau sebelum masuk waktu sahur dapat membuat bumbu halus makanan yang akan dimasak untuk hidangan berbuka puasa esok hari, bumbu tersebut ditakar menurut kebutuhan dan dapat disimpan dalam wadah tertentu.

Foto ilustrasi: google

 

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});