Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Finance
  4. /
  5. Apakah Pembiayaan KPR Syariah itu Riba?

   Rubrik : Finance

Apakah Pembiayaan KPR Syariah itu Riba?

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 2536 Kali

Apakah Pembiayaan KPR Syariah itu Riba?
Apakah Pembiayaan KPR Syariah itu Riba

Selain akad murabahah, dalam pembiayaan KPR syariah (KPRS) juga terdapat akadmusyarakah mutanaqishah, sering disingkat MMQ. Akad MMQ ini merupakan syirkah (kerja sama bisnis) yang kepemilikan aset atau modal salah satu pihak akan berkurang disebabkan pembelian secara bertahap oleh pihak lainnya.

 

Contohnya, bank dan nasabah sama-sama membeli rumah dengan porsi masing-masing, misalnya bank sebesar 85% dan nasabah 15%. Kemudian secara bertahap nasabah membeli porsi yang dimiliki bank, sehingga di akhir masa pembiayaan KPR, rumah tersebut sepenuhnya menjadi milik nasabah.

 

Pada prinsipnya, akad yang digunakan adalah musyarakah (kerja sama bisnis), sehingga semua ketentuan terkait musyarakah berlaku dalam pembiayaan MMQ. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah swt berfirman: Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bekerja sama bisnis, selama salah satu pihak tidak mengkhianati pihak yang lain. Jika salah satu pihak telah berkhianat, Aku keluar dari mereka,” (HR Abu Daud).

 

Namun selain musyarakah, di dalam akad MMQ harus ada kesepakatan dan saling berjanji antara kedua belah pihak untuk menjual dan membeli porsi kepemilikan; bank berjanji untuk secara bertahap menjual porsinya dan nasabah berjanji untuk secara bertahap membelinya.

 

Sebagai aset bersama, rumah tersebut dapat disewakan kepada nasabah dengan nilai sewa sesuai kesepakatan. Hasil sewa dibagihasilkan antara bank dan nasabah sebagai pemilik sebagian porsi aset, sesuai nisbah yang disepakati atau porsi kepemilikan. Jadi, selain sebagai pemilik sebagian porsi aset rumah, nasabah sekaligus menjadi penyewa.

 

Pada praktiknya, dana sebanyak 15% dari harga rumah yang disetorkan oleh nasabah di awal pembiayaan merupakan penyertaan modal nasabah atas pengadaan aset rumah. Sedangkan sisanya, penyertaan modal dari bank. Maka, nominal cicilan bulanan yang dibayarkan nasabah kepada bank terdiri atas: (1) pembelian sebagian porsi modal bank, (2) uang sewa atas aset bersama, (3) bagi hasil sewa atas kepemilikan sebagian porsi modal yang menjadi haknya dan menjadi pengurang jumlah nominal cicilan.

 

Kelebihan

 

KPR syariah dengan akad MMQ mempunyai nilai lebih dibanding yang lainnya, antara lain aturan tentang uang muka—dalam hal ini merupakan penyertaan modal nasabah—yang lebih rendah. Peraturan Bank Indonesia tentang Financing to Value (FTV)/Loan to Value (LTV) bagi KPR menyebutkan, uang muka untuk produk MMQ ini minimal 15% dari nilai rumah. Nilai itu lebih rendah 5% daripada dengan akad murabahah. Uang muka rendah tentu menarik bagi nasabah, karena dengan dana yang lebih kecil sudah dapat menikmati fasilitas pembiayaan ini.

 

Kelebihan lainnya, cicilan bulanan yang elastis dan dinamis. Berbeda dengan akad murabahahyang cicilan bulanannya bersifat tetap sepanjang masa pembiayaan. Hal ini terjadi karena adanya perpindahan rasio kepemilikan aset nasabah yang semakin bertambah dan harga sewa yang bisa ditinjau ulang secara periodik sesuai kesepakatan.

 

Multiakad

 

Ada sebagian pihak yang meragukan kesyariahan KPRS MMQ dengan alasan adanya multiakad di dalamnya, yaitu akad musyarakah dan akad jual beli. Pendapat ini mendasarkan pada hadits Nabi saw, dari Abu Hurairah, berkata, “Rasulullah melarang dua jual beli dalam satu jual beli,” (HR Malik).

 

Pendapat yang dipilih (râjih) mengatakan, praktik jual beli yang dilarang dalam hadits tersebut karena menimbulkan ketidakjelasan harga dan menjerumuskan ke riba. Seseorang menjual sesuatu yang dibayar secara cicil, dengan syarat si pembeli harus menjual kembali kepada penjual secara kontan dan dengan harga lebih rendah. Akad seperti ini merupakan rekayasa (hilah) dari terjerumus pada riba—dan sebenarnya tidak terjadi akad jual beli dalam transaksi tersebut.

 

Jual beli seperti di atas dilarang manakala sebuah akad yang mengandung dua jual beli, salah satu dari jual beli itu dinyatakan sah dan mengikat (lazim) sebelum kedua pihak berpisah, namun tidak ditentukan jual beli manakah yang dinyatakan sah dan mengikat tersebut. 'Illatlarangan bentuk jual beli ini adalah ketidakpastian (gharar) yang timbul dari ketidakjelasan (jahalah) nilai harga.

 

Keraguan juga didasarkan atas hadits berikut, dari Abu Hurairah, “Rasulullah saw melarang jual beli dan pinjaman,” (HR Ahmad). Terkait hadits ini, Imam Syafi’i memberi contoh, jika seseorang hendak membeli rumah dengan harga seratus, dengan syarat dia meminjamkan (salaf) kepadanya seratus, maka sebenarnya akad jual beli itu tidak jelas apakah dibayar senilai seratus atau lebih. Akibatnya, harga dari akad jual beli itu tidak jelas, karena seratus yang diterima adalah pinjaman. Dengan demikian penggunaan manfaat dari nilai seratus itu tidak jelas; apakah dari jual beli atau pinjaman.

 

Terkait hadits yang secara zahir melarang multiakad sebagaimana dua hadits di atas, jumhur ulama berpendapat, bukan berarti multiakad dilarang secara total. Meski ada multiakad yang diharamkan, prinsip dari multiakad ini adalah boleh. Hukum multiakad diqiyaskan dengan hukum akad yang membangunnya. Artinya, setiap muamalat yang menghimpun beberapa akad, hukumnya halal selama akad-akad yang membangunnya adalah boleh.

 

Ketentuan ini memberi peluang pada pembuatan model transaksi yang mengandung multiakad. Ketentuan ini berlaku umum, sedangkan beberapa hadits Nabi dan nash-nash lain yang mengharamkan multiakad adalah ketentuan pengecualian, yaitu terbatas pada multiakad yang disebutkan dalam hadits tersebut.

 

Multiakad yang terdapat dalam KPRS MMQ tidak termasuk sebagaimana yang dilarang dalam hadits Nabi di atas, maka hukumnya boleh secara syar’i. Pendapat ini yang dipakai oleh Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Umum Indonesia dalam membolehkan akad musyarakah mutanaqishah dalam KPR syariah. Wallahu a’lam.

 

Sumber:  Majalah Ummi,

Dunia Halal 06-XXVIII Juni 2016

 Foto ilustrasi : Google

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});