Sahabat Ummi, ibarat memilih jodoh, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan memiliki rumah. Perhitungan yang matang tidak hanya membuat hunian impian menjadi nyata, namun menjadi aset yang bernilai tinggi.
CEK HUNIAN IMPIAN
Memiliki rumah yang nyaman dan menenteramkan tentu dambaan setiap orang. Namun, sebelum membeli rumah, kita perlu menentukan hunian seperti apa yang kita idamkan. Setelah itu, telitilah apakah semua hal terkait dengan pembelian rumah sudah sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kita.
>> Tentukan lokasi dan lakukan perbandingan
Tentukan lokasi hunian yang kita inginkan, lalu buatlah daftar rumah yang memenuhi kriteria. Pertimbangkan mana yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita, baik dari sisi harga maupun fasilitasnya.
Baca juga: Beginilah Rumah Rasulullah dan Konsep Islam tentang Rumah Idaman
Untuk harga, lakukan survei pasaran harga di daerah tersebut sehingga kita bisa menyimpulkan mana harga yang wajar dan yang tidak. Cek lagi, harga rumah sudah mencakup apa saja. Biasanya harga sudah termasuk PPN 10%, biaya Akta Jual Beli (AJB) dan biaya Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB). Tapi harga belum termasuk Bea Perolehan Hak Atas Tanah Bangunan (BPHTB) dan biaya KPR (provisi, notaris, administrasi, asuransi jiwa dan kebakaran, APHT, dll).
Untuk fasilitas, hal utama yang harus kita perhatikan adalah akses transportasi dari dan menuju rumah, apakah melewati daerah rawan macet, dan tersedianya angkutan umum sebagai alternatif transportasi. Sarana ibadah, sekolah, rumah sakit dan pasar, juga menjadi kebutuhan primer yang tak boleh dilupakan. Konsep rumah hijau alias rumah yang mengedepankan pembangunan rumah ramah lingkungan juga mulai diminati dan bisa menjadi poin unggul hunian pilihan kita. Fasilitas yang kurang mendukung bisa menjadi senjata kita untuk mendapatkan harga yang lebih murah saat perundingan jual beli.
>> Kumpulkan informasi
Kumpulkan informasi lengkap mengenai rumah yang ingin kita beli, seperti status tanah dan bangunan, kepemilikan, dan isu yang sedang berkembang di daerah tersebut. Informasi bisa kita gali melalui pemilik rumah atau marketing perumahan.
Mencari tahu ke tetangga atau satpam di lokasi juga sangat membantu sehingga Anda bisa mengetahui isu terkini, misalnya rencana pembangunan tol yang mungkin ada, ancaman banjir, keamanan, biaya bulanan lingkungan, dan sebagainya. Informasi kondisi rumah akan lengkap Anda dapatkan jika melihat langsung. Telitilah kondisi kekuatan bangunan, kontur tanah, tata letak, dan interior rumah.
>> Minta pendapat pihak ketiga
Cari second opinion tentang rumah tersebut dari pihak ketiga, seperti kerabat yang pernah membeli rumah, agen properti, atau penilai profesional yang dapat obyektif menilai.
>> Sertakan Notaris
Jika target hunian yang dibeli sudah ada, cara pembayaran sudah dipilih sesuai kemampuan, jangan lupa memakai jasa notaris untuk membantu proses transaksi pembelian rumah. Notaris yang akan menyelesaikan kompleksnya legalitas hukum dalam jual beli rumah sehingga tak ada masalah ketika kelak kita menghuninya.
SOLUSI KETIKA BANYAK TANGGUNGAN
Menurut Diana Sanjaja, perencana keuangan pada Mitra Rencana Edukasi Financial and Business Advisory, bisnis properti seperti rumah cenderung selalu naik harganya. Jika kita hanya menabung untuk memiliki rumah idaman, kita akan selalu berkejaran dengan harga rumah yang tak kunjung dapat kita capai. Kecuali, kita mampu mengumpulkan dana dalam jumlah signifikan dari harga rumah.
“Solusinya, beli dengan cara kredit, dan kita bisa memiliki rumah pada harga saat ini. Meski dana kita belum cukup, tapi dengan pinjaman dari bank, hal itu mungkin bisa dilakukan,” jelas Diana.
Nah, yang memusingkan, adanya utang lama yang menjadi kendala kita untuk mengambil cicilan rumah. Bagaimana menyiasatinya? Diana memberi tiga saran. Pertama, menaikkan lagi penghasilan suami dan istri melalui usaha lain, lalu digabungkan. Ini dimaksudkan agar besar cicilan tidak membebani cash flow. Jika memang di luar batas kemampuan, tak dianjurkan menambah cicilan baru.
Kedua, melunasi berbagai cicilan yang dimiliki dengan terlebih dulu menjual aset yang tidak produktif demi mendapatkan aset baru yang lebih dibutuhkan. Ketiga, jika cicilan masih terlampau besar, maka jalan lain adalah membayar down payment (DP) yang lebih besar atau memperpanjang jangka waktu cicilan, agar jumlah cicilan lebih kecil.
Pengadaan dana untuk membayar DP kadang menjadi masalah tersendiri pula. Jika dalam waktu singkat dana untuk DP harus segera dibayarkan, bisa saja kita menegosiasikan keringanan cara pembayaran ke developer, misalnya dengan mengangsur DP sesuai kemampuan.
BAHU-MEMBAHU
Hunian idaman adalah aset bersama, maka selayaknya suami istri juga mengupayakannya bersama. Biasanya, untuk mengajukan pinjaman KPR ke bank, penghasilan suami istri digabungkan untuk memperbesar kuota 30% penghasilan sebagai pembayaran cicilan pinjaman.
Namun, Diana menyarankan, sebaiknya penghasilan suami saja yang dimaksimalkan untuk membiayai seluruh pengeluaran dan cicilan rumah. Mengapa? Umumnya pasangan muda akan mengalami dilema saat mulai memiliki anak. Ibu bekerja sering kali merelakan kariernya agar dapat maksimal mengasuh buah hati. Akibatnya, keputusan mengenai karier ibu bisa berubah seiring waktu. Jika hal itu tidak diantisipasi, pembayaran cicilan bisa memberatkan di kemudian hari.
Bila istri tak dapat terlibat pada sisi finansial, ia masih bisa berkontribusi, misalnya mengurus kelengkapan dokumen yang diperlukan yang terkait dengan developer, notaris, atau bank.
Pada akhirnya, jangan pernah menyerah untuk memiliki rumah idaman kita.
Meutia Geumala
Wawancara: Noni Al Qalbu
Foto ilustrasi: google
*Ingin memiliki rumah hunian 2 lantai, bebas riba, tanpa denda? Di daerah Bogor. UMMI PROPERTY. Hub: 083899647439

Komentar