Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
Logo Ummi
  1. Beranda
  2. /
  3. Tumbuh Kembang
  4. /
  5. Telaten Memantau Bayi Prematur (Bagian 1)

   Rubrik : Tumbuh Kembang

Telaten Memantau Bayi Prematur (Bagian 1)

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 7561 Kali

Hamil dan melahirkan merupakan pengalaman paling berkesan yang dialami setiap ibu. Bayi yang terlahir merah, menangis kuat, bergerak aktif adalah penghapus seluruh keletihan yang dialami selama 9 bulan mengandung.

Tetapi bagaimana bila bayi terlahir prematur? Bayi yang harus terlahir dengan usia kehamilan belum genap 37 minggu ini umumnya memiliki paru-paru yang belum “matang” untuk menghirup oksigen secara sempurna di dunia luar rahim. Bisa jadi, bayi lahir tidak menangis, sesak napas, dan segera membutuhkan alat bantu napas canggih. Apakah kondisi ini selalu terjadi pada bayi prematur? Adakah masalah-masalah kesehatan lain yang bisa timbul?

 

Definisi Bayi Prematur

Prematuritas didefinisikan sebagai kelahiran seorang bayi yang usia gestasinya (kandungan ibu) belum mencapai 37 minggu. Sedangkan bayi cukup bulan adalah bayi yang terlahir pada usia gestasi 37 sampai 42 minggu, dengan mayoritas persalinan cukup bulan pada usia gestasi rata-rata 40 minggu.

Definisi prematur seharusnya dibedakan dengan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), yaitu berat lahir di bawah 2.500 gram. Namun, nyatanya, bayi BBLR kerap pula disebut bayi prematur, karena memang kebetulan bayi-bayi BBLR sering terlahir kurang bulan/prematur. Sebagian bayi terlahir dengan BBLR, meskipun usia gestasinya cukup bulan. Bayi-bayi ini dinamakan kecil masa kehamilan (KMK) atau small for gestational age (SGA). Pembahasan bayi prematur dalam tulisan ini dibatasi untuk yang lahir kurang bulan (sebelum 37 minggu) dengan berat lahir sesuai usia gestasinya.

 

Prematuritas dan Masalah Fungsi Organ Tubuh

Allah menciptakan manusia, yang idealnya baru keluar dari kandungan setelah 37 minggu, bukan tanpa alasan. Rentang waktu tersebut dibutuhkan untuk mematangkan seluruh organ tubuhnya sehingga ketika terlahir nanti ia siap menghadapi dunia barunya. Bayi yang terlahir prematur tidak memiliki semua kematangan organ ini, tergantung seberapa muda bayi saat dilahirkan. Makin muda usia gestasinya, maka makin tidak siap fungsi optimal organ tersebut.

Karena kondisi tersebut, sering kali bayi-bayi prematur mengalami masalah-masalah berikut.

 

> Penyakit membran hialin/PMH (hyaline membrane disease atau respiratory distress syndrome)

Kondisi ini disebabkan oleh ketiadaan atau kekurangan surfaktan, yaitu senyawa yang dimiliki oleh paru-paru manusia yang berfungsi menjaga paru-paru agar tidak kolaps (menutup seluruhnya) saat membuang udara (buang napas atau ekspirasi). Bayi yang mengalami PMH akan tampak bernapas teratur dan normal selama beberapa saat setelah lahir, tetapi tidak lama kemudian akan makin sesak, terlihat tarikan kuat di antara sela-sela iga, dan bahkan bisa sampai biru karena kekurangan oksigen lanjut.

Bayi seperti ini harus mendapatkan penanganan alat bantu napas dari ventilator dan pemberian oksigen yang disesuaikan jumlahnya agar fungsi napasnya dialihkan kepada bantuan mesin (ventilator). Kondisi ini rentan dialami bayi prematur yang terlahir pada usia gestasi sebelum 32 minggu. Penanganannya adalah memberikan terapi surfaktan sintetis lewat selang bantu napas ketika bayi terbukti mengalami PMH. Angka kematian akibat PMH masih cukup tinggi karena sulit dan mahalnya harga surfaktan, dan tidak semua RS mempunyai ventilator khusus bayi dan tenaga yang terlatih merawatnya.

 

> Apnea dan bradikardia

Apnea adalah henti napas spontan yang dialami bayi prematur selama 20 detik atau lebih, dan kerap disertai dengan bradikardia, yaitu frekuensi nadi bayi menjadi lebih lambat dibandingkan sebelumnya (biasanya di bawah 100 kali per menit). Kondisi ini dikaitkan dengan kurang matangnya fungsi pernapasan di batang otak (susunan saraf pusat/SSP) sehingga kadang-kadang bayi “lupa” bernapas.

Apnea pada prematuritas harus dipastikan bukan merupakan kejang karena sebab tertentu; kekurangan gula darah/hipoglikemia, gangguan elektrolit, infeksi SSP (meningitis, ensefalitis), dan perdarahan otak. Penanganan terhadap apnea biasanya dengan memberikan kafein atau aminofilin/teofilin, dan pemantauan tanda-tanda vital bayi di NICU dengan monitor elektronik.

 

> Retinopathy of prematurity (ROP)

Kondisi ini disebabkan oleh retina (jaringan saraf mata yang berfungsi untuk melihat) belum terbentuk secara utuh/sempurna. Kondisi ROP dapat makin berat akibat penggunaan oksigen yang berlebihan melalui ventilator, atau konsentrasi oksigen tinggi lewat selang oksigen. Perkembangan terkini sangat menekankan kehati-hatian dalam memberikan oksigen, termasuk saat menolong bayi baru lahir yang tidak prematur sekalipun.

Pemantauan terhadap ROP dilakukan secara berkala hingga bayi melewati usia koreksi 40 minggu, sampai retina dinyatakan matur (matang). Upaya pemantauan dilakukan oleh dokter spesialis mata menggunakan alat khusus.

 

> Penyakit paru kronik (chronic lung disease atau bronchopulmonary dysplasia)

Yaitu bayi bergantung kepada terapi oksigen hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Bayi-bayi ini mengalami kesulitan bernapas ketika oksigen dilepas, atau nilai saturasi oksigen (kelarutan oksigen dalam darah) langsung turun saat terapi oksigen dihentikan. Padahal bayi-bayi ini sering kali dinyatakan sudah tidak perlu dirawat di RS sehingga mereka dipulangkan dengan oksigen yang masih terpasang dan dapat dibawa ke rumah.

Kondisi ini terjadi akibat perubahan struktur jaringan paru yang selama berminggu-minggu butuh beradaptasi dan mendapatkan terapi oksigen. Seiring bertambahnya usia bayi dan kematangan fungsi paru, diharapkan penggunaan oksigen dapat “disapih”.

Bersambung

 

*Rubrik ini diasuh oleh dr. Arifianto, SpA atau akrab dipanggil Dokter Apin. Selain aktif berpraktik di RSUD Pasar Rebo, beliau juga menulis buku "Orangtua Cermat Anak Sehat".


Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
Mohon dipasang sebelum