Sudah sekitar dua puluh menit berlalu, hujan tak kunjung reda. Akhirnya, si bungsu bertanya kepada ibunya dengan nada protes, “Bu, saya sudah berdoa, kok hujannya tidak berhenti...?”
Sang ibu tersenyum dan balik bertanya,”Izul tahu ndak artinya doa itu?”
“Tahu,” jawabnya singkat.
“Apa artinya?” tanya sang ibu.
“Artinya... ya Allah ya Tuhan kami, semoga hujan ini bermanfaat bagi kami,” jawab si bungsu.
“Nah, Izul tidak minta hujan ini berhenti kan? Izul minta agar Allah menjadikan hujan ini bermanfaat. Bermanfaat untuk Pak Tani yang sedang menanam padi dan tanaman lainnya. Bermanfaat untuk kodok yang sebentar lagi pasti pada bernyanyi teat teot. Bermanfaat untuk ikan. Bermanfaat untuk tanaman-tanaman. Bermanfaat untuk makhluk hidup yang lain. Bermanfaat untuk...” Kalimat si ibu seterusnya sudah tidak terdengar lagi.
Saya yang sejak tadi menguping pembicaraan ibu dan anak itu dari balik rak buku di ruang tengah, cuma bisa menggaruk-garuk kening yang tidak gatal. Suudzon saya muncul. Jangan-jangan mereka berdua sedang menyindir saya yang sering berpanjang doa dengan bahasa Arab tetapi tidak tahu artinya, sehingga doa yang saya lafalkan sekadar mengalir di lidah, menghias bibir. Doa saya tak memiliki ruh yang menghubungkan saya dengan Yang Maha Mengabulkan.
Jangan-jangan dua orang ini sedang menyindir saya yang kalau berdoa memaksa segera dikabulkan, laksana pesulap yang mampu mengubah sobekan-sobekan kertas di topi menjadi seekor kelinci. Seketika!
Atau, jangan-jangan dua orang ini sedang menyindir saya yang kalau berdoa lebih untuk kepentingan diri sendiri, tanpa peduli bahwa yang menguntungkan diri sendiri itu boleh jadi merugikan orang lain.
Astaghfirullah... Kenapa saya malah suudzon kepada mereka? Bukankah lebih baik kalau saya husnudzon kepada mereka dengan berkata, “Subhanallah! Alhamdulillah! Aku telah mendapat pelajaran dari ibu dan anak ini.” Tanpa mereka tahu, mereka telah menegur suami dan ayahnya yang belum khusyuk dalam berdoa.
Dan, bismillah. Saya harus mencoba menata hati untuk rela menerima pelajaran ini walau dari mereka yang justru saya pimpin dalam keluarga ini. Toh, di akhirat kita tidak ditanya ilmu yang kita peroleh itu dari siapa.
Maka, seiring hujan yang mulai menggerimis, saya mulai berdoa dengan memahami maknanya, “Rabbanaa hablanaa min azwajinaa wa dzurriyyatinaa qurrota a'yun. Waj'alna lil muttaqiina imamaa. Amin.”
Sungguh, belum pernah saya bernafas selega ini.
Mari Haryanto
Karyawan BUMN di Tegal




Komentar