Tentang Ummi  /   Kontak  /   Iklan  /   Berlangganan  /   Agen
  1. Beranda
  2. /
  3. Finance
  4. /
  5. Saat Bisnis di Ambang Keterpurukan, Apa yang Perlu Dilakukan?

   Rubrik : Finance

Saat Bisnis di Ambang Keterpurukan, Apa yang Perlu Dilakukan?

  Ditulis Oleh Administrator Dibaca 1780 Kali

Saat Bisnis di Ambang Keterpurukan, Apa yang Perlu Dilakukan?
Saat Bisnis di Ambang Keterpurukan, Apa yang Perlu Dilakukan

Sahabat Ummi, dalam bisnis, kebangkrutan seperti sebuah mimpi buruk. Tak ada satu pun pelaku bisnis yang ingin mimpi buruk itu jadi nyata. Tapi bukan tak mungkin suatu saat ia hadir memberi banyak pelajaran berharga. Sebagai pelaku bisnis, Anda harus siap. 

Tentu bukan kondisi yang mudah ketika bisnis berada dalam kesulitan. Apalagi jika bisnis tersebut sudah menjadi tempat menggantungkan hidup bagi banyak orang. Ketika kebangkrutan tak bisa dihindarkan, Anda mungkin harus melakukan sesuatu yang tidak enak bagi Anda dan pegawai, yaitu pemutusan hubungan kerja (PHK).

Karena sifat bisnis bisa naik dan turun, maka kita harus menyiapkan diri dan ikhlas sejak awal jika nanti bisnis harus dilepas. Berbisnislah karena Allah. Ungkapan itu saya kutip dari salah seorang mentor bisnis saya.

Ya, mental untuk menghadapi kemungkinan terburuk dalam bisnis harus disiapkan sejak awal agar mampu berpikir jernih dalam mencari jalan keluar. Karena itu, saya kerap menekankan kepada para pebisnis untuk berhati-hati akan kelekatan mereka terhadap bisnis yang dijalani. Bukan berarti kita melupakan cita-cita dan idealisme dalam berbisnis, tapi bisnis juga perlu logika yang mendasarinya. Jika bisnis dipaksa tetap berjalan, biaya operasional akan terus ada. Padahal, bisnis tersebut sudah tidak beromzet, menyisakan banyak utang, dan segala inovasi seolah tak mempan untuk menyelamatkannya.

 

Bisnis Kita Bukan Anak Kita

Solusi menutup bisnis sudah membayang di pelupuk mata. Tapi, benarkah harus ditutup? Beberapa hal di bawah ini bisa Anda mantapkan dulu sebelum menutup bisnis.

1.    Komponen nomor satu agar bisnis bangkit adalah manusia di dalamnya. Siapa, setangguh apa, setabah apa mereka yang menggerakkan bisnis. Sudah pasti back to Allah kunci dari ketangguhan dan optimisme. Berdoa, perbanyak ibadah, bersedekah agar Allah memudahkan dalam proses pengambilan keputusan.

2.    Diskusikanlah dengan mentor bisnis Anda. Saya pernah menyinggung di tulisan terdahulu, seorang pebisnis harus memiliki mentor bisnis yang lebih berpengalaman dari dirinya.

3.    Berdiskusi dengan rekan bisnis. Bisnis yang dijalankan dengan kemitraan, baik buruknya harus diketahui oleh semua rekan. Entah itu rekan pasif atau rekan aktif. Entah dia pemilik dana atau pelaksana bisnis sehari-hari.

4.    Duduk bersama manajer keuangan dan manajer SDM perusahaan Anda. Minta nasihat kepada mereka mengenai keputusan terbaik bagi perusahaan dari aspek aset dan pengelolaan karyawan.

5.    Jika tidak memiliki manajer keuangan maupun SDM, Anda bisa meminta pendapat dari pihak ketiga atau dalam hal ini konsultan bisnis.

 

Dalam kondisi sulit, keputusan apa pun akan jadi tidak menyenangkan. Baik itu keputusan untuk terus, PHK sebagian karyawan, pemindahan kantor, maupun pemutusan kontrak dengan pihak penyuplai. Namun, bisnis milik Allah, maka kita harus siap dan ikhlas dengan keputusan yang diambil. Jangan anggap bisnis sebagai anak, sehingga Anda melaksanakan hal-hal di luar kemampuan dan tanpa prediksi.

 

Kendalikan Keuangan

Tindakan apa yang semestinya Anda ambil ketika bisnis dalam keadaan sulit? Bicara soal kebangkrutan tentu bicara pula soal keuangan dan pengelolaannya. Penyakit umum sebuah bisnis (terutama kelas kecil dan menengah) adalah soal keuangan yang tidak terkendali. Kesalahan-kesalahan yang terjadi pun sebetulnya mendasar, seperti adanya piutang dagang yang tidak tertagih, adanya pengeluaran tanpa tanda bukti, pemakaian uang atau barang untuk pribadi namun tidak tercatat, dan lain-lain.

Berikut adalah hal-hal yang perlu Anda lakukan terkait keuangan perusahaan yang hampir bangkrut.

1.    Lakukan penertiban pencatatan keuangan. Sekecil apa pun pengeluaran, catat. Bahkan jika yang melakukan pengeluaran itu si pemilik bisnis, tetap harus ada bukti pengeluaran yang ditandatangani.

2.    Cek tabungan dan aset lancar, seperti deposito, emas, reksa dana, obligasi, dan saham. Jika Anda sudah memiliki dana darurat, gunakan itu sebagai penopang operasional perusahaan harian. Jika tak ada dana darurat, mau tak mau aset lancar itulah yang menjadi penopang perusahaan.

3.    Berhenti berinvestasi atau menabung. Apa lagi yang harus ditabung jika dana sudah terbatas? Termasuk, berhentikan sementara pembayaran asuransi. Jika menggunakan asuransi swasta untuk karyawan, alihkan ke BPJS yang lebih murah. Konsultasikan pada agen asuransi Anda mengenai kondisi kebangkrutan ini

4.    Buat prioritas dalam pengeluaran sehari-hari. Sebab, sulit untuk memenuhi semua kebutuhan, termasuk kebutuhan sekunder dan tersier, jika bisnis sedang turun. Buatlah lapisan prioritasnya.

5.    Jika perusahaan atau bisnis Anda memiliki utang, bayarlah dengan uang perusahaan, bukan uang pribadi. Jika uang perusahaan kurang, gunakan aset perusahaan. Jika masih kurang juga, konsultasikan dengan rekan bisnis Anda dan ahlinya.

 

Kebangkrutan memang sebuah keniscayaan. Namun, selama Allah bersama kita dan kita dekat dengan-Nya, badai kebangkrutan akan mampu kita hadapi.

 

Sumber: Majalah Ummi, Konsultasi Keuangan 09-XXVIII September 2016. Kaukabus Syarqiyah SE, MSE, CFP

 Foto ilustrasi : Google

Yuk, ikutan Tebar Wakaf Qur'an untuk para santri Penghafal Qur'an.
Donasi Rp 100.000,- Disalurkan untuk Lembaga Penghafal Qur'an
Transfer ke Bank BCA 5800.144.096 atas nama Yayasan Insan Media Peduli
Konfirmasi : 0857 1549 5905 (Purnomo)


loading...


Tag :


Mau Berlangganan MAJALAH UMMI CETAK hubungi 081546144426 (bisa via whatsapp).

Komentar

 

 

Top
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});