Waspada Komplikasi Akibat Hipertensi

By | June 15, 2016

Sahabat Ummi, jangan anggap remeh hipertensi. Meski banyak penderita yang tak merasakan keluhannya, hipertensi dapat menimbulkan komplikasi serius. Tak heran jika peyakit ini disebut “The Silent Killer”.

Dr dr Yuda Turana, SpS, Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH) mengungkapkan, berdasarkan data hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi penderita hipertensi di Indonesia sebesar 25,8%. Ironisnya, lebih dari 60% dari mereka tidak sadar menderita hipertensi dan lebih dari 80% di antaranya tidak melakukan kontrol terhadap tekanan darah mereka.

Padahal, lanjut Yuda, penyakit hipertensi jarang sekali merupakan penyakit tunggal. “Lebih dari 80% penyakit ini komorbid (terjadi bersamaan) dengan penyakit lain. Dan sebagian besar penderita hipertensi datang ke fasilitas kesehatan sudah dengan komplikasinya,” papar Yuda.
Seperti yang dialami Haryanto (49). Lima tahun lalu, ia sering mengeluh sakit di kepala bagian belakang. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan ia menderita hipertensi, dengan tekanan darah 170/110 mmHg. Sebulan penuh Haryanto harus minum obat penurun tekanan darah. Selepas obat habis, ia merasa sehat dan tak ada keluhan, sehingga tak lagi memeriksakan diri ke dokter.

 

Baca juga: Ayam Panggang Cabe Hijau untuk Hipertensi

 

Belakangan,  Haryanto merasakan dadanya sering sakit. Ternyata, tekanan darahnya kembali tinggi, mencapai 180/120mmHg. Dokter spesialis penyakit dalam memintanya melakukan pemeriksaan menyeluruh, mulai dari rontgen, rekam jantung, fungsi ginjal, dan berkonsultasi dengan dokter spesialis mata. Hasilnya, ada pembesaran jantung dan penurunan fungsi ginjal pada diri Haryanto.

Haryanto tak menyangka, penyakit hipertensi yang ia kira telah sembuh beberapa tahun lalu itu kini menyebabkan komplikasi pada organ tubuh lainnya. Ia menyesal karena telah lalai untuk mengontrol penyakit hipertensinya.

Berkaca dari pengalaman Haryanto, hipertensi memang jarang selalu menunjukkan gejala. Pengenalannya biasanya melalui skrining, atau saat mencari penanganan medis untuk masalah kesehatan lain yang tak berkaitan. Namun, beberapa penderita hipertensi melaporkan sakit kepala (terutama di bagian belakang kepala, pada pagi hari), vertigo, tinitus (dengung/desis di dalam telinga), gangguan penglihatan, jantung berdebar-debar, sulit bernapas setelah bekerja keras, mudah lelah, dan wajah memerah.

Mengapa Sangat Berbahaya?

Dr Arieska Ann Soenarta, SpJP(K), FIHA, FAsCC, spesialis jantung dan pembuluh darah di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta, menjelaskan, hipertensi merupakan gangguan pada sistem peredaran darah yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas nilai normal, yaitu melebihi 140/90 mmHg.

“Kita tahu pembuluh darah terdapat di mana-mana. Jadi, jika ada persoalan pada pembuluh darah dan darahnya, seperti hipertensi, akan menjalar memengaruhi organ-organ lain. Itulah kenapa penting sekali menurunkan darah tinggi ke taraf normal dan menjaga agar selalu normal (terkontrol), meskipun hipertensi yang dialami seseorang itu tidak menimbulkan gejala apa-apa,” paparnya.

Lebih lanjut, Ann menjelaskan, hipertensi disebabkan oleh banyak faktor, seperti faktor genetik (usia, etnis, keturunan) dan faktor lingkungan (diet, obesitas, merokok, penyakit lain seperti diabetes melitus tipe 2). Jika berkelanjutan, hipertensi dapat meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, dan gagal ginjal.

Ø  Stroke

Merupakan kematian jaringan otak yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Tekanan darah yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah di otak. Kasus ini biasanya terjadi secara mendadak dan menyebabkan kerusakan otak dalam beberapa menit.

Ø  Gagal jantung

Tekanan darah yang terlalu tinggi memaksa otot jantung bekerja lebih berat untuk memompa darah dan menyebabkan pembesaran otot jantung kiri, sehingga mengalami gagal fungsi.

Ø  Gagal ginjal

Tekanan darah yang terlalu tinggi mengakibatkan pembuluh darah dalam ginjal tertekan dan mengakibatkannya rusak, sehingga menghambat penyaringan darah dalam ginjal. Kondisi ini merusak ginjal dengan menekan pembuluh darah kecil dalam organ tersebut, akibatnya fungsi ginjal menurun hingga mengalami gagal ginjal.

Cegah dan Kelola Hipertensi

Hipertensi sangat bisa dicegah dan “dijinakkan” dengan gaya hidup sehat. Pada orang dengan hipertensi, gaya hidup sehat dapat meningkatkan efektivitas kerja obat penurun tekanan darah tinggi, serta menurunkan risiko serangan jantung, penyakit jantung, stroke, dan penyakit ginjal. Berikut upaya yang dapat dilakukan.

ü  Olahraga

Olahraga teratur dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Lakukan 30-45 menit sehari, paling tidak 3 kali seminggu. Untuk penderita hipertensi, pilih olahraga yang ringan, seperti jalan kaki, bersepeda, lari santai, dan berenang.

ü  Pola makan sehat

Pilih makanan sehat dan bergizi, serta kurangi konsumsi garam. Jika tidak bisa mengurangi secara drastis, lakukan bertahap. Untuk orang dengan hipertensi, hindari makanan yang mengandung garam. Utamakan mengonsumsi makanan yang mengandung kalium, magnesium, dan kalsium yang mampu menurunkan tekanan darah.

ü  Mengontrol berat badan, tekanan darah, dan gula darah

Cek rutin tekanan dan gula darah. Kendalikan kadar kolesterol dan diabetes. Jika harus mengonsumsi obat karena penyakit tertentu, konsultasikan dan minta pada dokter agar memberikan obat yang tidak meningkatkan tekanan darah.

ü  Berhenti merokok

Merokok dapat melukai dinding pembuluh darah dan mempercepat proses pengerasan pembuluh darah.

Nur Fitriyani

Foto ilustrasi: google

 

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *