Tip Menjalin Kemitraan dengan Khadimat PRT

0 15

Sahabat Ummi, coba perhatikan dua kalimat dibawah ini.

Majikan galak, pelit, perfeksionis!

PRT Malas, ngeyel, tak jujur!

Dengan dua sosok ini, bagaimana kehidupan rumah tangga bisa tentram? 

Hubungan PRT-majikan tak selamanya berjalan mulus. Keluhan soal majikan galak, perfeksionis atau pelit kerap terdengar meluncur dari bibir para PRT. Akan tetapi, tunggu dulu, keluhan soal PRT yang tak jujur, tak bisa diatur, terlalu ceroboh dan malas juga sering jadi bahan curhat para ibu. Bagaimana bisa mengatur hubungan kemitraan yang saling memberi manfaat diantara PRT-majikan?

PRT: manusia seutuhnya

Sebagai seorang manusia, PRT tak hanya memerlukan kecukupan gaji dan kebutuhan fisik belaka, namun juga ketenangan emosi, ketentraman jiwa, bahkan perluasan ilmu. Memperlakukan khadimat dengan santun, memberinya kesempatan libur, kesempatan memperoleh hiburan, kesempatan bersosialisasi dan memberi kecukupan istirahat merupakan kewajiban seorang majikan.

 

Baca juga: Ciptakan Asisten Rumah Tangga Mumpuni

 

Abai akan hal ini tentu bisa menimbulkan masalah, sebab, sebagaimana diungkap Psikolog Rustika Thamrin, banyak persoalan, masalah atau konflik dalam diri seseorang muncul karena yang bersangkutan mengalami stress, kesepian atau karena kebutuhan non fisiknya tak terpenuhi.

Itu pula sebabnya, lanjut ibu tiga putra ini, mengapa banyak orang memilih menjadi buruh pabrik ketimbang pembantu rumah tangga meski dalam hitungan finansial, pendapatan akhirnya (setelah upah buruh dipotong biaya hidup sehari-hari) tak jauh berbeda. “Sebab, sebagai buruh, kebutuhan gaul mereka, kebebasan beraktivitas mereka bisa lebih terpenuhi.”

Cukupkah ini semua? Belum. Ustaz Habibullah Komaruddin menambahkan, sebagai muslim, memperlakukan khadimat sebagai manusia seutuhnya juga berarti memperhatikan hak-hak khadimat untuk dapat meraih surga. Oleh karena itu merupakan kewajiban majikan pula untuk membimbing khadimat dalam menjaga dan meningkatkan keimanan dan ketakwaaan atau kalau kita tak mampu melakukannya sendiri, berilah kesempatan khadimat untuk mencari jalan meningkatkan keimanan dan ketakwaannya. 

PRT: mitra kerja dengan asas kekeluargaan

Pembantu rumah tangga bukan budak yang nasib baik buruknya, hidup dan matinya tergantung pada suasana hati sang majikan. Namun, khadimat adalah seorang mitra kerja yang perlu diberikan kejelasan hak dan kewajiban sejak awal bekerja.

Hal yang paling baik tentu hak dan kewajiban ini berwujud perjanjian tertulis. Namun, dengan tingkat pendidikan yang umumnya rendah, soal perjanjian tulis menulis ini biasanya kurang efektif. Oleh karenanya, Ustaz Habib menyatakan, cukuplah bila sudah dilakukan perjanjian lisan berbentuk kontrak mutual. “Yang penting dinyatakan, tugasnya apa secara umum, hak-haknya apa, misalnya setiap bulan dapat libur dua hari, dan dia mendapat gaji berapa.”

Bila mendapatkan PRT melalui lembaga penyalur biasanya sudah dibuatkan satu kontrak kerja yang lebih rapi, namun tetap saja majikan dan PRT mesti melakukan akad kerja.

Soal batasan kontrak kerja, baik tertulis maupun hanya merupakan kontrak mutual lisan, memang tergantung pada kesepakatan yang mencakup hak dan kewajiban PRT. Namun, Ustaz Habib menjelaskan ada satu asas Islam yaitu kemakrufan yang harus diperhatikan para majikan. Hal-hal yang makruf ini mungkin tak tertulis, tak tercatat, tak disepakati tetapi merupakan norma yang baik, realistis, rasional dan berkaitan dengan masalah nurani, misalnya saja soal pemberian hadiah, membelikan baju atau jajan, ujar Ustaz Habib. Tak tertulis, tak wajib, tak masuk kesepakatan tetapi toh perlu dilakukan sebagai norma kebaikan.

Pendekatan personal

Hubungan pembantu dan majikan sesungguhnya terangkum dalam konteks salingmembutuhkan. Majikan butuh bantuan untuk menangani pekerjaan-pekerjaan teknis kerumahtanggaan, sementara khadimat membutuhkan pemasukan finansial untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Akan tetapi, yang namanya manusia tentu memiliki perbedaan yang memungkinkan timbulnya konflik dengan sesama. Beda harapan, beda kemampuan diri, beda temperamen, dan banyak lagi.

Untuk meminimalisasi hal ini, Rustika menyarankan agar majikan selalu siap membangun pendekatan personal pada khadimatnya.

Daripada nantinya majikan kecewa dengan cara kerja, atau perilaku khadimat yang tidak sesuai harapan, sejak awal nyatakanlah harapan itu, semisal: “Mbak, kalau memasak, saya ingin begini…begini…begini…untuk mencuci saya ingin Mbak melakukan ini…ini…ini…”Namun, setelah menyatakan harapan beri kepercayaan pada khadimat dan bahkan beri toleransi bila kenyataannya perilaku atau cara kerja khadimat itu tidak benar-benar sesuai dengan harapan kita.

Jika sudah mengungkap harapan, memberi kepercayaan dan toleransi tetap terjadi sebuah kesalahan ungkapkan pula teguran ini secara personal dan baik. Nyatakan apa yang kita rasakan dan evaluasi kesalahan pekerjaannya, misalnya: “Mbak, saya kecewa dan sedih baju saya bolong kena setrika. Saya kan sudah memberitahu kalau menyetrika ini caranya begini…begini…dan begini…bagaimana ini bisa terjadi?

Lantas, teguran ini bisa ditutup dengan ungkapan” Saya tidak mau ini terjadi lagi ya Mbak…atau lain kali lakukan seperti yang saya ajarkan ya …”

Tak sekedar mengoreksi, sangatlah bijak bila kita juga memberi penghargaan pada hasil kerjanya. Sebagai manusia ia tentu membutuhkan penghargaan yang bisa memompa semangat berkerjanya. Misalnya, “Kalau nggak ada Mbak rumah jadi berantakan.” Atau, “Kalau ada Mbak, tanamannya jadi tumbuh bagus deh. Habis saya kerja terus sih, jadi nggak sempet nyiram tanaman….”

Peran kunci pada majikan

Meski sebagai majikan, banyak ibu rumah tangga mengeluh jengkel dan kesal pada khadimat mereka. Namun, dalam konteks hubungan PRT-majikan, peran kunci menurut Ustaz Habibullah terdapat pada pihak majikan. Apabila ada keluhan soal khadimat, majikan toh bisa mudah saja memberhentikan atau memberi sanksi, suatu hal yang tidak bisa dilakukan khadimat. Itu sebabnya Ustaz Habibullah menegaskan bisa diterima pernyataan ada khadimat terzalimi namun tidak bisa diterima istilah majikan terzalimi.

Sebab, jelas ustaz yang juga memiliki lembaga penyalur baby sitter ini, di tangan majikanlah terdapat otoritas untuk membuat ketentuan dan peraturan kerja, di samping tingkat pendidikan dan pengalaman hidup yang lebih baik. Oleh karena itu, majikanlah yang harus lebih proaktif untuk berbuat baik, memberi keteladanan, bahkan memupuk kesabaran. “Makanya fokus perhatian akhlak harus lebih ditekankan pada majikan ketimbang pada khadimat,” jelas lulusan fakultas syariah LIPIA ini pula.

Makanya, tak usah terlalu mengkhawatirkan perilaku atau cara kerja khadimat, karena setiap majikan semestinya bisa segera mengambil tindakan dan keputusan untuk mengatasinya, namun tengoklah dulu pada diri sendiri, sudahkah kita menjadi sosok majikan yang saleh dan adil.

Tak kurang pentingnya adalah proaktif membangun kepedulian di lingkungan sekitar kita agar terbina selalu saling memberi manfaat di antara PRT dengan majikan, majikan dengan majikan dan PRT dengan PRT dan bukan terjadi saling memunculkan bahaya, dosa dan permusuhan diantara kita semua.

Foto ilustrasi: google

Profil penulis:

(Zirlyfera Jamil/ bahan: Rahmi dan Rosita) 

Artikel terkait:

Dilarang Keluar Rumah Saat Maghrib, Ini Alasannya!

Tips Agar Ibu Bekerja Tetap Sukses Dalam Rumah Tangga

Alasan Mengapa Suami Perlu Memberi Istri Uang Perawatan Wajah

 

loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.