Tawadhu, Hindarkan Takabur

0 8

Seluruh hidupnya ia dedikasikan untuk Rasulullah saw dan kaum Muslimin. Bukan untuk menjadi pelayan atau pembantu Rasulullah. Bukan juga menjadi musytasyar (orang yang diajak bermusyawarah), seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Namun, dengan pekerjaannya, Abu Hurairah menjadi orang yang paling tahu mengenai Rasul yang mulia.

Ia bertugas mengikuti Rasulullah ke mana pun beliau pergi untuk mencatat akhlak, kebiasaan, sikap beliau dalam berbagai situasi, doa yang dipanjatkan, petuah-petuah, dan segala sesuatu tentang Rasulullah.

Empat tahun bersama Rasulullah menjadi masa paling sibuk bagi Abu Hurairah. Ia mengikuti kehidupan Rasulullah, bahkan sampai ke kamar mandi. Tak heran, kita menemukan banyak hadits mengenai adab di kamar mandi yang diriwayatkan Abu Hurairah, selain dari istri-istri Nabi saw. Abu Hurairah pergi bersama para sahabat ke medan perang, bukan untuk berperang, tapi mencatat apa yang terjadi dan apa yang dilakukan Rasulullah di medan perang.

Namun, pengetahuannya tentang Rasulullah tak lantas membuatnya mengklaim bahwa dialah yang paling dekat dengan Rasulullah. Padahal, siapa pun akan mafhum jika ia berkata, “Saya tahu bahwa Rasulullah begini-begini….”

Abu Hurairah meriwayatkan hadits dengan kata-kata standar seperti sahabat yang lain: “Rasulullah bersabda”, “Saya mendengar”, “Rasulullah mengajarkan”, dan lain-lain. Tidak ada kata-katanya yang menunjukkan bahwa dia orang spesial di sisi Rasulullah.

Ia tahu, Rasulullah adalah orang yang memiliki kedekatan dengan banyak orang hingga tak layak rasanya jika ia menonjolkan kedekatan dirinya dengan beliau saw. Rasulullah adalah Rasulullah, Abu Hurairah adalah Abu Hurairah. Kesadaran itu membuatnya tetap berlaku secara proporsional. Bahkan dalam banyak peristiwa yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah, Abu Hurairah meriwayatkan hadits dengan sangat jernih memosisikan dirinya sebagai perawi, bukan orang dekat Rasulullah.

Sahabat, itulah sikap tawadhu seorang Muslim. Kepercayaan diri Abu Hurairah membuatnya tak perlu menempelkan namanya dengan nama besar Rasulullah.

Mari kita bermuhasabah dengan diri. Saat ini, banyak dari kita yang sering membawa nama besar tokoh, nama besar pejabat, dan nama besar orang-orang terpandang hanya untuk menunjukkan kedekatan atau kepercayaan yang diberi oleh si nama besar.

Waspada bila itu ada dalam diri kita. Sebab, biasanya setelah itu akan muncul benih-benih takabur dalam diri kita. Jadilah diri sendiri karena kelak kita bertemu Allah seorang diri. Dan teladanilah Abu Hurairah yang tetap tawadhu dalam kedekatannya dengan Rasulullah. 

 

 

 

loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.