Sejarah Kemerdekaan Indonesia dan Peran Ulama

By | August 17, 2018

Banyak anak bangsa yang tidak memahami peran serta Ulama dalam kemerdekaan Indonesia, kali ini Ummi akan membahas sejarah penting ini. InsyaaAllah artikel ini tidak bermaksud membedakan atau RASISME yang membenturkan satu agama dengan agama yang lain, atau satu kelompok dengan kelompok yang lain, namun tujuan dari artikel ini adalah agar kita dalam memperingati kemerdekaan Indonesia yang 73 semakin menghargai peran pahlawan kita dalam memerdekakan negara ini.

Pastilah kita mengetahui bersama bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia melalui Soekarno dan Hatta telah memproklamirkan kemerdekaannya. Sebuah sejarah, dimana pada tanggal tersebut hingga saat ini kita telah terbebas dari para penjajah yang ratusan tahun menguasai tidak hanya wilayah namun juga kekayaan bahkan hak-hak pribadi rakyat Indonesia pun dirampas. Dan disinilah peran ulama yang berjuang dalam membebaskan wilayah bangsa Indonesia.

Setidaknya ada 6 peran aktif ulama dalam membebaskan bangsa ini, yuk simak :

  1. Para ulama menyadarkan rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan para penjajah. Di berbagai pesantren, madrasah, organisasi, dan pertemuan lainya, para ulama menanamkan kesadaran di hati rakyat akan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan tersebut.
  2. Para ulama memimpin gerakan non kooperatif pada penjajah Belanda. Para ulama di masa penjajahan banyak mendirikan pesantren di daerah-daerah terpencil, untuk menjauhi bangsa penjajah yang banyak tinggal di kota. Di masa revolusi, Belanda mempropagandakan pelayanan perjalanan haji dengan ongkos dan fasilitas yang dapat dijangkau oleh kaum Muslim di daerah jajahanya. KH Hasyim Asy’ari menentang, beliau mengeluarkan fatwa bahwa pergi haji dalam masa revolusi dengan menggunakan kapal Belanda hukumnya haram. Setiap bujukan agar Kiai Hasyim tunduk dan mendukung Belanda selalu gagal dilakukan. Gerakan non kooperatif ini pun dilakukan dan dipimpin oleh ulama-ulama lainnya.
  3. Mengeluarkan fatwa wajibnya jihad melawan penjajah. Fatwa jihad ini sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan semangat pahlawan. Perang melawan penjajah dianggap jihad fi sabilillah, yakni perang suci atau perang sabil demi agama.
  4. Memobilisasi dan memimpin rakyat dalam perjuangan fisik melawan penjajah. Banyak ulama yang menjadi pemimpin perlawanan, seperti Pangeran Dipenogoro, Fatahillah, Imam Bonjol, Teungku Cik Ditiro, KH Hasyim Asy’ari, KH Abbas Buntet, KH Zainal Mustafa, dll.
  5. Menyerupakan persatuan membela kemerdekaan RI yang diproklamasikan Soekarno-Hatta. Para ulama yang dipimpin Kiai Hasyim Asy’ari memfatwakan kewajiban mempertahankan kemerdekaan RI, dan pada 1954 sebuah Musyawarag Alim Ulama Indonesia (NU) di Cipanas mengambil keputusan bahwa Presiden Soekarno adalah Waliyyul Amri Dharuri bisy-Syaukah, artinya pemegang pemerintahan yang punya cukup kewibawaan dipatuhi oleh pejabat dan rakyat.
  6. Berperan aktif dalam mengisi awal kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan para ulama ikut mempersiapkan kemerdekaan, termasuk di BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia). Dan pada awal kemerdekaan, banyak ulama yang aktif di pemerintahan atau parlemen. Dan juga tak terhitung para ulama yang berjuang melalui organisasi dan pendidikan.

Oleh karena itu, bangsa ini jangan sampai lupa, bahwa para Ulama selalu bersama pemimpin bangsa dalam memerdekakan dan juga menjaga bangsa ini dari rongrongan pihak yang ingin Indonesia pecah dan rusak. Mari taat kepada segala perintah Ulama yang mengedepankan kepentingan bangsa daripada terjun ke politik praktis.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *