Puasa Lupa Niat, Apakah Puasanya Sah?

By | June 4, 2018

Sahabat Ummi, pernahkan Sahabat Ummi melupakan membaca niat puasa ketika malam sebelumnya?

Biasanya hal ini terjadi ketika diawal-awal bulan puasa. Terlebih jika yang tidak terbiasa puasa sunah.

Lalu, banyak yang bertanya-tanya bagaimana hukum puasanya? Apakah sah?

Niat sebagai bagian terpenting dalam melaksanakan ibadah. Termasuk dalam ibadah berpuasa, baik puasa sunah maupun Ramadhan.

Dalam hadis Nabi yang diriwayatkan sahabat Umar bin Khattab dijelaskan, “Setiap perbuatan itu hanya dinilai berdasarkan niatnya. Dan, seseorang itu hanya akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.”

Lalu bagaimana dengan orang yang lupa niat di malam hari padahal puasa Ramadhan merupakan puasa wajib?

Puasa wajib, niat dilakukan ketika malam hari. Saat terbenamnya matahari (magrib) sampa fajar menjelang (subuh). Atau yang dikenal dengan istilah tabyitun niyyah (menginapkan niat).

Puasa Lupa Niat, Apakah Puasanya Sah

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum adanya fajar maka tidak ada puasa baginya,” (HR. al-Nasaai dan al-Baihaqi).

Dari hadist tersebut dapat kita ketahui bahwa jika kita lupa berniat puasa Ramadhan sampai melewati waktu fajar (subuh), maka puasanya tidak sah.

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum adanya fajar maka tidak ada puasa baginya,” (HR. al-Nasaai dan al-Baihaqi).

Sebagaimana juga ditegaskan oleh Imam al-Haromain dalam Nihayatul Mathlab fi Dirayatil Madzhab: “Siapa yang lupa niat pada bulan Ramadan dan sudah masuk waktu Subuh, maka wajib melakukan imsak menurut pendapat yang shahih (benar)”.

Jadi, orang yang lupa berniat puasa maka ia harus mengqada’ puasanya pada hari-hari yang lain, namun ia tetap diwajibkan imsak pada hari itu.

Tapi perlu diketahui, jika saat malam Ramadhan sempat terbesit untuk berpuasa, maka hal tersebut termasuk niat. Namun, niat itu sah apabila juga terdapat ta’yin (menentukan jenis puasanya pada hari itu yaitu puasa Ramadan) dan dilakukan setiap malam (satu kali untuk satu kali puasa).

Adapun sahur tidak dengan sendirinya menggantikan kedudukan niat, kecuali sahur yang memang dengan niat puasa Ramadan atau terbesit di dalam benaknya untuk berpuasa Ramadan.

Syaikh al-Bakri Syatha al-Dimyathi berkata di dalam I’anatuth Thalibin: “Ibarat al-Raud beserta syarahnya: Seandainya sahur untuk berpuasa, atau minum untuk menghilangkan dahaga pada siang harinya, atau menahan diri dari makan minum dan bersetubuh sebab khawatir terbit fajar, maka itu termasuk niat jika terbesit pada benaknya puasa fardu Ramadan, karena indikasi tiap-tiap perbuatan tersebut adalah menyengaja puasa”.

Semoga artikel ini dapat membantu. (Marthina)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *