Pasangan Enggan Bicarakan Uang, Pertanda apa?

By | August 21, 2013

Apakah selama ini Anda terbiasa membicarakan keuangan dengan pasangan? Jika iya, syukurlah. Namun, jika tidak, Anda perlu waspada. Kenapa?

Ana, 19 tahun menikah, tetapi tak pernah sekalipun membicarakan masalah keuangan dengan suaminya. Bahkan, jumlah gaji suaminya dia juga tidak tahu. Setiap bulan ia diberi uang oleh suami dan mengatur keuangan keluarga semampunya. Jika tak cukup, ia terpaksa berutang. Kini Ana dilanda kebingungan, utang semakin banyak dan ia takut menyampaikannya pada sang suami.

Lain lagi cerita Laila, karyawan salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Sejak awal menikah, si suami menyampaikan secara terbuka jumlah pendapatannya setiap bulan. Hanya, ia tak pernah merasa perlu mengajak istrinya berdiskusi sebelum membeli sesuatu. Tahu-tahu, sebuah TV flat diantar ke rumahnya, padahal TV mereka tidak rusak. Alasan si suami, “Mumpung harganya murah karena lagi promo!” Laila hanya bisa geleng kepala.

Apa yang bisa Anda ambil dari dua kasus di atas? Bagaimana sebuah komunikasi keuangan yang ideal dalam keluarga?

 

Komunikasi Terhambat, Hubungan Tak Sehat

Enny Hanum, Psi, praktisi Fakultas Psikologi UI ini mengatakan, terhambatnya komunikasi keuangan dengan pasangan menandakan hubungan yang tidak sehat. Mengapa? Karena idealnya setelah menikah, tak ada lagi “sekat” antara suami istri.

“Jika hal yang haram saja menjadi halal setelah menikah, seharusnya tak ada lagi hal yang tabu bagi pasangan,” katanya.

Namun, realitasnya tidak demikian. Tak semua pasangan secara otomatis “menjadi satu” setelah menikah. Secara fisik mungkin mereka telah tinggal bersama, namun secara psikologis belum tentu masing-masing pasangan siap menjadikan keluarga sebagai orientasi yang utama.

Hal ini penting diketahui, terutama untuk memahami kenapa banyak suami yang enggan bicara masalah keuangan. Laki-laki umumnya memiliki rasa ego yang tinggi sehingga cenderung dominan dalam keluarga.

Bicara manajemen keuangan menjadi topik yang sensitif karena bisa “mengancam” posisi dominan suami. Bagaimana tidak, jika keuangan sudah dikelola baik, tentu tak ada ruang untuk alokasi sesuai keinginan hati. “Saya yang mencari uang, masak saya tidak bisa menentukan alokasi uang tersebut,” demikian kira-kira kekhawatiran para lelaki.

Berbeda dengan perempuan. Ketika menikah, umumnya jati diri sebagai perempuan sudah lebur ke dalam identitasnya sebagai istri dan ibu. Karena itu, banyak perempuan yang setelah menikah cenderung mengenyampingkan kepentingan pribadi. Kalau kebutuhan anak dan suami sudah terpenuhi baru dia berpikir mengalokasikan uang untuk kepentingan pribadi.

Tentu tidak semua pasangan seperti ini. Namun jarang kita temui laki-laki yang dengan sukarela menyerahkan penghasilan bulanannya, termasuk bonus dan insentif, pada istri kecuali memang ia tipe family man.

Sebaliknya, jarang kita temui perempuan yang setelah menikah malah mendahulukan alokasi keuangan dari penghasilan suaminya untuk perawatan ke salon, belanja, atau mengabaikan kebutuhan makan keluarga dan uang sekolah anak, misalnya.

 

Tidak Sekedar Berbicara

Lalu bagaimana agar pasangan lebih terbuka membicarakan keuangan? Jika Anda masih lajang, pesan Enny, bicarakan masalah ini sejak proses awal sebelum menikah. Bisa dimulai dari perkiraan jumlah penghasilan dan orientasi pengeluaran. Apa yang akan Anda prioritaskan dan tetapkan alokasi dana yang cukup untuk hal tersebut.     

Jika Anda sudah menikah dan menemukan pasangan Anda enggan berbincang masalah keuangan, coba amati lebih dalam penyebabnya. Apakah masalah teknis atau filosofis? Masalah teknis biasanya terjadi karena kurangnya pengetahuan mengelola uang, baik pada istri ataupun suami. Hal ini dapat diatasi dengan peran aktif salah satu pihak untuk memfasilitasi pasangan agar terlibat sedikit demi sedikit.

Namun, akan menjadi agak rumit jika masalahnya bersifat filosofis. Apabila suami tidak mau diatur dalam manajemen keuangan karena ia merasa mencari uang. Apalagi, jika dia terbiasa melakukan sesuatu tanpa membicarakan dengan istri, baik hal yang positif, misalnya memberi uang ke orangtua, ataupun yang negatif, seperti selingkuh. Artinya, secara mendasar tidak ada rasa saling percaya dalam keluarga. Solusi untuk masalah ini tentu tidak mudah.

Jadi, membicarakan uang tak sekedar “bicara” namun juga menyelaraskan pandangan tentang posisi masing-masing dan keluarga seperti apa yang ingin dibangun. Jika pasangan, masih merasa ada “kepentingan pribadinya” yang terancam, pembicaraan mengenai hal ini mustahil dilakukan.

 

Hati-hati dengan Uang

Uang bukan segalanya, tapi banyak hal tak bisa dilakukan tanpa uang. Keluarga yang tak memiliki cukup uang, rawan mengalami goncangan. Sebaliknya, keluarga dengan banyak uang, jika tak hati-hati, mudah tergelincir pada hal-hal negatif. Namun, Enny menekankan, yang berpotensi menjadi masalah itu bukan uangnya sendiri, melainkan karena tidak ada komunikasi suami istri tentang bagaimana memanfaatkan uang tersebut.

Coba kita lihat fenomena di sekitar kita. Ada keluarga yang merasa tak mampu untuk membayar uang sekolah 100 ribu per bulan. Sedangkan untuk makan, jajan dan rokok bisa menghabiskan 30 sampai 50 ribu rupiah setiap hari. Hal ini tak akan terjadi jika keluarga tersebut memiliki orientasi jangka panjang yang diatur dalam perencanaan keuangan keluarga.

Memang tidak mudah membuat perencanaan keuangan. Selain butuh ilmu, mensyaratkan pula kesepakatan pasangan untuk konsisten dan disiplin melaksanakan perencanaan tersebut. Nah, sekali lagi komunikasi menjadi kunci keberhasilan. Tanpa ada komunikasi saat membuat perencanaan keuangan, implementasi akan sulit dilakukan. Jadi tunggu apa lagi, yuk, perbaiki komunikasi keuangan dengan pasangan sekarang juga!

 

Tambahan

Anda sering berkomunikasi dengan pasangan, tapi tidak mendapat respons positif? Bisa jadi ada yang salah dengan cara atau ekspresi Anda. Menurut Albert Mehrabien dalam Factors for Succesfull Communication, efektivitas komunikasi ditentukan oleh:

  1. Apa yang kita sampaikan (7%).
  2. Bagaimana cara kita menyampaikannya (38%).
  3. Gerak, posisi serta ekspresi tubuh (55%).

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *