Menundukkan Ego Demi Ridha Allah

By | October 19, 2015

Naluri untuk selalu diakui, dihargai dan dihormati keberadaanya ada pada setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Naluri itu sesungguhnya merupakan karakteristik manusia, yang memang diberikan oleh Allah kepada makhluk-Nya, yang dalam kehidupan kita sehari-hari sering disebut dengan istilah ego.  Dan menundukkan ego, bukanlah hal yang mudah, apalagi bagi seorang isteri dihadapan suaminya.

Namun ketika Allah memerintahkan seorang istri untuk taat kepada suaminya, yang telah Allah tetapkan sebagai qawwam, maka mau tidak mau, suka tidak suka ia harus mengupayakan ketaatan kepada suaminya semata untuk meraih ridha Allah.   Seorang  istri shalihah akan mengerahkan segala upaya, agar ia dapat meraih ridha Allah melalui ridha suami.  Nabi Saw telah bersabda:  “Ridha Allah adalah ridha suami”.   terlebih lagi juga beliau katakan : “kalau seandainya diperbolehkan manusia bersujud kepada manusia, maka akan aku perintahkan  seorang istri bersujud kepada suaminya”.

Maka demi meraih ridha Allah, maka istri harus dapat menghilangkan rasa malu,  berat, sungkan, enggan, malu apalagi gengsi.  Demikian juga semua Kesombongan dan keangkuhan istri harus dihancurkan.  Karena Semua itu adalah penghalang untuk mendapatrkan ridha Allah. maka semua perasaan tersebut harus dihilangkan agar kita menjadi istri yang mendapat ridha Allah karena suami kita ridha kepada kita.  Dari Abdullah bin 'Abbas r.a: Rasulullah bersabda,“Maukah Kuberitahu kepada kalian tentang istri-istri kalian yang masuk penghuni Surga? Yaitu perempuan-perempuan yang mencintai suaminya, melayani suaminya,  punya banyak anak. Jika ia menyakiti atau disakiti, Ia segera mendatangi suaminya dan memegang tangannya, lalu berkata, “Demi Allah, aku tidak akan tidur sebelum engkau ridha kepadaku.”[HR AL-Nasa'i]

 

Baca juga: Talak Istri dalam Keadaan Marah, Sah atau Tidak?

 

Untuk mengutamakan ridha Allah sudah barang tentu bukan satu perkara yang mudah.  Namun keimanan kita kepada Allah dan hari akhir haruslah menjadi pendorong untuk dapat membuang semua perasaan yang menghalangi ketaatan pada suami –tentu selama tidak maksiat kepada Allah-, agar kita selalu menyenangkan jika dipandang suami, agar suara kita selalu lembut dan halus terdengar oleh suami, agar muka kita selalu manis dihadapan suami dan sebagainya.   Demnikian pula halnya sikap suami kepada istri.

Karena itu istri harus mengupayakan agar dapat mewujudkan ketaatan kepada suami dalam bingkai ketaatan kepada Allah.

1.Kuatkan tekad dan keseriusan kita. 

Tanamkan dengan sungguh-sungguh, bahwa kita benar-benar ingin menjadi istri yang shalihah yang taat dan membuat senang suami. 

2.Berupaya sekuat mungkin untuk menghilangkan perasaan yang menghalangi terwujudnya ketaatan pada suami sebagaimana yang disebutkan diatas. Maka kuatkan kesabaran, tahan amarah, rasa jengkel dan kesal.

3.Doa kepada Allah agar dimudahkan untuk selalu bersikap baik kepada suami. 

Jadikan shalat malam sebagai tempat munajat kepada Allah, mohon kepada Allah agar melembutkan hati kita.  Biarkan sajadah kita menjadi saksi uraian air mata perjuangan kita menundukkan ego kita agar selalu menyenangkan hati suami kita. 

Jangan cukupkan semua upaya hanya dalam satu hari atau seminggu atau sebulan kalau belum terwujud hati yang tunduk kepada ketentuan Allah. Namun teruslah berusaha sampai akhirnya kita benar-benar menjadi istri yang shalihah, yang taat pada Allah dan taat pada suami, Ya Rabb, mudahkanlah upaya kami menjadi istri shalihah, yang mendapat ridha-Mu karena suami kami ridha kepada kami.  Aamiin

Foto ilustrasi: google

Profil penulis:

Arum Harjanti

Seorang ibu yang sedang belajar menulis, tinggal di Bogor

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *