LUGAS, CERDAS DAN BERKARYA

By | April 23, 2017

oleh : Syasha

Namanya ANI RUKMINI, seorang perempuan cerdas, lugas, ramah dan
bersahaja.
  Saya mengenalnya sejak lama,
semangatnya selalu menginspirasi teman-teman di sekitarnya.
  Saya sering merasa iri dengan keterampilanya
berbicara, wajah yang selalu cerah ceria, pribadi yang senantiasa berkharisma.
  Beliau sempat diamanahkan menjadi anggota DPRD
Jawa Barat dalam dua periode, tak salah kiranya bila beliau dinobatkan sebagai
Tokoh Perempuan Jawa barat.
  Perempuan 4
anak dan 4 cucu ini konsentrasi mengurusi hal-hal yang brkaitan dengan
permasalahan Anak, Perempuan dan Keluarga.
 
Dalam nuansa Kartini bulan ini,  kita
sejenak berkenalan dengan beliau lebih jauh, berikut hasil wawancaranya.

Aktivitas yang dijalani apa saja?

Saya ketua Salimah Jawa
Barat masih sampai tahun 2018, di KNRP sebagai duta parenting, al-quds
parenting, saya juga sebagai konsultan keluarga P2TP2A Jawa Barat, konselor ya,
karena saya basicnya bukan psikolog saya lebih senang menyebutnya konsultan
keluarga. Di dpp saya juga sebagai konsultan keluarga bersama pak cahyadi
takariawan, kemudian, sekarang ini membantu dinas pemberdayaan perempuan
perlindungan anak dan keluarga di Motivator Ketahanan Keluarga (Motekar) Jawa
Barat, sebagai koordinatornya.

Alasan ibu terjun ke dalam aktivitas ini untuk apa?

Alasannya apa ya?
Pertama sih lebih ke amanah, mula2 disuruh ini itu, kemudian ya jadi ketua Salimah,
kemudian diminta membantu di di P2TP2A, begitu pula di Motekar .

Tujuannya buat apa nih bu? Apalagikan ibu perempuan, gak ada
perasaan takutkah atau gundah gulana?

Takut dan gundah gulana
itu biasa tetapi dibawa enak saja, kalau lagi  fokusnya di salahsatu kegiatan,ya fokus saja
disitu, permasalahan yang sedang ditangani jangan sampai dibawa ke rumah, nanti
baru buka memori kalau memang ada yang mengingatkannya lagi. Yang penting
amanah, sosialisasi, ya seneng aja bisa bermanfaat.

Tantangan terbesar selama beraktivitas?

Tantangannya sih
sbenernya peran domestiknya kan kuat ya, lebih kesana kalau kita keluarkan
pasti ada peran2 domestik yang kita tinggalkan. Anak keluarga, tetapi itu semua
kembali kepada kita mengelola waktunya. Menaklukan tantagan itu menjadi peran
kebaikan. Yang jelas perempuan itu kan ada manajemen perempuan, yaitu

Ada empat:

Saat perempuan
belum menikah
maka peran domestik dengan peran publik jauh
lebih besar, peran ke publiknya jauh lebih besar, tetapi tidak mengabaikan
perannya sebagai seorang anak.  Jadi,
tetap tidak boleh melupakan orang tua.

Kemudian
menikah
, belum punya anak…. nah ituperan publiknya
masih terbuka lebar, dengan tidak mengabaikan perannya sebagai seorang istri.

Kalau perempuan itu
sudah menikah dan punya anak
, anaknya usia 0-5th dimana itu masa golden
age, ada pengasuhan sempurna, 6 bln 2 thn masih di sapih, baru disana muncul peran
domestiknya lebih besar dengan tidak mengabaikan peran publiknya.

Jadi disitu ada pendelegasian
nah kita yang ngatur gimana, misalnya kalau pergi anak dibawa, pokoknya kita atur
bagaimana tetap mensupport kegiatan tersebut tanpa mengabaikan anak. Nah, peran
domestiknya lebih menonjol

Kalau sudah memasuki
fase peran keempat
, ketika anak sudah memasuki usia 5 tahun ke atas tetap
harus seimbang antara peran domestik dan peran publiknya, kalau saya kan udh
masuk fase keempat anaknya udh di  diatas
5 tahun,sudah pada dewasa, jadi sebenernya saya bisa lebih leluasa tuh tetapi
tetap menseimbangkan peran domestiknya, kalau dalam tahapan keluarga tuh saya
launching center, jadi anaknya ada yang keluar tetapi, blm semuanya, baru dua
kan yang keluar, masih ada dua lagi yang harus saya perhatikan,

Motto hidup ibu apa?

Bermanfaat bagi orang
lain itu gak berubah-rubah dari pertama saya tahu ada motto

Kenapa memilih motto tersebut?

Bahagia saja rasanya kalau
sudah membantu orang lain.

Cita2 dulu dan sekarang?

Dulu waktu kecil pengennya
jadi pramugari sebenernya, ganti lagi pengennya jadi psikolog, dari kecil
sampai smp suka gitu sama yg brhubungan dengan manusia. Tadinya mau ke
psikolog, tetapi tetangga bilang ngapain ke psikolog nanti kayak dukun
(tertawa), terus karena saya ini orangnya adaptif, pokoknya gimanapun caranya
saya masuk dulu perguruan tinggi ,  kayaknya
ke IKIP bisa nih masa iya IKIP aja gak tembus, saya ajakan semua serba terbatas,
dari kemampuan anggaran, bukan orang kaya, ya harus masuk perguruan tinggi
negeri karena ga mungkin swasta, jadi ya sudah saya milihnya fakultas ilmu
pendidikan administrasi pendidikan yang rumornya saat itu mau ditutup. Pernah
juga ngajar jadi guru, tetapi ada karir politik 2004 ditinggalin deh
ngajar-ngajar yg didepan kelasnya.

Psikolognya tercapai bu?

Psikolognya enggak,
tetapi kan guru itu relasinya dgn anak-anak, jadi disitu ya dapetlah, tersalurkan
juga kan dapat juga dasar-dasar psikologinya.

Hal yg digemari oleh ibu sendiri apa ya?

Aduhh hobi saya apa yaa…..Saya
tuh penikmat seni, saya suka dengerin puisi, ngeliat drama, nyanyi karena saya
penikmat seni. Tepatnya saya penikmat seni.

Pandangan adanya isu kekerasan pada anak jaman sekarang
seperti apa?

Iya, isu kekerasan padaa
anak dan perempuan sebenarnya sudah sejak lama ya, cuman kan dulu media belum
seperti sekarang ini, nah sekarang ini mencuat angkanya karena ada sosialisasi,
itu hal yang sangat memperihatinkan apalagi kalau hal ini dilakukan oleh orang
tua kepada anaknya. Orang tua harus memiliki mindset bahwa tidak boleh
melakukan tindak kekerasan terhadap anak kecuali peperangan, peperangan dalam
islam saja ada aturannya,tidak boleh sifatnya menyakitkan, misalnya membunuh ya
bunuh saja, tetapi kan tidak boleh disayat-sayat.

Adakah kasus paling besar yang pernah ibu tangani selama
menjadi konsultan?

Banyak, kekerasan anak
misalnya saya tuh gak perlu ngeliat gitu ya, mendengar anak dicubit, baru
digambarinaja saya merinding, jadi ada dari yang sifatnya fisik, ada yang
pelecehan seksual banyak, apalagi di P2TP2A.

Pekerjaan itu membuat
saya mudah reaktif misalnya saat saya sedang di suatu tempat, atau dimana gitu ya,
kalau ngeliat orang tua yang anaknya minta jajan tapi gak ngasih malah dipukul
itu anakya, biasanya langsung saya tegur itu “Ibu mau ngebeliin dia gak?”
“Kalau engga ya jangan dimarahin, udah gak ngebeliin di marahin lagi,” atau ada
ibu yang anaknya lagi di opame, anaknya gak mau makan udh dimarah-marahin, udah
aja saya samperin, “kenapa sih bu?” “ini anaknya nih,” “iya tapi kan kalau di
marah-marahin gitu mana dia mau makan, sudah bu jangan dimarahin ya anaknya”
saya ajak ngobrol dia akhirnya dia ngerti juga.  Kalau lihat-lihat begitu saya suka langsung
samperin saja.

Ibu kan berkecimpung dalam permasalahan keluarga ya, nah
sekarang kan ada istilah Ketahanan Keluarga, Apa sih bu yang dimaksud dengan
ketahanan keluarga?

Ketahanan keluarga itu
sesuatu yang sifatnya dinamis, ada ketahanan fisik, ketahanan psikis, ketahanan
ekonomi sosial budaya, kondisi dinamis sejauh mana keluarga itu memiliki
kemampuan untuk membangun ketahanannya dengan adanya interfensi-interfensi dari
internal maupun dari eksternal.   Masing-masing
memiliki masalah baik dari internal berupa mindset, nilai-nilai, cara pandang tentang
keluarga, cara pandang dia tentang kemiskinan 
itukan bisa memegaruhi, lalu secara eksternal dengan kondisi global seperti
harga mahal, politik yang menimbulkan ketidak nyamanan.

Internal ya misalnya
kondisi fisik sakit ya itu saja sudah memengaruhi sebuah ketahanan keluaga,
kepala keluarganya sakit menahun tdk bekerja lagi mempengaruhi ketahanan ekonomi
yang terganggu berakibat  ketahanan
mentalnya juga terganggu, ketahanan keluarga itu bersifat holistik, harus
memenuhi ketahanan fisik, psikis, spiritual, sosial budaya.

 Namanya “tahan” ya tahan uji ya bagaimana
setiap keluarga itu harus tahan uji dalam setiap ketahanan variabel penganggu, muncul
nantinya kerentanan, dan kelentingan. Dalam kerentanan keluarga tidak memiliki
kemampuan mengelola konflik dalam situasi kritis jadi ada  hal2 yang menganggu , suaminya sakit colleps,
suaminya berenti kerja dia bingung, intinya bagaimana proses ketahanan keluraga
itu harus selalu diperkuat agar menghasilkan keluarga yang sejahtera.

Upaya sosialisasi terhadap ketahanan keluarga?

Ya saya kan banyak jdi
pembicara ya paling lewat media2 seminar,seperti itu atau siaran radio, kalau
konsultan ya edukasinya ketika saat konsultasi ketika sedang menjadi konsultan
sebagai sarananya, atau saat mengisi ta’lim kesempatan itu juga bisa kita
gunakan.

Jawa Barat kan sudah mengeluarkan Perda No.9 tahun 2014
tentang ketahanan Keluarga, menurut ibu itu sudah tersosialisasikan secara baik
atau belum?

Kalau bicara kedaulatan,
bicara tentang integritas suatu bangsa sebenarnya asasnya dari keluarga,
ditengah isu-isu orang yang mau berusaha meredenifisikan sebuah keluarga  munculah perda ketahanan keluarag, sehingga
tidak disalahartikan sebuah keluarga menurut mereka, tetapi kita puya definisi
sendiri. Kalau tersosialisasikan dengan baik mungkinbelum maksimal ya, tetapi
sudah banyak dilakukan ke desa, tetapi apakah pembangunan keluarga itu sampai
pada target arus utamaan keluarga saya lihat belum, syarat pengarusutamaan
keluarga itu kan berarti melibatkan seluruh perangkat daerah yang ada harus
mengarah kepada ketahanan keluarga, bagaimana program-program itu meningkatkan
ketahanan keluaga

Hrusnya ada konsep PUK,
Pengarusutamaan Keluarga, bukan hanya PUG pengarus utamaan gender , kan sampai ada
muncul anggaran responsef gender, sampai adanya kesetaraan, harusnya Pengarusutamaan
keluaga juga bisa seperti itu karena kan kalau keluarga itu sudah bersifat
strategis kalau gender masih bersifat pasial, dia hanya bicara laki2 atau
perempuan dan kebanyakan karena perempuan masih lemah, tetapikan kalau bicara keluarga
berarti bicara semuanya, ya laki-lakin juga perempuanya, anak2nya.

Perdanya sendirikan sudah diberlakukan?

Sudah, ya itu adanya
motekar karena amanat dari perda no.9 tahun 2014

Hambatan terbesarnya apa  nih bu sehingga belum tersosialisasikan dgn
baik?

Sudah tersosialisasikan hanya
belum dianggap maksimal, bahwa seluruh rakyat apakah sudah mengetahui tentang
ketahanan keluarga , semua aturan yang ada itukan membangun kultur, membangun
sebuah budaya, seperti al-quran itukan UU dari Allah yang memang membangun
kultur,  nah ini harus terbentuk sebuah
kultur di masyarakat sedangkan ini belum, buktinya masih ada tindak kekerasan
terhadap anak tinggi di jabar, masih ada bapak yang tidak menyekolahka anaknya
misalnya belum sampai membuat sebuah habit kultur dan membangkitkan kesadaran
terhadap masyarakat

Terakhir ini bu, Menurut ibu apa makna hari kartini?

Hari kartini, maknanya,
perempuan merefleksikan dirinya sebagai seorang perempuan hanya apakah dia
harus memodeling kartini? mungkin masih ada yang lain, tetapi paling tidak itu
sebagai momentum, sebagai sebuah starting diingatkan refleksi perempuan itu
seperti apa, perempuan itu kan banyak amanahnya, perempuan sebagai hamba Allah,
perempuan sebagai anak, istri , ibu, anggota msyarakat, bagaiman seorang
perempuan merefleksikan diri ditengah amanah-amanah tersebut.  Kemudian  dia berfikir bahwa dirinya ada itu bukan untuk
suatu hal yang sia-sia tetapi memberikan kebaikan. Karena perempuan itu separuh
dari masyarakat , dia juga yang melahirkan masyarakat, di tangan perempuan
adanya perabadan itu, dia harus merefleksikan sesuatu yang besar, perempuan
tidak sekedar menjadi objek seks, atau menjadi sumber eksploitasi negatif.

 

dilaporkan oleh :

Ananda Aufa Sabila


_________________________________________________________________________________________________________

Syasha adalah ibu dari lima anak dua putra dan tiga putri,lahir di Garut 49th yang lalu, konsen di bidang Perempuan, Anak dan Keluarga dengan menjadi Trainer Motivator Ketahanan Keluarga (Motekar) Prof,Jawa Barat, menjadi konsultan Keluarga di Rumah Keluarga Indonesia, Mitra Insani Consulting, dan pendiri PGTK Mitra Insani, aktivis dari Penggiat Keluarga Indonesia (GiGa).  Pernah menulis beberapa artikel termasuk di Majalah UMMI, sampai sekarang masih penasaran untuk bisa menerbitkan buku. Alamat email [email protected],
alamat FB: Lusiana R Lacsana, alamat twitter syasha lusiana,
Alamat blog : Kemilau Senja

no. rekening an.Lusiana Rachmawati 0394252380




 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *