Kisah Nyata: Hati-Hati Menjaga Kecantikan

By | February 22, 2017

“Kecantikan Saya adalah Bumerang”

Ketika saya masih remaja, orang cantik yang benar-benar cantik secara alami memang masih jarang. Dan, saya boleh berbangga hati karena memiliki wajah di atas rata-rata. Bukanlah sebuah kesombongan bila saya mengatakan hal tersebut karena hampir semua laki-laki yang melihat saya langsung jatuh cinta.

Rupanya, hal tersebut membuat kedua orang tua saya khawatir. Menurut beliau, kecantikan yang tidak dijaga dengan baik akan membawa mala petaka. Untuk meminimalisir hal tersebut, selepas lulus SMK, saya dinikahkan dengan seseorang yang tidak saya kenal dan tidak pula saya cintai. 

Pernikahan pun berlangsung. Saya bisa dengan mudah berinteraksi dengan suami saya yang wajahnya tak terlalu mengecewakan. Ia juga orang juga kaya. Dia begitu mencintai saya hingga semua asetnya diberikan kepada saya tanpa rasa curiga. Kehidupan saya bisa dibilang sangat mapan. Suami kaya dan setia, hidup mapan dan berkecukupan, kurang apa lagi?

Jangan bilang saat saya menikah semua laki-laki akan menyerah dan tidak mengejar-ngejar saya karena kenyataannya tidak seperti itu. Menikah tak membuat kharisma saya pudar. Justru sebaliknya. Semakin banyak laki-laki yang mengejar-ngejar saya yang katanya lebih cantik daripada sebelumnya. Cantik dan kaya, siapa yang tidak bertekuk lutut? Mungkin kalau di zaman sekarang disebut dengan istilah “pesona mamah muda”.

Hingga peristiwa itu terjadi. Saya mulai bermain api dengan beberapa lelaki yang saya anggap lebih “wah” daripada suami saya dari segi fisik. Dengan kecantikan yang saya miliki, tak sulit bagi saya untuk mendapatkan laki-laki yang saya impikan. Herannya, mereka mau saja menjadi selingkuhan saya. Entah, magnet apa yang saya miliki sehingga bisa seperti itu.

Sebaik-baiknya kebusukan ditutupi, suatu saat akan tercium juga. Suami saya mengetahui gelagat itu. Begitu juga dengan kedua orang tua saya. Tentu saja, semua keluarga dan suami marah kepada saya. Namun, saya bisa dengan mudah merayu suami untuk memaafkan saya. Saya mengiba kepadanya hingga ia percaya bahwa saya akan berubah. Lagi-lagi, suami saya lemah terhadap saya, istrinya yang kata banyak orang, cantik.

Petualangan cinta saya untuk sementara berakhir karena dua buah hati lahir secara berurutan. Suami semakin mencintai saya tentunya. Banyak orang iri dengan keluarga kecil saya yang kala itu dipandang sangat bahagia. 

Menjadi ibu rumah tangga saja dengan hanya berkutat pada anak-anak membuat saya frustasi dan bosan. Apalagi di tahun 70an tentu saja belum ada facebook, twitter, dan situs jejaring sosial lainnya. Tak ada sesuatu yang bisa saya gunakan untuk refreshing. Saya tertekan dan stres. Puncaknya, saya melakukan perselingkuhan lagi dengan seseorang yang kini menemani hari-hari tua saya.

Bersama laki-laki itu saya merajut cinta dan melupakan status saya sebagai istri dan ibu dua orang anak. Entah, kenapa saya bisa seperti itu, yang jelas saat itu saya merasa kehidupan saya sangat monoton dan membosankan. Saya menurut saja ketika laki-laki itu menyuruh saya untuk minggat, meninggalkan suami dan anak, meninggalkan keluarga yang mapan dan damai. Ya, saya minggat, di kala usia anak saya masih balita dan di saat kehidupan rumah tangga saya begitu mapan. Saya pergi dengan laki-laki asing yang menurut saya lebih bisa memberikan kebahagiaan batin.

Setengah abad lebih peristiwa itu berlalu. Sebuah peristiwa yang menyisakan luka di hati kedua anak saya. Meskipun kini saya sudah cukup bahagia dengan laki- laki yang dulu pergi bersama saya (kami menikah secara resmi setelah saya bercerai), namun rasa bersalah itu akan selalu ada. Kenapa saya begitu bodoh memperturutkan hawa nafsu. Padahal, kecantikan tidaklah selamanya. Janganlah bangga dengan kecantikan yang kita miliki bila semua itu hanya bisa membuat luka di hati banyak orang. Itulah yang selalu saya nasihatkan pada anak-anak, siapapun mereka, yang sekarang sedang tumbuh kembang dari remaja ke dewasa.

Entah, apa ini hanya pengamatan saya saja, tapi, saya merasa wanita-wanita yang di masa lalunya merasa cantik dan menggunakan kecantikannya tersebut dengan sembarangan, hidupnya menderita di masa tua. Bila pun bahagia secara finansial, namun hatinya menderita. Pun sebaliknya. Wanita-wanita yang di masa lalu merasa dirinya tidak cantik karena memang tidak cantik secara fisik atau hanya perasaannya saja yang seperti itu, entah mengapa masa tuanya lebih bahagia. Mungkin jawabannya satu, karena mereka tidak menyakiti perasaan orang lain. Wanita yang merasa dirinya cantik dan menggunakannya untuk hal-hal tidak baik secara tidak sadar sudah menyakiti wanita lain yang mungkin diciptakan tidak secantik dirinya. Ah, andai saja waktu bisa berputar.

 

Seperti yang diceritakan Ibu Wati di Malang kepada Miyosi Ariefiansyah. Kisah yang diambil dari buku Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya karya Miyosi dan Aprilina.

 

Penulis:

Miyosi Ariefiansyah atau @miyosimiyo adalah istri, ibu, penulis, & pembelajar. Rumah mayanya di www.rumahmiyosi.com 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *