Kerjasama memaksimalkan Tanggungjawab 1

By | April 27, 2017

 

“
Buu….tugas mendidik anak tugas siapa buuu….” 
Seorang Trainer bertanya di tengah-tengah mengisi seminarnya, serempak
ibu-ibu menjawab “ Ibuuuuu”   trainer
tersenyum mendengar jawaban ini “ Terus tugas bapak-bapak ngapain dong bu”    “Cari duiiitttt…..”  “ Wahh… kompak bener nih ibu”   seorang ibu nyeletuk “ Ya iyalah… cari duit
sebanyak-banyak nya buat ngegedein anaknya” 
wuihh semangat bener deh si ibu.  Jawaban
para peserta itu mengindikasikan kepada kita bahwa tanpa sadar, di masyarakat
sendiri sudah ada pemisahan dan pengotak-ngotakan tentang tugas dan
tanggungjawab suami istri.   Ibu tugasnya
ngurus Rumah dan anak-anak sementara Ayah bertugas mencari uang
sebanyak-banyaknya, tidak terlibat dalam permasalahan anak pun tak
mengapa.  Ada memang tugas yang bersifat
kodrati tentu tidak bisa digantikan satu sama lain seperti misalnya melahirkan,
menyusui, namun tugas domestic itu adalah tugas yang bisa dimusyawarahkan dan
disepakati bersama.  Karena  tugas dan tanggungjawab itu bukan terletak
pada siapa mengerjakan apa , namun lebih kepada bagaimana mewujudkan tugas dan
tanggungjawab itu sehingga bisa dipikul bersama.  Bukankah Imam Syahid Hassann al-banna dengan
tegas mengatakan bahwa pernikahan itu adalah “ ‘hayatul amal’. Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban.
Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika,
melainkan tolong- menolong dalam memikul beban kehidupan dan beban dakwah dan
kehidupan…”

Ketika
dua insan berpadu dalam mahligai rumah tangga, maka sesungguhnya mereka sudah
bersepakat untuk memikul tanggungjawab bersama, dan tanggungjawab keduanya ini
perlu diatur agar lebih terarah dan tugas-tugas pun tertata lebih baik sehingga
tujuan-tujuan mulia menjadi lebih bisa diwujudkan.  Lemah dalam memahami tanggungjawab bukan
tidak mungkin akan memicu keributan pasutri dan bahkan berujung dalam
perpisahan.  Padahal apabila mereka
memahami tanggungjawab dan saling mengatur tanggungjawab ini, serta bekerjasama
dalam tanggungjawab ini tentu hal yang tidak diinginkan tidak akan terjadi.

Untuk itu suami
istri perlu bekerjasama dalam memaksimalkan tanggungjawab, saling memikul tanggungjawab
dalam  :

1.    
Memaksimalkan tanggungjawab
dalam urusan nafkah

2.    
Kerjasama memikul
tanggungjawab mengatur urusan rumah tangga

3.    
Musyawarah dalam
permasalahan-permasalahan keluarga

 

1.      
Memaksimalkan tanggungjawab
dalam urusan nafkah

a.    
Kemakrufan istri
menggunakan harta suami

Diriwayatkan
dari Aisyah ra bahwa Hindun bin Uthbah berkata “Ya Rasulullah, sesungguhnya
Abu Sufyan seorang yang kikir.  Dia tidak
memberikan nafkah yang cukup untuku dan anaku, selain apa yang aku ambil di
saat ia tidak mengetahuinya”  Nabi
bersabda “ Ambillah apa yang engkau dan anakmu butuhkan secara makruf”
 (HR.Bukhari dan Muslim).

b.    
Kemakrufan dalam
bersedekah

Rasulullah
SAW bersabda “ Apabila seorang menafkahkan dari makanan rumahnya bukan untuk
kerusakan, maka baginya pahala dari apa yang ia nafkahkan.  Dan bagi suaminya pahala yang ia usahakan
”  (HR.Muslim)

c.    
Memberi Hadiah

Diriwayatkan
dari Anas bin Malik “ Rasulullah SAW menikah lalu beliau menemui
keluarganya.  Ibuku (Ummu Sulaim) membuat
makanan yang terbuat dari tepung, minyak samin dan gandum.  Kemudian ia taruh di atas bejana berukuran
kecil, lalu berkata kepadaku “Hai Anas antarkan ini kepada Rasulullah SAW, katakan
padanya bahwa aku memberikan hadiah untuknya dan menitip salam”  dalam pesannya Ummu Sulaim berpesan “ ini
hadiah dari kami untuk Engkau, hanya sedikit ya Rasulullah
” (HR.Muslim)

d.    
Bantuan istri kepada
suaminya yang miskin

Kondisi
saat ini banyak terjadi para kepala keluarga yaitu suami terkena PHK, bahkan
untuk usaha pun tak bisa, dalam kondisi seperti ini biasanya para istri
mengambil alih peran suami atau lebih tepatnya bukan mengambil alih tapi
membantu suami meringankan tanggungjawabnya. 
Beruntunglah apabila istrinya ternyata kaya raya sehingga istri merasa
perlu untuk membantu suami yang tengah terpuruk dalam masalah pemberian
nafkah.  Entah itu kekayaan yang
bersumber dari profesi yang dia geluti atau dari warisan yang didapatkan, yang
jelas dia sudah dapat memberikan kelapangan kepada keluarga dan kecukupan
hidup.  Istri semacam ini akan menjadi
lebih dermawan lagi saat suami tidak memiliki pekerjaan.  Dengan demikian istri memperoleh dua
keutamaan, menjalin silaturahmi dan berinfak di jalan Allah.

Seperti
kisah Zainab yang diriwayatkan oleh Said Al-Khudri , bahwa Zainab istri Ibnu
Mas’ud datang kepada Rasulullah SAW sambil berkata “ Ya Rasulullah hari ini
engkau menyuruh kami untuk sedekah.  Kebetulan
aku punya perhiasan, aku ingin sedekahkan perhiasan ini.  Tapi ibnu Mas’ud mengklaim bahwa dia dan
anak-anak lebih berhak mendapatkan sedekah itu” 
maka nabi salallahu alaihi wassalam bersabda “ Benar apa yang dikatakan
ibnu mas’ud suami dan anak-anakmu lebih berhak mendapatkan sedekahmu itu
”
(HR.Bukhari).      Jadi, ketika istri
mencukupi kebutuhan keluarga, apa yang dihasilkannya adalah sedekah untuk suami
dan anak-anaknya.

DR.
Yusuf Qordhowi pernah ditanya tentang hak seorang suami dari gaji istrinya dan
beliau menjawab “ Sebetulnya suaminya lah yang bertanggungjawab menafkahi
keluarganya walaupun istrinya seorang yang kaya raya  dan berstatus jutawan.  Seuaminya tetap bertanggungjawab memberikan
nafkah, Allah berfirman “ Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum
wanita, oleh karena  Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dank
karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka
“  (QS.An-Nisa : 34).

Dalam
ayat ini jelas bahwa suami memberi nafkah dan memberi mahar, kecuali pada
kondisi lemah, sebagian mazhab berpendapat apabila seorang suami lemah, sementara
istrinya kaya raya, maka istrinya harus menafkahi suaminya, kerena itu masuk
kategori hak yang timbal-balik “ Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang
dengan kewajibannya menurut cara yang makruf” (QS.2:228)

e.    
Bermusyawarah dengan suami
dalam hal menggunakan harta

Seorangn
istri hendaknya melakukan musyawarah dengan suaminya dalam hal membelanjakan
hartanya “ Tidak boleh seorang perempuan memberikan sesuatu kecuali atas
izin suaminya “  
(HR.Nasai).   Maimunah binti Harits Ra mengabarkan kepada
Ibnu Abbas bahwa dirinya telah memerdekan budak perempuannya tanpa seizin Rasulullah
SAW, kemudian saat Rasulullah menginap di rumahnya, dia berkata “Bagaimana
pendapatmu ya Rasulullah aku telah memerdekakan budak perempuanku?” beliau
menjawab “sudah engkau lakukan?” 
Maimunah menjawab “ Ya” lalu beliau bersabda “ Seandainya engkau berikan
iai kepada paman-pamanmu pastilah pahalanya lebih besar baginya”  (HR.Bukhari dan Muslim).     Mengambil keputusan sendiri tentu saja diperbolehkan
namun akan lebih baik bila dimusyawarahkan terlebih dahulu agar suami istri
tidak mempunyai ganjalan satu sama lain.  


___________________________________________________________________________________________________________________ 

 Syasha adalah ibu dari lima anak dua putra dan tiga putri,lahir di
Garut 49th yang lalu, konsen di bidang Perempuan, Anak dan Keluarga dengan
menjadi Trainer Motivator Ketahanan Keluarga (Motekar) Prof,Jawa Barat, menjadi
konsultan Keluarga di Rumah Keluarga Indonesia, Mitra Insani Consulting, dan
pendiri PGTK Mitra Insani, aktivis dari Penggiat Keluarga Indonesia (GiGa).
 Pernah menulis beberapa artikel termasuk di Majalah UMMI, sampai sekarang
masih penasaran untuk bisa menerbitkan buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *