Kenali Tanda-Tanda Jiwa yang Sakit

By | January 19, 2017

Sahabat Ummi, sakit fisik memang lebih mudah diidentifikasi dan disembuhkan dibandingkan dengan “sakit” jiwa. Kadang atau bahkan sering, penderitanya sendiri tidak menyadari bahwa dirinya, jiwanya, SAKIT. Bisa jadi karena memang tidak tahu, tapi bisa juga karena gengsi dan malu.

 

Lalu, apa saja tanda-tanda dari jiwa yang sakit? Menurut sebuah buku psikologi, Soul Detox, setidaknya ada LIMA ciri utama (bisa salah satu, beberapa, atau semuanya), yaitu:

 

    Insomnia

    Nafsu makan berkurang drastis

    Khawatir berlebihan, terutama ketika menghadapi masalah yang mirip-mirip atau serupa dengan hal yang membuat seseorang tersebut trauma

    Tidak bersemangat

    Malas bergaul atau antisosial

 

Jika kelima tanda-tanda tersebut poinnya adalah menutup diri/menarik diri ke dalam, maka ada juga yang berperilaku sebaliknya: bersikap agresif karena jiwanya marah, menjadi pelaku karena dulu yang bersangkutan pernah menjadi korban, dan menyakiti orang lain siapa pun itu karena dulu ia pernah disakiti.

 

Jadi, jika suatu saat kita bertemu dengan orang yang bicaranya kasar, suka “menyerang” tanpa sebab, dan marah tak beralasan, seharusnya dikasihani bukan sebaliknya. Hanya yang jiwanya terlukalah yang akan menyakiti. Kalau damai-damai aja mah ngapain nyari perkara. 

 

Seseorang boleh-boleh saja bilang “aku kuat” atau “ah, enggak ngefek” atau “cuma gitu aja” dan semacamnya, tapi perilaku tidak bisa bohong. Sedikit banyak, karakter, perilaku, dan respon seseorang dipengaruhi oleh kejadian-kejadian yang ia terima di masa lalu.

 

Kenapa seseorang mudah tersinggung? Bisa jadi, dulunya sering diremehkan.

 

Kenapa seseorang agresif dan ingin tampil, ingin sempurna semuanya? Bisa jadi, ia pernah mengalami peristiwa yang menyakitkan.

 

Kenapa seseorang tidak peduli, apatis, dan egois? Bisa jadi, dia dulu sering mengalami penolakan demi penolakan.

 

Kenapa seseorang bicara kasar? Bisa jadi, karena dia dulu sering dianggap lemah, jadi agar tidak lagi dipandang seperti itu ia berkata dan berbuat cenderung menyakiti orang lain. Agar tidak jadi korban lagi, ia harus jadi pelaku. Bisa jadi.

 

Kenapa seseorang enggan menikah? Bisa jadi karena ia tidak mau mengalami hal yang sama dengan orangtuanya.

 

Kenapa seseorang trauma memiliki anak di saat yang lain sedih belum juga memiliki momongan? Bisa jadi karena ia masih belum bisa menghilangkan traumanya sendiri dan takut jika itu sampai berulang ke anaknya nanti.

 

Pada dasarnya, semua manusia itu SAMA: terlahir SUCI tanpa noda sedikit pun. Peristiwa demi peristiwa yang kemudian membuat orang yang satu dengan yang lain menjadi tidak sama. 

 

Dan, tentu saja bukan untuk mencari pembenaran. Tapi, dengan mengetahui penyebab sakitnya, seseorang akan lebih mudah mencari obat untuk menyembuhkannya, jika ia mau. 🙂

 

 

***

 

Daftar Pustaka:

Murtie, Afin. 2014. Soul Detox. Yogyakarta: Scritto Books Publisher.

 

 

Penulis:

Miyosi Ariefiansyah (@miyosimiyo) adalah istri, ibu, penuli, & pembelajar. Blog pribadinya ada di www.rumahmiyosi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *