Keluarga, Langkah Pertama Hemat Air

0 7

 

Air adalah kebutuhan mendasar bagi mahluk hidup, termasuk bagi manusia. Penelitian membuktikan, manusia sanggup hidup sebulan tanpa makan, tapi tak akan sanggup hidup tiga hari tanpa air.

Kesadaran akan pentingnya air ini sewajarnya melahirkan kesadaran baru, yaitu pentingnya usaha untuk sama-sama menjaga ketersediaan sumber daya air bersih. Hampir dua pertiga permukaan bumi kita diselimuti oleh air namun ketersediaan air bersih pagi penduduknya kian hari kian memprihatinkan.

Tanggap dengan kondisi ini, Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) menggalang kampanye pelestarian sumber daya air bersih ini dengan menetapkan Hari Air Sedunia (World Day for Water) setiap 22 Maret. Tahun ini peringatan tersebut mengusung tema Air dan Ketahanan Pangan (Water and Food Security).

 

TANAH YANG SEMAKIN ANJLOK

Sebagai negara maritim yang mayoritas wilayahnya ditutupi laut, isu pelestarian sumber daya air tentu sangat relevan untuk terus dikampanyekan. Menurut data Badan Pusat Statistik, sampai akhir 2011, baru sekitar 53% masyarakat Indonesia yang bisa mengakses air bersih. Masih jauh dari target yang dipatok MDG's, kurang lebih 68%.

Namun yang lebih membuat miris adalah pemborosan pemakaian air bersih oleh masyarakat yang mudah mengaksesnya. Seperti yang diungkapkan oleh Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Drs Bambang Wispriyono, Apt, Ph.D, “Rumah tangga sering kali tidak efisien dalam memakai air bersih. keran tidak ditutup rapat, mandi menggunakan bath tub, dan lain-lain.”

Pemborosan dan pencemaran adalah dua masalah krusial yang harus dihadapi dalam penyediaan air bersih. Telah umum diketahui bahwa permukaan tanah kota Jakarta semakin anjlok dari tahun ke tahun karena eksploitasi air tanah yang tak terkendali. 

Menurut situs Wikipedia, ada tiga sektor utama pengguna sumber air bersih, yaitu pertanian, industri, dan rumah tangga. Perusahaan Air Minum DKI Jakarta (PAM JAYA) mencatat bahwa konsumsi air bersih warga Jakarta mencapai 1.000 liter per detik.

Bambangjuga mengungkapkan data lain, rata-rata konsumsi air bersih per orang itu antara 7,5 sampai 15 liter per hari. “Bila penduduk Jakarta sepuluh juta orang, bayangkan berapa banyak konsumsi air kita?”

Jika konsumsi ini tidak dikendalikan, maka permukaan tanah Jakarta akan terus anjlok.

 

“PINTU AIR” KELUARGA

Sebagai salah satu sektor yang paling banyak menggunakan air bersih, rumah tangga berperan penting dalam pengendalian konsumsi air bersih. Penghematan dan efektivitas  adalah kuncinya. Hal ini disadari betul oleh salah seorang warga Jakarta, Aris Budi Rahayu (29).

Ibu rumah tangga yang tinggal di bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan ini sangat memperhatikan penghematan air bersih di rumahnya. “Dulu sempat punya masalah air bersih di rumah. Beberapa kali sumur digali dan pompa diganti. Selama diperbaiki saya minta air sama tetangga, jatah air buat keluarga jadi terbatas. Sejak itu jadi sayang banget sama air,” tuturnya.

Beberapa langkah penghematan yang Aris lakukan antara lain, selalu menutup keran sampai rapat, mandi menggunakan shower dan memakai sabun cuci sekali bilas. “Minum air putih juga jangan sampai sisa. Sayang, kan, airnya,” tambah Aris. 

Kekompakan tentu diperlukan agar usaha penghematan air dapat berjalan efektif oleh seluruh anggota keluarga. Tantangan ini pula yang dihadapi Aris di saat-saat awal usahanya untuk menghemat air. “Awalnya susah juga, apalagi soal menutup keran. Nggak semuanya juga punya niat yang sama untuk hemat air,” keluh Aris yang berprofesi sebagai perawat ini.

 

BERSAMA ANTISIPASI KRISIS AIR

Efisiensi penggunaan air bersih harus dimulai sekarang juga. “Bila langkah penghematan tidak segera kita lakukan, kita bisa mengalami krisis air dalam waktu dekat. Krisis air akan berakibat pada terjangkitnya berbagai penyakit. Kita tidak bisa mandi, mencuci pakaian dan makanan. Bibit penyakit akan mudah tumbuh,” urai Bambang.

Kapan bencana itu terjadi? “Bila pola konsumsi air bersih kita masih seperti sekarang, krisis air itu bisa datang kira-kira 10 tahun ke depan, bahkan bisa lebih cepat dari itu,” tegas Bambang.

Tentunya kita tidak ingin meninggalkan generasi penerus kita dalam kesengsaraan karena kekurangan air, bukan? Saatnya menghemat air dari rumah kita, sekarang.

 

 

loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.