Kecanduan Masturbasi, Bagaimana Menyembuhkannya?

By | February 20, 2015

Ummi, saya ikhwan berusia 25 tahun. Saya telah berdosa dan berniat untuk bertaubat. Saya memiliki kebiasaan buruk yang sulit saya hentikan, yaitu masturbasi. Kebiasaan ini  sudah berlangsung sejak lama, seingat saya sejak duduk di bangku kelas 3 SD. Awalnya karena saya melihat dan membaca media-media yang cukup erotis. Saya terpengaruh dan jadi kecanduan masturbasi. Sekarang saya berusaha menjauhkan diri dari media berisi pornografi. Tapi tetap saja kebiasaan itu sulit dihilangkan. Bahkan saya baru bisa tenang setelah 4 kali melakukan masturbasi secara berturut-turut.

Karena kecanduan gerak pikir dan respon saya jadi lambat dan tidak mampu berpikir jernih. Juga jadi linglung dan pelupa.Fisikpun jadi lemah, tidak tahan angin, udara dingin dan cepat lelah.

Ummi, saat ini kepercayaan diri saya begitu menurun. Sayapun takut menikah karena khawatir tidak bisa melaksanakan fungsi saya sebagai suami. Ummi, saya ingin bertanya soal:

  1. Saya sangat ingin sembuh. Apa yang harus saya lakukan?
  2. Apakah stamina fisik saya yang melemah dapat dibangun kembali?
  3. Di tempat kerja saya, ada teman yang gemar membaca koran berisi pornografi. Bagaimana menghindarinya?
  4. Apakah setelah menikah saya perlu menceritakan hal ini pada istri saya kelak?

Hamba Allah, Cirebon

 

Jawaban Syariah

Hamba Allah di Cirebon,

Masalah Nanda saat ini terjadi akibat kesalahan yang sudah dilakukan sejak Nanda masih kecil. Mohon maaf, sebelumnya Ummi perlu menyampaikan nasihat kepada Nanda dan semua pembaca agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi bagi generasi kita selanjutnya.

Islam telah mengantisipasi hal tersebut dengan memerintahkan kepada kedua orangtua untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Sejak kecil, anak harus diperkenalkan jenis kelaminnya, laki-laki atau perempuan. Diperkenalkan pula siapa saja orang-orang yang sama dan yang berlawanan jenis dengannya.
  2. Ajarkan etika bergaul dengan teman sejenis atau berlawanan jenis. Termasuk juga kebiasaan untuk menutup aurat dan batasan-batasan aurat.
  3. Jelaskan siapa saja yang mahram baginya, etika dan cara bergaul dengan mereka.
  4. Ketika berusia 10 tahun:
    1. Harus dipisahkan tempat tidurnya dari saudara-saudaranya yang berbeda jenis kelaminnya.
    2. Ketika hendak masuk ke kamar orangtua atau saudara-saudaranya yang sudah dewasa, harus meminta izin terlebih dahulu. Terutama pada waktu sebelum Subuh, setelah Zhuhur dan setelah shalat Isya, agar tidak melihat hal-hal yang tidak layak bagi anak-anak
  5. Menjelang masa remaja:
    1. Diarahkan untuk menundukkan pandangan terhadap lawan jenisnya
    2. Beri pandangan dan pengertian soal seks, termasuk larangan untuk melakukan masturbasi.

 

Yang perlu Nanda lakukan saat ini adalah:

  1. Tingkatkan keimanan dan ketakwaan untuk mengokohkan niat dan azam untuk meninggalkan masturbasi.
  2. Tingkatkan rasa takut dan muroqobatullah (pengawasan Allah) agar dalam kondisi apapun punya kemampuan untuk meninggalkan perbuatan ini.
  3. Banyak shaum, sebab shaum itu bisa mengendalikan nafsu (syahwat).
  4. Perbanyak ibadah dan doa agar Allah selalu memberikan kemudahan dan perlindungan-Nya.
  5. Perbanyak kesibukan yang bermanfaat, jangan ada waktu luang yang digunakan untuk mengkhayal atau menikmati gambar-gambar dan film yang berbau pornografi.
  6. Banyak bergaul dengan orang shaleh di lingkungan rumah maupun tempat kerja.
  7. Segera konsultasi dan melakukan pemeriksaan ke dokter untuk cek kesehatan.
  8. Usahakan secepatnya Nanda menikah, sehingga kebutuhan seksual Nanda tersalurkan dengan cara yang halal.

 

 Ummi doakan, semoga Nanda istiqomah, berkah dan dimudahkan Allah SWT. Amiin.

 

 

Jawaban Psikolog

 

Nanda di Cirebon yang selalu dalam naungan kasih sayang Allah.

Ummi membaca bahwa Nanda benar-benar ingin menghentikan kebiasaan masturbasi ini dan memperbaiki diri. Motivasi ini perlu disyukuri, karena dengan motivasi kuat, tak ada yang tidak mungkin dicapai.

Hal penting yang ingin Ummi garis bawahi adalah, jangan selalu menyalahkan lingkungan untuk setiap perbuatan  salah yang terlanjur menjadi habit (kebiasaan). Lingkungan, dalam porsi kecil maupun besar, memiliki andil yang tak dapat dipungkiri, namun kita semua tahu bahwa manusia dianugerahi kecerdasan akal, kekuatan mental dan kejernihan ruhani untuk secara bijak memilih, apa yang akan diambil dan apa yang akan ditinggalkan. Itulah sebabnya, kita bisa menjelaskan, misalnya, mengapa ada orang  yang tetap berprestasi, rajin dan jujur, padahal ia hidup dan tinggal di lingkungan penuh transaksi narkoba dan kriminalitas setiap hari. Itu mengarah pada satu jawaban, karena ia memiliki motivasi kuat, yang membuatnya mampu bersikap tegar, tahan banting dan tidak mudah menyerah pada keadaan yang dihadapi.

Berkaitan dengan permasalahan yang Nanda hadapi, maka Ummi mengajak Nanda untuk mempraktekkan teori self efficacy (efektivitas diri) yang dimotori oleh ahli psikologi Albert Bandura.

Self Efficacy adalah keyakinan seseorang mengenai kapasitas dirinya untuk memecahkan permasalahan dan mencapai tujuan yang ingin diraih. Seorang perokok  yang memiliki efficacy tinggi, dan berniat berhenti, ditandai dengan keyakinan yang besar pada dirinya bahwa ia mampu menghentikan kebiasaan merokok yang selama ini dijalani. Bila self efficacy-nya rendah, ia akan merasa tidak akan pernah sanggup berhenti merokok. Kalaupun bisa menahan, tapi bila ia berada di lingkungan perokok, kebiasaan ini akan berulang.

Untuk memiliki efficacy yang tinggi dibutuhkan beberapa langkah konkrit. Ummi  langsung ilustrasikan untuk kasus yang Nanda alami:

 

  • Kaitkan perasaan efficacy ini dengan tujuan yang hendak dicapai. Bila Nanda ingin berhenti melakukan masturbasi, jadikan tujuan (goal) untuk berhenti ini sebagai hal yang utama dalam kehidupan Nanda. Setiap bangun pagi atau menjelang tidur malam, ulangi kembali niat Nanda dengan mengingat-ingat secara kuat, menuliskannya di buku harian, di kamar Nanda ataupun tempat lain yang mudah Nanda lihat. Misalnya dalam kalimat: saya yakin saya bisa; saya harus menjadi lebih baik.
  • Mulailah dengan target yang realistis dan dapat Nanda capai. Bila Nanda biasa melakukan masturbasi 4 kali, maka kurangi secara bertahap menjadi 3 kali, 2 kali, sampai akhirnya benar-benar berhenti. Tidak mudah mengubah tingkah laku yang sudah menjadi kebiasaan, karena itu buat target yang realistis dulu, baru secara perlahan Nanda tingkatkan targetnya hingga berhenti sama sekali. Kegagalan orang mencapai target, biasanya disebabkan oleh target penetapan target yang  terlalu tinggi sehingga tidak mudah dicapai dan membuat frustrasi serta perasaan tak berguna.
  • Berkaitan dengan hal di atas, Nanda harus meluruskan persepsi dan keyakinan secara tepat. Yakinilah kebiasaan melakukan masturbasi 4 kali berturut-turut, baru kemudian Nanda bisa lega, dapat diubah.
  • Kenali hal-hal yang mendorong Nanda untuk melakukan masturbasi, seperti melihat gambar/film porno, wanita berdandan seksi, atau berkhayal. Bila Nanda sudah dapat mengenali, hindari semua hal ini sebisa mungkin.
  • Alihkan dengan kegiatan lain. Pikiran kita diatur oleh bagaimana otak bekerja. Karenanya, bila Nanda benar-benar serius berusaha, otak Nanda bagaikan software computer, ia akan memprogram Nanda untuk tidak lagi memberikan perhatian pada kegiatan masturbasi. Sebaliknya, tertarik pada kegiatan lain yang lebih menantang, seperti berolah raga, berorganisasi, aktif pada kegiatan sosial di kantor, mengunjungi anak-anak kurang mampu yang terkena bencana, dan sebagainya.
  • Masturbasi memiliki kaitan langsung dengan perasaan bersalah (guilty feeling). Karenanya bila kemudian Nanda merasa resah, cemas, mudah lupa, fisik menurun dan sebagainya, hal ini disebabkan karena perasaan bersalah ini menekan Nanda dan mengakibatkan gangguan yang bersifat fisik. Bila dibiarkan, ia akan berkembang semakin serius dan mengganggu konsep diri Nanda. Bahkan akan membuat Nanda memiliki self perception of competence (persepsi akan kompentensi diri sendiri) yang rendah.
  • Bila dorongan seksual ini sedemikian kuat, pernikahan adalah jalan terbaik untuk menyelesaikannya. Usia Nanda pun sudah memadai. Perlukah diceritakan pada calon istri? Sepanjang Nanda sudah berusaha berhenti, dan memiliki target yang jelas, hal-hal seperti ini cukuplah menjadi rahasia antara Nanda dan Sang Pencipta. Namun tentu saja Nanda harus yakin dulu, bahwa masalah masturbasi ini sudah selesai sebelum  memutuskan untuk menikah. Karena bila tidak, sesuatu yang ditutupi suatu ketika tetap  akan timbul  ketika kondisi dan situasinya memicu pemunculan masalah ini.

 

Semoga Allah memudahkan jalan kebaikan bagi Nanda. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Wallahu a’lam.

Foto: google

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *