Jika Anak Mulai Memilih Acara

By | January 7, 2013

Ihsan, keponakan saya yang berusia hampir lima tahun, memiliki kebiasaan baru jika melihat ayah atau ibunya mengganti-ganti saluran TV. Ia akan ikut memerhatikan dan kemudian meminta ayah atau ibunya berhenti di saluran TV yang menampilkan acara yang menarik minatnya. Acara apa itu? Umumnya balapan, film anak atau sepakbola. Jika keinginannya tak dipenuhi, Ihsan pun akan merengek-rengek.

Sedari kecil, keponakan saya itu tak diizinkan memegang remote control. Remote berada di tangan orang dewasa dan pilihan acara tergantung orang dewasa yang ada di rumah. Ini adalah bagian dari pengaturan menonton TV di rumah yang tujuannya untuk menyeleksi acara dan membatasi waktu menonton.

Ihsan dan adiknya (Hady, hampir 3 tahun) tak pernah meminta remote. Dua anak itu patuh pada aturan tersebut.

Tetapi, sekarang, Ihsan sudah mulai punya keinginan sendiri. Adik saya, ibunya Ihsan, mengeluh kepada saya tentang kebiasaan Ihsan yang baru itu. “Dulu Ihsan tak merengek-rengek begini memilih acara TV sendiri.”

Saya katakan, Ihsan  sudah “gede”. Apa yang terjadi padanya mengingatkan saya pada apa yang ada di buku-buku tentang interaksi anak dan televisi.

Seorang pakar bernama Wartella (1980) mengatakan bahwa anak-anak dari umur yang berbeda akan memiliki keterampilan pemprosesan-informasi terhadap situasi menonton TV. Selama masa kanak-kanak, anak-anak akan tumbuh dan terjadi perubahan baik dalam kemampuan kognitif maupun dalam hal pemahaman mereka terhadap dunia sosial mereka. Kemampuan  yang berkembang ini kemudian tecermin dalam cara anak-anak dari usia yang berbeda memahami pesan TV.

Pada Ihsan, ketertarikannya (atau  yang dikenal dengan istilah “afinitas”) terhadap acara TV tertentu mulai tumbuh. Ini sesuai dengan minatnya yang juga mulai tumbuh, yakni balapan dan sepakbola. Tentang minatnya kepada film anak, mungkin karena selama ini ia diizinkan menonton film anak-anak tertentu di TV sehingga ketertarikannya pada acara tersebut lebih disebabkan oleh kebiasaaan.

Interaksi anak dan TV terus mengalami perkembangan. Nanti, pada saat anak berada di rentang usia 8—12 tahun, ia mulai menunjukkan kemandiriannya dengan memilih media sendiri, lepas dari pengaruh orangtuanya, dan lebih ditentukan oleh hobi atau minatnya. Menurut Acuff (1997), anak-anak pada usia tersebut menunjukkan ketertarikan yang besar pada acara aksi dan komedi di TV.

 

Membentuk Ketertarikan Anak

 

Para ahli berpendapat, ketertarikan anak terhadap TV sangat bisa diarahkan sedari kecil. Yang efektif untuk ini adalah tindakan yang disebut “mediasi orangtua”. Sesuai namanya, pada mediasi, orangtua menjadi perantara antara TV dan anak. Beberapa tindakan mediasi contohnya: orangtua mendampingi anak menonton TV, orangtua memposthu anak jika ada hal-hal buruk (atau sebaliknya hal-hal yang baik) yang tampak di layar, atau orangtua mengatur pola menonton TV anak.

Dari berbagai bentuk mediasi, yang paling potensial memengaruhi ketertarikan anak terhadap TV adalah bentuk mediasi yang mengatur pola menonton TV anak. Bentuk ini dikenal dengan istilah “mediasi restriktif”.

Restriktif artinya “pembatasan”. Pada bentuk mediasi ini orangtua membatasi akses anak terhadap TV. Di sini orangtua mengatur pola interaksi anak dengan TV dengan melakukan pembatasan-pembatasan seperti menyeleksi acara yang boleh ditonton anak (hanya yang sehat dan tepat dengan usia anak yang boleh ditonton), berapa lama boleh menonton (sehari maksimal 2 jam) atau kapan boleh menonton (misalnya menonton jika pekerjaan sekolah sudah dikerjakan).

Keluarga adik saya selama ini melakukan mediasi. Mereka mengombinasikan berbagai bentuk mediasi. Mereka melakukan mediasi restriktif, yakni membatasi jam menonton TV dan menyeleksi acara. Tetapi mereka juga melakukan mediasi aktif. Agar Ihsan dan Hady tidak menjadi “steril”, mereka misalnya pernah mengajak keduanya menonton Tom & Jerry. Sepanjang film, kedua anak itu diposthu tentang apa yang buruk tampak di layar. Seperti kebanyakan anak lainnya, Ihsan dan Hady tertawa melihat ulah si kucing dan tikus, tetapi mereka paham, tak baik menonton tayangan itu. 

Pada tayangan-tayangan yang “aman” (seperti Jalan Sesama), keluarga adik saya melakukan pendampingan biasa. Mereka menonton bersama, tanpa komentar ini-itu dari orang-orang dewasa yang ada di rumah.

Buahnya sudah tampak pada sikap Ihsan dan si kecil Hady terhadap TV. Mereka berdua misalnya tidak pernah mau menonton film Popeye dan Tom & Jerry, karena, kata Ihsan, “Itu film jelek. Banyak berantemnya. Tidak bagus ditonton!” Dan Hady akan menambahkan dengan serius, “Iya….. Jelek!”

Jadi, walau sekarang minat Ihsan terhadap acara TV tertentu tumbuh dan ia mulai ingin “mendikte” orangtuanya dalam hal pemilihan acara TV, toh Ihsan tetap tidak menunjukkan ketertarikan pada acara-acara TV yang menurutnya “jelek”. Perlahan-lahan, mulai tumbuh kemampuan seleksi pada diri keponakan saya tercinta itu!

Apa yang terjadi pada Ihsan mengingatkan saya pada studi St. Peters dan kawan-kawan (1991) yang menyebutkan bahwa mediasi orangtua mempengaruhi ketertarikan anak atau sebaliknya (ketidaktarikan) terhadap TV. Dalam studi tersebut ditunjukkan, orangtua dapat meningkatkan ketertarikan anak untuk menonton acara tentang alam dan acara anak, dan sikap sebaliknya terhadap opera sabun dan acara horor.

Karena acara TV banyak yang tidak aman bagi anak dan tidak pantas ditonton anak, sangat dianjurkan agar orangtua melakukan mediasi (khususnya mediasi restriktif). Jika kebiasaan ini sudah dilakukan sejak dini, akan terbentuk pola yang baik pada diri anak dalam hal mengakses TV. Nanti, dari kebiasaan baik ini, pada diri anak akan tumbuh “mekanisme pembatasan” sendiri. Dengan demikian orangtua dapat menangkal efek negatif TV kepada anaknya.

Saya meminta adik saya untuk konsisten menjalankan mediasi, karena ini sangat baik dilakukan orangtua hingga anak-anak beranjak besar. Saya bangga kepada keluarga adik saya. Dan terlebih-lebih, saya bangga pada keponakan saya, si buyung yang pintar, Ihsan! (Nina. M Armando)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *