Inilah 3 Risiko Investasi yang Wajib Diwaspadai

By | May 17, 2016

Sahabat Ummi, sebelum kita berinvestasi, alangkah baiknya jika mengetahui beberapa risiko yang mungkin akan kita terima. Bukan untuk menakut-nakuti diri sendiri tentunya, tapi sesuai dengan salah satu quote dalam investasi yakni high risk high return yang itu artinya hampir tidak ada satu pun jenis investasi di dunia ini yang bebas dari risiko. Kita mungkin bisa meminimalisir risiko, tapi tetap tidak bisa meniadakannya.

Dan, berikut ini adalah beberapa risiko yang mungkin akan dihadapi oleh investor berkaitan dengan kegiatan investasi yang mereka lakukan, yaitu:

1. Turunnya nilai investasi

Sebagai investor salah satu hal yang paling ditakuti adalah ketika harga investasi kita mengalami penurunan. Misalnya, modal yang kita keluarkan untuk mendapatkan investasi tersebut sebesar satu juta. Namun kemudian karena satu dan lain hal, nilai investasi tersebut turun menjadi 800 ribu. Maka investor akan rugi sebesar 200 ribu.

 

Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Investasi Properti

 

Lalu mengapa nilai investasi bisa turun? Terdapat beberapa faktor yang bisa menurunkan nilai investasi, di antaranya adalah:

a. Faktor internal

Faktor internal ialah faktor yang melekat dan berasal pada investasi tersebut. Karena investasi kita mengalami perubahan, maka berimbas pada turunnya nilai investasi, misalnya perhiasan emas yang kita simpan mengalami oksidasi sehingga berakibat warnanya pudar dan kadar emasnya berkurang banyak. Bila suatu ketika kita menjual emas tersebut, tentu kadar emasnya sudah tidak sama dengan kadar emas saat kita membelinya.

b. Faktor eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar yang menyebabkan penurunan nilai investasi kita. Beberapa hal yang termasuk faktor esternal yaitu:

1. Musibah

Musibah adalah suatu kondisi yang datang secara tiba-tiba dan tidak bisa kita prediksi. Musibah bisa berupa: banjir, gunung meletus, angin topan, semburan lumpur, dan hal-hal yang sejenis. Musibah tersebut bisa mengurangi nilai investasi. Misalnya, lumpur lapindo yang membuat investasi properti di daerah sekitar Sidoarjo nilainya berkurang drastis. Otomatis investor yang memiliki investasi dalam bentuk rumah di daerah lumpur tersebut akan mengalami kerugian karena harga pasar lebih kecil daripada harga beli.

Contoh lain misalnya bencana Jepang yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Sedikit banyak, perusahaan-perusahaan yang ada di Jepang juga turut terpengaruh dengan adanya musibah tersebut. Operasional perusahaan yang menjadi tidak lancar membuat nilai perusahaan sementara turun, akibatnya saham yang diperdagangkan di bursa efek juga ikut turun. Bagi investor yang membeli saham perusahaan-perusahaan Jepang tersebut mungkin akan menderita kerugian dengan turunnya harga saham di bursa efek.

2. Kebijakan pemerintah

Kebijakan pemerintah mempengaruhi investor. Bila kebijakan pemerintah tersebut positif, tentu investor akan merasakan dampak yang positif pula. Namun, bagaimana bila sebaliknya.

Contoh dari kebijakan pemerintah tersebut misalnya dengan dipersulitnya film barat untuk masuk ke Indonesia. Imbasnya, pengusaha-pengusaha bioskop yang selama ini mendapatkan pendapatan sebagian besar dari penayangan film barat, harus siap-siap berpindah haluan dengan banyak menayangkan film-film local bila tidak mau rugi terlalu banyak.

3. Sudah bukan tren lagi

Ingatkah dengan salah satu teori ekonomi yang menyatakan bahwa harga dari barang atau jasa bisa turun karena sudah dianggap tidak trend lagi. Sama juga dengan investasi. Bisa jadi penurunan investasi tersebut disebabkan karena obyek investasi bukan lagi obyek yang banyak diburu.

Contohnya, sejak investasi emas menjadi salah satu investasi favorit, banyak investor baru yang mulai berbondong-bondong berinvestasi dalam bentuk emas. Akibatnya, investasi dalam instrument pasar uang menjadi kurang diminati. Dan karena kurang diminati itulah harganya menjadi turun.

Contoh lain adalah investasi dalam sektor riil. Bila dulu, investasi dalam bentuk franchise bimbingan belajar adalah investasi yang sangat menggiurkan dan menguntungkan, namun seiring dengan perkembangan jaman di mana para siswa lebih suka dengan sistem privat daripada bimbingan belajar, mengakibatkan nilai investasi dari bimbingan belajar menurun. Kita mungkin pernah mengetahui kasus di mana sebuah bimbingan belajar ditutup karena tidak adanya murid yang les di tempat tersebut.

4. Kondisi politik

Meski tidak berpengaruh secara langsung, namun kondisi politik suatu negara bisa mempengaruhi nilai investasi. Misalnya saja saat kondisi politik di suatu negara sedang tidak stabil yang menyebabkan investasi pada sektor riil kurang diminati karena tidak adanya konsumen yang pasti. Sedangkan investor yang sudah terlanjur berinvestasi di sektor riil harus mengalami penurunan nilai investasi akibat dari ketidakstabilan kondisi politik di suatu negara tersebut.

2. Kenaikan investasi tidak sebesar kenaikan inflasi

Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang secara terus menerus. Banyak sedikitnya inflasi mempengaruhi banyak sedikitnya keuntungan yang sebenarnya investor dapatkan dari hasil investasi tersebut.

Bisa jadi hasil investasi tahun ini lebih besar dibandingkan dengan hasil investasi tahun sebelumnya, namun bagaimana dengan inflasi, apakah tidak diperhitungkan? Dan ternyata setelah diperhitungkan dengan seksama, kenaikan hasil investasi tidak lebih besar daripada inflasi. Dengan kata lain, investor sebenarnya mengalami kerugian.

Kondisi inflasi di suatu negara bisa diperparah saat terjadi hyper inflasi atau inflasi dengan prosentase yang sangat besar, seperti yang terjadi pada tahun 1998. Apa dampaknya? Seberapa besar kenaikan dari keuntungan investasi, tidak akan berarti karena adanya hyper inflasi tersebut. Walaupun bila tanpa memperhitungkan inflasi investor dikatakan untung, namun setelah memperhitungkan inflasi investor malah berada pada kondisi sebaliknya.

3. Susah untuk dijual kembali

Investasi memiliki sifat yang berbeda-beda. Ada investasi yang sangat likuid atau mudah dicairkan. Biasanya investasi jenis ini bersifat jangka pendek, seperti: tabungan, deposito, dan instrument valas. Namun, ada pula investasi yang tidak mudah untuk dijual kembali sehingga investor sangat sulit untuk mendapatkan capital gain (selisih antara harga jual dengan harga beli).

Misalnya, investasi pada sektor properti, di mana seorang investor ingin menjual kembali rumahnya kepada pihak ketiga. Ternyata investor tersebut tidak bisa menemukan pembeli yang tepat hingga dalam jangka waktu yang lama. Akibatnya investor malah mengalami kerugian (dari segi waktu) karena untuk mendapatkan dana tunai ia harus berhutang kepada pihak lain, akibat tidak berhasil juga menjual rumahnya.

Referensi:

1. Ariefiansyah, Miyosi. 2011. Jago Investasi. Jakarta: Laskar Aksara.

Profil Penulis:

Miyosi Ariefiansyah adalah penulis buku yang berasal dari Kota Wisata Batu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *