Inilah 2 Hal Penting tentang Keuangan yang Harus Dipikirkan Calon Suami Sebelum Menikah

By | May 17, 2016

Sahabat Ummi, memang tidak perlu mapan dulu untuk memasuki jenjang pernikahan, tapi wajib bagi calon suami untuk memiliki sumber penghasilan. Jangan menikah hanya dilandasi oleh rasa cinta atau wajah ganteng tapi belum punya penghasilan sendiri. Apalagi kalau ada yang mengatakan, “Aku rela hidup denganmu meski harus makan hanya dengan nasi dan garam.”

Yakin mau begitu?

Kalau hanya satu-dua hari mungkin tidak menjadi masalah. Tapi kalau setiap hari makan dengan nasi dan garam, lalu sang istri mengandung, apa iya mau makan hanya dengan itu? Berpikirlah realistis! Untuk keperluan rumah tinggal saja sudah harus dipikirkan sebelum menikah, apalagi untuk kebutuhan sehari-hari.

 

Baca juga: Pasangan Enggan Bicarakan Uang, Pertanda apa?

 

Setidaknya, ada 2 hal penting berkaitan dengan masalah keuangan yang harus dipersiapkan oleh calon suami:

1. Penghasilan

Masalah ini seringkali membuat ciut nyali para lelaki untuk menikah di usia muda. Pernyataan orang- orang sekitar yang bernada “hujatan” seperti, “Anakmu nanti mau kamu kasih makan apa?”, “Emang istrimu mau hidup seadanya?”, “Kerja aja masih belum benar sudah mikirin nikah!” seolah semakin dijadikan pembenaran bagi beberapa laki-laki tak bertanggung jawab untuk tidak segera menikahi orang yang ia cintai. Tak bisa dipungkiri masalah penghasilan memang krusial, namun bukan berarti untuk ditakutkan kemudian dihindari. Ingatlah, bahwa laki-laki seharusnya berani dan bukan sebaliknya. Tunjukkan bahwa kamu adalah laki-laki sejati!

Sebenarnya kunci sebagai laki-laki yang berniat menikah muda “hanya” sederhana saja bila dilihat dari sisi penghasilan:

a. Targetkan kapan kita menikah muda, menabung, dan bekerjalah sedari sekarang

Bila saat ini kamu masih sekolah atau kuliah, tak ada salahnya menargetkan menikah muda. Toh, bila pun tidak kesampaian, setidaknya sebagai laki-laki, kamu sudah berlatih sejak dini akan tanggung jawab dan kerasnya kehidupan.

Bila memang memiliki niat untuk menikah muda, menabunglah, setidaknya 10% dari uang jajan atau bulanan. Bila uang tersebut tak jadi dipergunakan untuk menikah, setidaknya kamu masih tetap untung karena memiliki tabungan. Menikah dengan menggunakan biaya dari orang tua tidaklah terlalu menyenangkan. Selain juga membebani, sebagai laki-laki sejati seharusnya bisa mandiri.

Bekerja freelance atau berbisnis (tanpa harus meninggalkan tugas utama sebagai pelajar atau mahasiswa) juga bisa dilakukan. Setidaknya, kamu belajar menjadi tulang punggung sejak awal. Laki-laki tak boleh manja karena setelah menikah nanti dia akan menjadi pengayom keluarga. Nah, kapan lagi belajar bila tidak dari sekarang.

  1.  Belajarlah dengan benar

Apa hubungannya antara belajar dengan menikah? Belajarlah dengan baik dan benar, belajar apa saja yang positif dan berguna. Kelak, saat sudah lulus, kamu tak hanya mengantongi ijazah saja, namun juga segudang pengalaman hidup yang kelak akan sangat berguna bagi karier kamu ke depannya. 

c. Tetap berpenghasilan atau berpenghasilan tetap?

Bila saat menikah kamu belum memiliki penghasilan tetap atau memiliki penghasilan tetap dengan jumlah yang tidak terlalu material (besar), tak perlu berkecil hati. Ini bukan tujuan akhir, tetaplah berjalan, bekerja keras, berjuang, dan menapaki kehidupan dengan penuh semangat. Ini “risiko” sebagai imam di usia muda. Percayalah, kamu yang sudah terbiasa “kepala jadi kaki” dan “kaki jadi kepala” akan lebih nyaman kehidupannya daripada memilih untuk berleha-leha di masa muda.

2. Perencanaan ke Depan

Mau dibawa ke mana rumah tanggamu kelak? Jangan sampai setelah menikah, seorang kepala keluarga menjadi lebih cengeng dan manja, kemudian berakhir dengan tak tahu arah dan tujuan hidup akan di bawa ke mana.

Bila saat menikah, kita dan pasangan masih kuliah, itu tak masalah. Tentu, kita sudah siap dengan “risiko” menjadi mahasiswa plus plus (mahasiswa yang juga tulang punggung keluarga). Terima saja bila kita harus kelimpungan di awal, terima saja bila kita kekurangan waktu tidur “hanya” untuk belajar, atau masalah- masalah lain yang serupa. Pun, terima juga bila untuk sementara kita dan pasangan harus hidup apa adanya.

Namun, milikilah rencana masa depan, misalnya:

a. Setelah lulus kuliah dengan predikat terbaik akan melamar di perusahaan tertentu.

b. Bila memang berniat bisnis, total mengerahkan kekuatannya agar bisnis berhasil.

Referensi:

1. Prastari, Aprilina dan Miyosi Ariefiansyah. 2013. Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

Foto ilustrasi: google

Profil Penulis:

Miyosi Ariefiansyah adalah penulis yang lahir dan besar di Kota Wisata Batu dan kini merantau bersama keluarga kecilnya di Balikpapan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *