Home Schooling Kami

0 6

Oleh : Berna Virmuda, S.Si.

Saya tidak sedang ingin menceritakan konsep Home Schooling yang pernah dikupas oleh Ummi di beberapa edisi yang lalu, walaupun masih berkaitan. Saya ingin menceritakan tentang dua anak saya yang cerdas, paling tidak menurut kami, orangtuanya. Seperti semua orangtua yang lain, kami memang menilai mereka tidak secara objektif tetapi lebih dengan cinta dan harapan kepada mereka.

Anak-anak kami adalah anak-anak yang lucu dan lincah. Sang kakak laki-laki berumur empat tahun dan sang adik bocah perempuan berumur dua setengah tahun. Seperti anak-anak lainnya mereka aktif bermain dan bertengkar di antara mereka. Si kakak saat ini baru masuk ke TKIT di dekat rumah setelah sebelumnya selama sekitar satu tahun kami ikutkan ke playgroup di tempat yang sama.

Beberapa waktu sebelumnya, lembaga itu juga telah membuka taman batita yang kami lihat cukup baik penanganannya. Kami ingin sekali mendaftarkan dan mengikutkan si adik di taman tersebut untuk pendidikannya dan perkembangan psikologisnya. Mengingat di sekitar kami tidak ada anak kecil yang sebaya dengannya. Akan tetapi karena pertimbangan keuangan dan lainnya, kami membatalkannya.

Nah, si kecil ini akhirnya tinggal di rumah sepanjang waktu bersama umminya. Kami hanya mencoba mendidiknya di sela-sela waktu pekerjaan rumah kami. Namun ternyata, walaupun tidak sekolah si kecil bisa menguasai hampir segala hal yang biasa diajarkan kepada anak-anak playgroup lainnya. Padahal kami tidak secara intensif mengajarkannnya. Si kecil di usia dua setengah tahun ini misalnya, sudah bisa menghafal doa-doa pendek, rukun Islam, dan juga beberapa hadits pendek yang kami sendiri sebelumnya tidak hafal. Begitu pula, dia hampir hafal nama surat dalam Al Quran dari surat ke-1 sampai surat ke-20 yang kami tidak pernah mengajarkannya.

Bagaimana bisa? ternyata ini terjadi karena kakaknyalah yang mengajarkannya. Apakah ini Home Schooling? Bisa ya, bisa tidak. Bila dibandingkan dengan apa yang pernah dikupas majalah Ummi dahulu, jelas bukan. Tapi yang pasti si adik telah mendapatkan pengajaran dari kakaknya selama mereka berdua bermain sepanjang hari di rumah. Di luar waktu si kakak sekolah, mereka berdua memang hampir selalu bermain bersama. Dan selama itu pula tampaknya mereka telah melakukan 'home schooling'. Itu dilakukan sambil bermain di teras rumah, di tempat tidur, dan di banyak tempat di rumah kami. Sang kakak telah mengajarkan kepada adiknya apa yang didapatkannya dari guru-guru playgroupnya. Ternyata memang benar bahwa anak-anak lebih cepat belajar dari sesamanya.

Sering kami gemas dan terkagum-kagum sendiri dengan ulah cerdas mereka itu. Misalnya, saat ini mereka telah mampu menghitung angka 1 sampai 5 dalam empat bahasa. Ya, empat bahasa! Yaitu; Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Bahasa Spanyol. Bahasa Spanyol ini mereka dapatkan dari film kartun televisi Dora The Adventurer. Inilah satu-satunya film yang kami bebaskan mereka menontonnya. Itupun setelah kami buat perjanjian dengan mereka untuk mematikan suaranya saat iklan.

Sungguh, kami akui amat beruntung dan bahagia memiliki mereka berdua. Ini, Insya Allah, membuat kami selalu memanjatkan syukur kehadirat Illahi. Dia yang telah memberikan karunia kebahagiaan pada kami melalui mereka, penyejuk hati kami. Kehadiran mereka pun semakin memotivasi kami untuk tidak saja membuat mereka sebagai penyejuk hati bagi kami tetapi juga menjadikan mereka termasuk hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa, semoga. Robbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrota a'yun waj'alna lil muttaqiina imama.

loading...

Leave A Reply

Your email address will not be published.