Gerakan Subuh Berjamah Melatih Anak Bangun Pagi

By | January 9, 2018

Gerakan  Subuh Berjamaah atau GSB sedang ramai digalakkan.  Inilah berkah Aksi 212 buat keluarga. Menggerakan semangat shalat berjamaah khususnya buat bapak-bapak dan anak lelakinya di Masjid atau mushala. Ya, pasca 212 di Silang Monas yang dihadiri jutaan umat muslim se-Indonesia dari segala penjuru setahun silam, alhamdulillah ghirah ‘bela agama dan bela Al Qur’an” tetap menyisakan gema yakni di’viral’kannya GSB di berbagai pelosok kota dan desa.

Dampak ini pun terasa di lingkungan keluarga. Anak lelaki saya yang berusia 7 tahun, biasanya agak susah dibangunkan untuk shalat Subuh on time, tapi sejak ada GSB ia sedikit demi sedikit mulai terbiasa menghirup udara pagi menembus hawa dingin menuju Masjid bersama ayahnya. Sebulan pertama tepatnya mulai pertengahan Desember 2016, GSB dilakukan seminggu sekali setiap hari Minggu saja. Biasanya diikuti ceramah dan sarapan bersama para jamaah. Namun kemudian secara perlahan  mulai dibiasakan di hari lain. Ya, namanya anak-anak pada awalnya memang  ada acara bujuk membujuk dulu kadang diikuti wajah ngambek. Itu hal normal. Tapi jangan kuatir, sesuatu hal yang ‘terpaksa’ di awal bisa menjadi biasa setelah dilakukan berulang.

Kuncinya lakukan pembiasaan dengan sewajarnya saja. Mungkin tips  GSB untuk anak terutama pada usia yang memang diperintahkan untuh shalat yakni 7 tahun berikut bisa menjadi pertimbangan.

  1. Biasakan anak-anak tidur tak terlalu malam ( jam 21.00 atau maksimal 21.30 lah) setelah melewati aktivitas belajar di rumah atau bercengkerama dengan keluarga. Begadang atau terlalu malam tidur bisa membuat ia berat untuk bangun lebih awal yakni jam 04.00
  2. Jika dia benar-benar tak mau berangkat ke masjid jangan dipaksa, berikan alternatif yakni melaksanakan shalat subuh di rumah bersama Bundanya atau saudara perempuannya, yang penting saat matanya sudah membuka jangan biarkan ia tertidur kembali apalagi azan subuh sudah menggema.
  3. Lakukan GSB secara bertahap. Mungkin awalnya seminggu sekali kemudian 3 hari sekali, hingga ia bisa dengan kesadaran sendiri melakukannya setiap hari. Tetap lakukan komunikasi dengan ananda secara nyaman.
  4. Suling, alias subuh keliling tapi tetap dengan memperhatikan jarak. Jika di kampung atau kompleks perumahan ada beberapa masjid, cobalah bergilir melakukan GSB nya agar lebih variatif, berkesan dan tidak bosan.
  5. Benar-benar libatkan sang ayah.  Laki-laki amat diperintahkan shalat berjamaah di masjid.  Ini artinya ayah memiliki peran penting dalam mengajak anak terutama anak lelakinya ke sana. Tumbuhkan kedekatan secara psikologis atau kenyamanan antara ayah dan anak sehingga sang anak bergembira jika diajak ke masjid dan boleh jadi menunggu-nunggu momen itu. Tak hanya di shalat subuh tapi juga shalat lainnya. Agak sulit mengajak anak beraktivitas GSB jika ayah pun enggan beranjak ke masjid.
  6. Libatkan teman-teman bermainnya.  Ajak ramai-ramai berangkat ke masjid dengan janjian sebelumnya. Di kampung dulu biasanya ajakan shalat subuh di mushola dengan cara menyambangi dari pintu ke pintu alias nyamperin.
  7. Jangan lupa beri apresiasi anak jika dia bisa konsisten shalat subuh di masjid tapi tak perlu diberitahu di awal, beri hadiah dadakan agar terkesan kejutan.

Yang jelas dampak super positif dari GSB adalah kebiasaan bangun pagi  dan menyiapkan segala aktivitas waktu pagi lebih nyaman jauh dari buru-buru.  Ke sekolah misalnya lebih segar dan terhindar dari keterlambatan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *